jurnalistik.co.id – Chief Executive Officer Broadcom Inc., Hock Tan, menyoroti derasnya arus investasi di industri kecerdasan buatan (AI) dengan nada yang cenderung meragukan kualitas pemahaman pelakunya. Menurut Tan, sebagian investor bergerak cepat, tetapi belum tentu benar-benar memahami apa yang mereka pertaruhkan.
Dalam pandangannya, guncangan terbesar bukan hanya datang dari besarnya modal yang mengalir, melainkan dari ketidakcocokan antara ekspektasi yang dibangun dan realitas yang dihadapi di lapangan. Tan juga menekankan bahwa ketidakpastian ini terasa semakin nyata ketika perusahaan-perusahaan berlomba menanamkan dana pada teknologi yang ramai dibicarakan, namun belum tentu dipahami secara mendalam.
Tan, yang dikenal merancang sejumlah komponen penting untuk pembangunan pusat data global, menyampaikan penilaiannya secara blak-blakan dalam sebuah acara di Singapura. Di forum itu, ia mengkritik kecenderungan investasi yang terlalu bersemangat, sekaligus mempertanyakan apakah banyak inisiatif AI benar-benar memiliki pijakan ekonomi yang kuat dalam jangka panjang.
Ia menyorot langkah perusahaan yang tampak membuang uang untuk berbagai inisiatif AI, terutama ketika menilai kelayakan yang lebih luas. Kritiknya mengarah pada laboratorium-laboratorium AI yang, dalam pengamatannya, masih merugi, sehingga kelangsungan dan urgensinya tidak bisa dianggap otomatis pasti.
LLM dan batas-batas teknologi yang sering disalahpahami
Tan menyatakan bahwa ia tidak sekadar menilai investasi AI secara umum, melainkan fokus pada “terburu-burunya” penempatan dana pada teknologi yang banyak orang salah pahami. Dalam penjelasannya, perhatian khusus tertuju pada model bahasa besar atau large language model (LLM), yang digambarkan sebagai bagian dari garis terdepan teknologi.
Berita Terkait
Ia melihat ada pola yang berulang: investasi bergerak lebih cepat daripada pemahaman, sementara kesiapan dan ketepatan asumsi bisnis ikut tertinggal. Dengan cara pandang tersebut, Tan menempatkan diskusi pada pertanyaan mendasar—apakah investasi yang sedang dikejar benar-benar selaras dengan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi, terutama jika entitas yang mengembangkan teknologi masih menanggung kerugian.
Pernyataan Tan kemudian mengerucut pada perilaku investor yang, menurutnya, sering kali tidak dibangun di atas pengetahuan yang memadai. “Banyak investor tidak tahu apa yang mereka investasikan,” kata pimpinan perusahaan chip Amerika itu dalam sebuah acara di Singapura.
Menurut Tan, masalah tidak berhenti pada kurangnya pemahaman. Investor juga cenderung menetapkan gambaran hasil yang terlalu jauh dari kenyataan. Ia menambahkan, “menetapkan ekspektasi yang sangat ekstrem, hanya untuk menyadari bahwa situasinya hampir seperti berada di kasino.”
Garis besar pesan tersebut adalah adanya kontras antara sikap optimistis yang ditanamkan sejak awal dan kesadaran yang muncul ketika proses berjalan dan hasil yang diharapkan tidak langsung terwujud. Perbandingan “kasino” yang ia gunakan menandakan bahwa pola pengambilan keputusan yang terlalu mengandalkan harapan dapat menyerupai permainan peluang, bukan strategi berbasis fondasi yang jelas.
Dalam konteks tersebut, Tan juga menyiratkan bahwa hiruk-pikuk di industri tidak otomatis berarti keputusan yang lebih rasional. Saat sebuah teknologi menjadi pusat perhatian, investasi dapat terdorong oleh momentum, bukan oleh kesiapan rencana jangka panjang yang konsisten. Ia memandang situasi itu sebagai pemicu ketimpangan antara tingkat ekspektasi dan kesiapan ekosistem untuk menanggung konsekuensi ekonomi.
Dengan latar perannya di perusahaan semikonduktor dan keterlibatannya dalam pembangunan infrastruktur pusat data, Tan membawa sudut pandang yang lebih dekat pada fondasi teknis sekaligus pertimbangan biaya. Namun, kritiknya tetap menuju pada aspek bisnis: kelayakan ekonomi jangka panjang dari upaya AI yang terus berkembang, termasuk laboratorium AI yang—dalam penilaiannya—beroperasi dalam kondisi merugi.
Pada akhirnya, pesan dari Hock Tan bukan sekadar penolakan terhadap AI, melainkan peringatan agar investasi tidak terjebak pada persepsi yang dangkal. Ia menggarisbawahi bahwa ketika pemahaman kurang, ekspektasi yang dibentuk terlalu ekstrem, dan konsekuensi ekonomi tidak dikalkulasi secara matang, keputusan investasi dapat bergerak seperti taruhan yang nyaris menyerupai permainan kasino.












