Otomotif

AISI Matangkan Flexi Engine, Motor Berpeluang Pakai BBM E20

×

AISI Matangkan Flexi Engine, Motor Berpeluang Pakai BBM E20

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: AISI Siapkan Flexi Engine, Motor Bisa Pakai BBM E20

jurnalistik.co.id – Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) tengah menyiapkan teknologi mesin yang memungkinkan motor bensin memakai bahan bakar dengan campuran etanol lebih tinggi, termasuk BBM beretanaol E20.

Langkah ini diposisikan sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan efisiensi kendaraan sekaligus menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Melalui teknologi yang sedang dikembangkan, mesin diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan karakter campuran etanol yang berbeda.

Salah satu fokus pengembangan AISI adalah flexi engine. Teknologi ini dirancang agar motor bensin bisa beradaptasi dengan kadar etanol yang lebih tinggi dibanding standar yang selama ini umum digunakan.

Menurut Sekretaris Jenderal AISI, Hari Budianto, sepeda motor saat ini sudah dapat menggunakan bahan bakar dengan campuran etanol 10 persen atau E10 tanpa memerlukan modifikasi. Artinya, proses transisi ke konsentrasi etanol yang lebih besar tidak dimulai dari nol, tetapi tetap memerlukan penyesuaian bertahap untuk target berikutnya.

Hari menyebut industri menargetkan penggunaan E20 atau bahan bakar dengan kandungan etanol 20 persen pada 2030. Target tersebut menuntut persiapan yang lebih awal, karena peningkatan konsentrasi etanol akan memengaruhi banyak aspek sistem kendaraan.

Penyesuaian bahan bakar dengan etanol konsentrasi lebih tinggi tidak semata-mata persoalan mengganti jenis bahan bakar. Sejumlah komponen yang bersentuhan langsung dengan bahan bakar juga perlu disesuaikan agar tetap berfungsi dengan baik pada kondisi campuran baru.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah material plastik pada sistem bahan bakar. Hari menjelaskan material berbahan plastik tersebut harus memiliki ketahanan terhadap karakteristik etanol agar tidak mudah mengalami perubahan atau kerusakan.

Hari menambahkan, proses penyesuaian material kendaraan untuk menghadapi kadar etanol yang lebih tinggi membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Dengan durasi tersebut, persiapan menuju penggunaan E20 perlu dilakukan sejak jauh hari, meliputi pengembangan komponen dan pengujian kendaraan.

Strategi penguatan komponen ini juga dipandang perlu karena pengembangan bahan bakar berbasis etanol akan berjalan beriringan dengan pengembangan mesin yang semakin efisien. Kombinasi keduanya diharapkan menghasilkan manfaat yang lebih besar dibanding jika hanya mengejar satu sisi saja.

Dalam penjelasannya, Hari menempatkan flexi engine sebagai teknologi yang memberikan fleksibilitas penggunaan bensin dengan kadar etanol berbeda. Semakin tinggi kandungan etanol, semakin besar pula kebutuhan penyesuaian pada sistem bahan bakar dan komponen kendaraan.

Hari mengatakan kombinasi pengembangan mesin yang lebih efisien dengan penggunaan bahan bakar berbasis etanol dapat memberikan penghematan yang lebih besar. Ia menuturkan penghitungan tersebut dalam sebuah diskusi BIG Industrial Insight (20/8/2026), dengan kutipan sebagai berikut: β€œKalau (penghematan konsumsi BBM) 50 persen tadi ditambah dengan flexi engine, yang tadi E20 di 2030, kita sudah bisa menghemat 50 persen + 20 persen, 70 persen buat penghematan bahan bakar,” ujar Hari.

Teknologi flexi engine, menurut Hari, sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru di industri sepeda motor global. Di sejumlah pasar, konsep flex fuel telah dikembangkan untuk mengakomodasi penggunaan campuran etanol tinggi.

Honda, misalnya, memperkenalkan motor flex fuel pertama di dunia melalui Honda CG 150 Titan Mix di Brasil pada 2006. Setelah itu, teknologi serupa kemudian dikembangkan pada model seperti Honda CB300F Flex-Fuel dan Honda ADV160 Flex-Fuel di India yang dapat menggunakan campuran etanol hingga E85 atau 85 persen etanol.

Meski contoh penerapan sudah ada di luar negeri, teknologi tersebut belum dipasarkan secara massal di Indonesia. Penerapannya masih bergantung pada kesiapan kebijakan energi, ketersediaan bahan bakar bioetanol, serta infrastruktur pendukung di Tanah Air.

Untuk memperlihatkan dinamika harga BBM non subsidi yang turut memengaruhi perencanaan pengguna, artikel ini juga menyinggung penyesuaian harga BBM non subsidi yang berlaku mulai 1 Maret 2026. Saat itu, Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga Pertamax (RON 92) dari Rp11.800 per liter menjadi Rp12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) dari Rp12.450 per liter menjadi Rp12.900 per liter, Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter.

Selain itu, Dexlite mengalami penyesuaian dari Rp13.250 per liter menjadi Rp14.200 per liter, sedangkan Pertamina Dex berubah dari Rp13.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter. Rangkaian angka tersebut menunjukkan bahwa faktor ekonomi bahan bakar akan tetap menjadi pertimbangan penting di tengah transisi menuju campuran etanol yang lebih tinggi.

Dengan kerangka pengembangan flexi engine, AISI menekankan bahwa kesiapan bahan bakar dan kesiapan kendaraan harus bergerak bersama. Target E20 pada 2030 menjadi acuan, sementara penyesuaian material seperti ketahanan plastik pada sistem bahan bakar dan kebutuhan waktu sekitar dua tahun menunjukkan bahwa persiapan tidak bisa dilakukan mendekati tanggal implementasi.

Pada akhirnya, langkah AISI diarahkan untuk memastikan motor bensin mampu memanfaatkan campuran etanol yang lebih tinggi dengan tetap menjaga performa dan keandalan sistem. Pada saat yang sama, pengembangan mesin yang lebih efisien dan fleksibilitas teknologi diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap efisiensi konsumsi bahan bakar.