Hukum & Kriminal

Usai Diminta Menghadap Prabowo, Irjen Dadang Hartanto Ditunjuk sebagai Kapolda Metro Jaya

×

Usai Diminta Menghadap Prabowo, Irjen Dadang Hartanto Ditunjuk sebagai Kapolda Metro Jaya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Irjen Dadang Hartanto Pernah Diminta Menghadap Prabowo, Kini Ditunjuk Menjadi Kapolda Metro Jaya

jurnalistik.co.id – JAKARTA—Irjen Pol Dadang Hartanto resmi ditunjuk sebagai Kapolda Metro Jaya. Penugasan itu ditetapkan oleh Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto melalui dokumen telegram resmi.

Penunjukan Dadang Hartanto tertuang dalam Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026 yang ditetapkan pada Jumat (2/10/2026). Dalam surat tersebut, jabatan Kapolda Metro Jaya yang sebelumnya diisi Komjen Asep Edi Suheri dialihkan kepada Irjen Dadang Hartanto.

Dadang Hartanto sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Maluku. Setelah pergantian ini, ia memimpin pelaksanaan tugas di tingkat Polda Metro Jaya sebagai bagian dari rangkaian mutasi di lingkungan Polri.

Dalam informasi yang beredar, Dadang Hartanto juga disebut pernah diminta menghadap Prabowo. Detail permintaan tersebut tidak dijabarkan lebih lanjut, namun pernyataan ini menjadi bagian dari latar yang disebutkan dalam pemberitaan terkait penugasannya saat ini.

Dadang Hartanto merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1994. Ia juga disebut sebagai teman satu angkatan dengan Kapolri yang melakukan penunjukan, yakni Jenderal Suyudi Ario Seto.

Selain penggantian di posisi Kapolda Metro Jaya, telegram tersebut juga menyertakan pergeseran jabatan pada sejumlah struktur lain. Langkah ini memperlihatkan bahwa penataan ulang di internal Polri dilakukan secara beruntun dalam satu kerangka keputusan.

Salah satu perubahan yang tercatat adalah penetapan Komjen Asep Edi Suheri untuk mengisi jabatan Irwasum Polri. Posisi tersebut sebelumnya ditinggalkan oleh Komjen Wahyu Widada yang kemudian dimutasi untuk menempati peran baru.

Komjen Wahyu Widada disebut dimutasi sebagai Pati Itwasum Polri. Pergeseran penugasan itu dilakukan dalam rangka penugasan pada Kementerian ATR/BPN.

Masih dalam bagian mutasi yang sama, Suyudi juga menggeser posisi Wakapolda Metro Jaya. Sebelumnya jabatan ini diisi oleh Irjen Dekananto Eko Purwono, lalu kini diisi oleh Brigjen Adex Yudiswan.

Adex Yudiswan disebut sebelumnya menjabat sebagai Dirtipidsiber Bareskrim Polri. Dengan perubahan tersebut, ia beralih memegang peran wakil pimpinan di tingkat Polda Metro Jaya.

Penunjukan Dadang Hartanto sekaligus menjadi sinyal adanya penataan kepemimpinan di wilayah kepolisian yang menjadi salah satu pusat aktivitas pemerintahan dan masyarakat. Metro Jaya memiliki peran strategis dalam pengelolaan keamanan dan penegakan hukum di wilayah padat penduduk.

Dalam konteks rangkaian mutasi yang diumumkan, perubahan posisi Kapolda maupun Wakapolda menempatkan Dadang Hartanto dan Adex Yudiswan sebagai figur yang akan menjalankan kebijakan operasional sesuai arahan Kapolri.

Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026 menjadi dasar formal pergeseran jabatan yang disebutkan. Dokumentasi tersebut menegaskan perubahan komposisi pimpinan di Polda Metro Jaya, sekaligus memastikan pengalihan kewenangan berjalan melalui mekanisme resmi.

Di sisi lain, penempatan Asep Edi Suheri sebagai Irwasum Polri membawa konsekuensi lanjutan pada perubahan posisi internal lainnya, termasuk pengisian jabatan yang ditinggalkan oleh Wahyu Widada. Adapun rotasi yang melibatkan penugasan ke Kementerian ATR/BPN menunjukkan penataan tugas yang tidak hanya bersifat struktural di Polri, tetapi juga terkait penugasan lintas lembaga.

Dengan adanya pengaturan tersebut, Polri melakukan pembaruan susunan pimpinan untuk memastikan kesinambungan fungsi pengawasan, pembinaan, dan dukungan strategis. Dadang Hartanto kini memegang jabatan Kapolda Metro Jaya, sementara posisi-posisi yang bergeser diisi oleh perwira yang ditetapkan berdasarkan keputusan telegram tersebut.

Irjen Dadang Hartanto akan menyesuaikan langkah kepemimpinan di lingkungan Polda Metro Jaya dengan berbagai target kerja yang menjadi fokus organisasi. Pergantian ini juga menjadi bagian dari dinamika mutasi yang berlaku pada awal periode penataan personel, sebagaimana tertuang dalam surat keputusan Kapolri.

Penetapan Dadang Hartanto sebagai Kapolda Metro Jaya tidak hanya dipahami sebagai pergantian nama jabatan, melainkan sebagai tindak lanjut administrasi yang mengikat seluruh rantai komando. Di dalam telegram yang disebutkan, perubahan itu dipaparkan dengan penunjukan jabatan secara bertahap, termasuk informasi tentang pejabat yang sebelumnya memegang posisi Kapolda Metro Jaya sebelum dialihkan kepada Irjen Dadang Hartanto.

Rangkaian mutasi yang menyertai penugasan tersebut juga memperlihatkan bagaimana posisi-posisi di lingkungan Polri saling terhubung. Saat Asep Edi Suheri diarahkan untuk mengisi peran Irwasum Polri, serta Wahyu Widada kemudian disebut bergeser ke penugasan lain di tingkat Pati Itwasum, perubahan di level pimpinan menjadi bagian dari penataan ulang yang sama. Dengan begitu, perubahan di satu titik dinilai berpengaruh pada kesinambungan fungsi pengawasan dan pembinaan.

Di tingkat operasional Polda Metro Jaya, perubahan kepemimpinan Wakapolda turut menegaskan adanya susunan baru yang akan menjalankan tugas sesuai arahan Kapolri. Pergantian dari Irjen Dekananto Eko Purwono kepada Brigjen Adex Yudiswan diposisikan sebagai bagian dari pola rotasi yang disebut beriringan dalam satu keputusan telegram. Selanjutnya, penyesuaian peran di internal tersebut diharapkan menjaga kesinambungan kerja, sekaligus memastikan transisi berjalan melalui mekanisme resmi yang telah didokumentasikan.