jurnalistik.co.id – Mitos bahwa kebiasaan minum air es dapat membuat tubuh menjadi lebih gemuk terus beredar di masyarakat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) membantah anggapan tersebut dengan penjelasan yang menekankan perbedaan antara air es dan minuman manis.
BGS menyampaikan bahwa es pada dasarnya merupakan air putih yang tidak mengandung kalori. Karena itu, konsumsi air es dinilai tidak otomatis menyebabkan pertambahan berat badan meski diminum dalam jumlah banyak.
Dalam unggahannya di akun Instagram resmi @bgsadikin, Budi menegaskan, “Es ini kan air murni. Kalian minum satu galon aja gak bakal bikin gemuk, karena nol kalori,” sebagaimana ia sampaikan dalam laman iInstagram resminya, @bgsadikin, dikutip Minggu, (11/10/2026).
Budi juga mengarahkan perhatian publik pada jenis minuman yang benar-benar berpotensi memicu kenaikan berat badan. Menurutnya, minuman dingin yang dapat menyebabkan masalah berat badan justru yang mengandung tambahan gula, bukan air esnya.
Ia menyebut contoh minuman manis seperti es kopi susu, es sirup, dan berbagai minuman manis lainnya sebagai kelompok yang perlu diwaspadai. Dalam penjelasan itu, kandungan gula dipaparkan dapat diserap tubuh dan berpotensi disimpan sebagai lemak ketika asupan energi masuk dalam kondisi berlebih.
Konsumsi gula berlebihan, lanjut BGS, juga disebut dapat meningkatkan risiko diabetes. Karena itu, masyarakat diminta lebih memperhatikan kandungan minuman yang dikonsumsi setiap hari.
Selain meluruskan mitos soal air es, Budi menekankan bahwa air es juga merupakan pilihan minuman yang murah dan sehat. Ia mengajak publik tidak lagi menganggap air es sebagai penyebab kegemukan, sambil tetap mewaspadai gula pada minuman manis.
Di sisi lain, BGS mengingatkan pentingnya pemenuhan kebutuhan cairan harian agar fungsi tubuh berjalan baik. Mengacu pada laman resmi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, tubuh manusia membutuhkan sekitar 1,5 liter hingga 2,5 liter air mineral setiap hari.
Berita Terkait
Meski demikian, kebutuhan air setiap orang dapat berbeda, dipengaruhi kondisi tubuh serta aktivitas yang dilakukan. Pada konteks ini, suhu air tidak diposisikan sebagai faktor utama, melainkan kecukupan cairan harian yang tetap perlu dijaga.
Air dingin juga disebut memiliki manfaat dalam membantu menjaga suhu tubuh ketika berolahraga. Penjelasan tersebut merujuk pada sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of the International Society of Sports Nutrition.
Studi itu membandingkan konsumsi air bersuhu ruang dengan air dingin selama latihan. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang minum air dingin mampu mempertahankan penurunan suhu inti tubuh 50% lebih lama dibandingkan kelompok yang mengonsumsi air bersuhu ruang.
Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa konsumsi air dingin dapat membantu menunda peningkatan suhu inti tubuh secara signifikan selama berolahraga. Dengan temuan ini, air dingin dapat menjadi salah satu opsi untuk membantu menjaga kondisi tubuh ketika melakukan aktivitas fisik.
Selain kaitannya dengan olahraga, air es juga disebut bermanfaat menghadapi cuaca panas ekstrem. Dalam penjelasan yang disampaikan, air es turut dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan kulit serta meringankan rasa sakit.
Meski berbagai manfaat disebutkan, poin terpenting tetap pada pemenuhan kebutuhan cairan harian. Dehidrasi dapat terjadi bila asupan air terlalu sedikit, karena tubuh kehilangan cairan dan mengalami gangguan akibat kurangnya asupan tersebut.
Karena itu, masyarakat disarankan untuk menjaga konsumsi air putih sesuai kebutuhan masing-masing. Pada saat yang sama, publik perlu menghindari asupan yang terlalu sedikit maupun berlebihan, sekaligus lebih berhati-hati terhadap minuman yang mengandung gula.
Dengan begitu, persoalan berat badan tidak ditempatkan pada suhu air es semata, melainkan pada komposisi minuman yang dikonsumsi. Air es diposisikan sebagai pilihan yang tidak mengandung kalori, sementara fokus kewaspadaan diarahkan pada kandungan gula dalam minuman manis.












