jurnalistik.co.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai Federal Reserve atau The Fed punya peluang untuk tidak menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan Oktober. Ia mengatakan kecenderungan sikap anggota The Fed mulai menunjukkan pelunakan, sehingga ekspektasi pasar ikut bergeser.
Dalam penilaiannya, perubahan ini tercermin dari proyeksi yang semula sangat condong pada skenario kenaikan. Destry menyoroti bahwa probabilitas yang dipakai pelaku pasar sebelumnya pernah berada di level tinggi, lalu kemudian menurun seiring perkembangan waktu.
Destry menyebutkan bahwa pada saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September, pasar memperkirakan peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga di Oktober sangat besar, yakni sekitar 90%. Namun, setelah memasuki akhir September, arah pandangan tersebut berubah, baik dari sisi asumsi pasar maupun dari sinyal yang datang dari The Fed.
“Saat RDG BI September, kita melihat probabilitas The Fed akan menaikkan suku bunga di Oktober ini sangat tinggi, bisa 90%. Tapi kemudian dalam perkembangan waktu, di September akhir, tiba-tiba pandangan dari The Fed sendiri berubah, dan pasar pun juga melihat sekarang probabilitasnya yang tadinya 90% itu sudah turun,” ucap Destry dalam program Central Banking CNBC Indonesia, seperti dikutip pada Jumat (9/10/2026).
Ia melanjutkan bahwa penurunan ekspektasi tersebut tidak berhenti pada satu angka. Menurut Destry, probabilitas yang sebelumnya berada di kisaran 90% kemudian turun menjadi sekitar 40%, lalu kembali menyusut menjadi kira-kira 30% ketika menilai perkembangan terkini hingga akhir September.
Destry menekankan bahwa bila tren pelonggaran ekspektasi itu tetap konsisten sampai akhir Oktober, maka potensi The Fed untuk menahan suku bunga dinilai sangat besar. Artinya, skenario penundaan kenaikan pada agenda Oktober menjadi semakin mungkin dibandingkan sebelumnya.
Berita Terkait
“Jadi kalau kondisi seperti ini, mungkin Oktober The Fed tidak menaikkan suku bunga acuan, tapi kan nanti masih ada lagi Desember,” katanya. Ia menjelaskan bahwa meski Oktober berpeluang menjadi bulan tanpa kenaikan, pertemuan berikutnya pada Desember tetap menjadi bagian dari dinamika kebijakan lanjutan.
Dalam konteks itu, Destry menegaskan pendekatannya yang tetap bergantung pada data. Ia menyampaikan bahwa keputusan The Fed pada akhirnya akan mengikuti kondisi yang berkembang, baik indikator di AS maupun sinyal kebijakan yang muncul sepanjang periode tersebut.
“Jadi memang itu semua data dependent, tergantung bagaimana kondisi yang ada di sana,” ujar Destry, menekankan bahwa proyeksi pasar hanyalah cerminan skenario berbasis informasi yang terus diperbarui. Karena itu, arah kebijakan tidak bisa dipastikan secara kaku, melainkan mengikuti pembacaan terhadap data yang relevan.
Sementara itu, Destry juga menyatakan BI tidak berhenti pada satu kemungkinan saja. Menurutnya, BI tetap menyiapkan berbagai langkah antisipatif dengan mempertimbangkan beberapa skenario kebijakan dari The Fed, termasuk kemungkinan apabila The Fed kembali memilih kebijakan yang berbeda pada pertemuan setelah Oktober.
Ia menyebut BI tetap forward looking dan telah mengantisipasi respons yang diperlukan jika The Fed kembali menaikkan suku bunga pada rapat berikutnya. Dengan pendekatan demikian, BI berupaya memastikan bahwa kebijakan domestik dapat menyesuaikan perkembangan eksternal tanpa mengorbankan tujuan utama.
Destry menegaskan bahwa BI menjalankan mandat yang menekankan dua hal sekaligus. Selain menjaga stabilitas, BI juga perlu menciptakan iklim ekonomi yang kondusif agar aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan lebih terarah di tengah perubahan kondisi global.
“Tapi intinya kami, apapun kebijakan yang akan dilakukan oleh The Fed, tentunya kami sudah punya berbagai alternatif kebijakan yang akan kita lakukan, karena BI, sesuai dengan mandat yang diterima terakhir, bahwa kita juga memang selain stabilitas, kita juga harus bisa menciptakan iklim ekonomi yang kondusif,” tutur Destry.












