Pendidikan

Wagub Idah Syahidah Dorong Museum Purbakala Jadi Pusat Edukasi dan Pelestarian Budaya

×

Wagub Idah Syahidah Dorong Museum Purbakala Jadi Pusat Edukasi dan Pelestarian Budaya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wagub Idah Dorong Museum Jadi Pusat Edukasi dan Pelestarian Budaya

jurnalistik.co.id – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, mendorong pengembangan Museum Purbakala agar berfungsi sebagai pusat edukasi sekaligus pelestarian budaya yang mampu mendekatkan sejarah kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Hal itu disampaikan Idah saat membuka Workshop Edukasi Museum dalam rangka peringatan Hari Museum Nasional ke-64 tingkat Provinsi Gorontalo. Kegiatan berlangsung di Gedung Museum Purbakala pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Menurut Idah, museum tidak semata-mata menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. Lebih dari itu, museum diharapkan hadir sebagai ruang untuk memahami identitas, perjalanan sejarah, serta nilai budaya yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Ia menekankan perlunya penguatan peran museum agar dapat mendukung berbagai kebutuhan publik: dari pendidikan dan penelitian, hingga rekreasi, kreativitas, dan interaksi yang aktif dengan komunitas. Idah juga menilai museum seharusnya tidak berhenti sebagai fasilitas pasif, melainkan menjadi tempat belajar yang terus bergerak.

“Museum harus menjadi ruang yang hidup, bukan hanya tempat menyimpan benda bersejarah. Di museum, kita dapat mengenal jati diri, memahami perjalanan sejarah, serta menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah kepada generasi muda,” ujar Idah.

Idah menegaskan Pemerintah Provinsi Gorontalo berkomitmen untuk memajukan kebudayaan daerah. Namun, ia menyebut upaya tersebut membutuhkan kerja sama dan sinergi lintas pihak, mulai dari pemerintah, pengelola museum, sekolah, akademisi, komunitas, dunia usaha, hingga seluruh elemen masyarakat.

Ia berharap workshop tidak hanya menjadi agenda seremonial, melainkan menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Harapannya mencakup peningkatan kunjungan museum, pengembangan program edukasi, penguatan kemitraan dengan sekolah, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperbaiki layanan museum.

Dalam kesempatan yang sama, Idah menyampaikan bahwa gagasan dan inovasi perlu terus lahir dalam pemanfaatan koleksi museum sebagai media pembelajaran. Ia juga menekankan kolaborasi sebagai kunci agar museum semakin dikenal, dikunjungi, dan dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pengetahuan sekaligus sarana pelestarian budaya.

“Saya berharap workshop ini dapat melahirkan gagasan dan inovasi dalam pemanfaatan koleksi museum sebagai media pembelajaran. Dengan kolaborasi yang kuat, museum dapat semakin dikenal, dikunjungi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pengetahuan sekaligus sarana pelestarian budaya,” ungkapnya.

Pada momen tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo turut menyerahkan sertifikat penghargaan Budaya Takbenda “Bahasa Suwawa” dari Kementerian Pendidikan RI. Selain itu, diserahkan pula sertifikat dari Kementerian Kebudayaan RI yang menetapkan Bahasa Suwawa sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Penetapan itu disebut sebagai bentuk pengakuan atas kekayaan bahasa daerah, sekaligus menegaskan pentingnya upaya pelestarian warisan budaya Gorontalo. Dengan pengakuan tersebut, berbagai upaya pelindungan dan penguatan terhadap budaya lokal diharapkan semakin mendapat perhatian.

Rangkaian kegiatan peringatan

Perayaan Hari Museum Nasional ke-46 tingkat Provinsi Gorontalo tahun ini menghadirkan empat rangkaian kegiatan utama, yakni sosialisasi museum, pameran temporer, workshop edukasi museum, serta peluncuran layanan interaktif berbasis augmented reality (AR). Melalui rangkaian tersebut, museum diarahkan agar lebih dekat dengan kebutuhan belajar masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo, Sudarman Samad beserta jajaran. Turut hadir Kepala UPTD Museum Purbakala, perwakilan kepala sekolah tingkat SMA/SMK sederajat, serta perwakilan siswa-siswi se-Provinsi Gorontalo.

Melalui peluncuran layanan interaktif berbasis augmented reality (AR), museum juga diarahkan agar pengunjung memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik. Interaksi semacam ini diharapkan memudahkan masyarakat memahami konteks koleksi, sehingga pengetahuan yang disampaikan tidak berhenti pada penjelasan satu arah.

Idah menegaskan bahwa rangkaian kegiatan tersebut semestinya ditindaklanjuti dengan langkah yang nyata dan berkelanjutan. Dengan melibatkan pemerintah, pengelola museum, sekolah, akademisi, komunitas, dunia usaha, serta unsur masyarakat lain, pengembangan program edukasi dapat disusun lebih terarah, sekaligus memastikan layanan museum makin relevan dengan kebutuhan publik dari waktu ke waktu.