jurnalistik.co.id – Libya kini berhadapan dengan krisis pemadaman listrik berkepanjangan dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melumpuhkan aktivitas harian. Di tengah kebuntuan politik, konflik, dan korupsi yang merajalela, negara ini justru dikenal sebagai pemilik cadangan minyak bumi terbesar di Afrika.
Para ahli dan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai akar masalah krisis energi Libya bersumber dari korupsi, tata kelola pemerintahan yang lemah, serta kurangnya pemeliharaan pembangkit listrik selama bertahun-tahun. Kombinasi persoalan itu membuat suplai energi tidak mampu mengikuti kebutuhan warga, terutama saat suhu meningkat di puncak musim panas.
Libya memiliki sekitar 48 miliar barel cadangan minyak terbukti dan mampu memproduksi sekitar 1,5 juta barel per hari, dengan target peningkatan hingga 2 juta barel per hari. Namun, negara ini hanya menghasilkan sepertiga dari kebutuhan bahan bakar domestiknya, sehingga tahun lalu terpaksa mengimpor bahan bakar senilai US$ 7,8 miliar (Rp 138,06 triliun).
Saat udara di beberapa bagian mendekati 50 derajat Celcius, warga menghadapi kesulitan untuk mendinginkan rumah dan menjaga kelangsungan usaha. Kondisi ini terasa langsung dalam kebutuhan pendinginan rumah tangga maupun stabilitas pasokan barang, termasuk produk yang bergantung pada listrik.
Peralatan rusak, ekonomi harian ikut terpukul
Penduduk Tripoli, Slimane Fitouri, mengeluhkan rusaknya dua lemari es serta produk susu yang basi akibat ketiadaan listrik. Ia juga menyebut beban biaya makin berat ketika sumber daya energi praktis berhenti bekerja sebagaimana mestinya.
“Saya tidak tahu berapa lama saya bisa bertahan,” ujar Fitouri. “Ini sangat mahal dan melipatgandakan kerugian,” tambahnya, sambil menjelaskan bahwa ia terpaksa menyalakan generator yang harganya melambung tinggi akibat lonjakan permintaan dan juga membutuhkan sangat banyak bahan bakar.
Pekerja kementerian kesehatan, Abderrahmane Souissi, menyoroti masalah lain: generator menjadi mahal, sementara bahan bakar untuk mengoperasikannya tidak tersedia. “Harganya sangat tinggi dan bahan bakar untuk mengoperasikannya tidak tersedia. Ini membuat Anda kebingungan ketika Anda tinggal di negara yang kaya sumber daya,” paparnya.
Souissi juga menggambarkan dampak langsung pada keluarga. “Saya punya empat anak, dan istri saya memaksa saya membeli generator karena mereka tidak bisa tidur karena panas dan kelembapan tinggi. Seluruh stok makanan beku kami membusuk,” ungkapnya.
Berita Terkait
Antrean panjang di stasiun pengisian
Di lapangan, antrean panjang kendaraan terlihat mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar di wilayah barat dan tengah Libya. Seorang pengendara, Abdeslam Zarti, menceritakan penderitaan yang harus ditanggung warga setiap kali mencari BBM.
“Enam jam atau lebih, dengan mobil-mobil berbaris di depan stasiun untuk jarak yang terkadang mencapai empat kilometer,” kata Zarti. Cerita itu menunjukkan bahwa krisis bukan hanya menyangkut ketersediaan, tetapi juga efisiensi waktu warga dalam mendapatkan akses bahan bakar.
Peneliti hubungan internasional, Bechir Jouini, menilai krisis ini makin rumit karena diperparah praktik penyelundupan minyak ke luar negeri serta kegagalan implementasi program pemeliharaan pembangkit listrik. Ia secara eksplisit menyalahkan salah urus dan korupsi anggaran di sektor energi.
“Libya memiliki sumber daya dan dana, tetapi menderita tata kelola yang buruk dan korupsi merajalela… meskipun ada alokasi anggaran yang besar untuk perusahaan listrik,” tegas Jouini. Pernyataan itu menegaskan adanya jarak antara potensi ekonomi energi dan hasil nyata di layanan publik.
Dampak institusional dan kerentanan pasokan
Utusan PBB untuk Libya, Hanna Tetteh, turut mengaitkan krisis energi dengan kegagalan institusional yang lebih luas. Ia menyebut pemadaman listrik yang meluas telah mengekspos konsekuensi dari fragmentasi kelembagaan, pengalihan sumber daya publik skala besar, serta kurangnya investasi.
“Kontradiksinya adalah hal ini terjadi di negara yang tidak kekurangan sumber daya energi dan memiliki deposit minyak bumi terbesar di benua Afrika,” pungkas Tetteh. Kontras tersebut, menurut Tetteh, menjadi bukti bahwa persoalan utama bukan semata soal sumber energi, melainkan cara pengelolaan dan pemenuhan kebutuhan.
Situasi keamanan energi Libya juga memburuk setelah awal bulan ini sebuah reservoir utama yang berisi sekitar 4,5 juta liter bensin menjadi sasaran beberapa serangan pesawat tak berawak di Zawiya. Wilayah yang terletak 45 kilometer barat Tripoli itu selama bertahun-tahun menjadi sarang konflik bersenjata antarkelompok, sekaligus titik pusat penyelundupan bahan bakar, obat-obatan, serta migran.












