jurnalistik.co.id – Investasi pusat data di Asia tengah menguat seiring arus modal yang terus mengalir ke infrastruktur komputasi. Namun, CEO Jardine Matheson Holdings, Lincoln Pan, mengingatkan bahwa ekspansi tersebut tetap dibayangi risiko politik, khususnya terkait kebijakan data AS.
Pan menyampaikan pandangannya dalam acara Milken Asia Summit di Singapura pada hari Jumat. Ia menilai, sejumlah investasi bernilai miliaran dolar kini menggantungkan banyak rencana pada kemampuan operasional raksasa teknologi Amerika Serikat yang beroperasi secara global.
Menurutnya, potensi gangguan bisa muncul karena sikap Washington yang semakin tak terduga terhadap China. Dalam konteks itulah, risiko politik menjadi perhatian utama bagi pelaku usaha yang terpapar pada perputaran bisnis lintas negara.
“Risiko yang paling kami khawatirkan saat ini sebenarnya adalah risiko politik,” kata Lincoln Pan, CEO Jardine Matheson Holdings Ltd., dalam acara Milken Asia Summit di Singapura pada hari Jumat. “Saat Anda melihat perdebatan mengenai AS dan Tiongkok serta taruhan besar yang dilakukan banyak orang di sektor ini, terutama seputar pusat data dan model bahasa besar berbasis AI yang berasal dari AS, ini merupakan taruhan yang sangat terkonsentrasi pada stabilitas kebijakan data AS.”
Pernyataan Pan menempatkan fokus pada tingkat konsentrasi ketergantungan terhadap stabilitas kebijakan data dari AS. Ia menilai, banyak taruhan besar yang dibangun di sektor pusat data dan model bahasa besar berbasis AI berasal dari ekosistem teknologi AS, sehingga dampak perubahan kebijakan dapat merambat lebih cepat ke aktivitas investasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, raksasa ekuitas swasta telah ikut memperbesar eksposur mereka pada pusat data di kawasan Asia. Blackstone Inc. dan KKR & Co. termasuk yang disebut telah menggelontorkan miliaran dolar ke aset-aset infrastruktur tersebut.
Berita Terkait
Langkah itu mencerminkan keyakinan bahwa pertumbuhan pesat AI dan komputasi awan akan mendorong permintaan kapasitas komputasi dalam jangka waktu panjang. Penempatan modal yang dilakukan berbagai pihak menunjukkan adanya dorongan pasar untuk memperluas kapasitas pengolahan data.
Di balik optimisme tersebut, Pan menekankan bahwa ukuran pertumbuhan tidak berdiri sendiri dari faktor kebijakan. Perdebatan antara AS dan Tiongkok, serta “taruhan besar” yang banyak orang bangun di sektor terkait, dipandangnya sebagai elemen yang membuat risiko tetap terbuka.
Ia juga mengaitkan kekhawatiran pada kelanjutan stabilitas kebijakan data AS, yang menurutnya menjadi titik tumpu bagi banyak skema investasi. Dengan kata lain, harapan terhadap permintaan jangka panjang tetap berjalan, tetapi terikat pada asumsi stabilitas rezim kebijakan yang relevan.
Dari sisi pasar modal, arus investasi yang masuk ke pusat data biasanya ditopang oleh perkembangan teknologi dan kebutuhan komputasi untuk mendukung layanan berbasis AI. Karena itu, kapital yang masuk dalam skala besar ikut memperhitungkan prospek pertumbuhan permintaan kapasitas komputasi selama bertahun-tahun mendatang.
Meski demikian, peringatan Pan menunjukkan bahwa keberlanjutan ekspansi infrastruktur juga perlu memerhatikan dinamika politik antarnegeri. Risiko yang ia soroti bukan pada kecepatan perkembangan teknologi semata, melainkan pada ketidakpastian politik yang dapat memengaruhi cara kebijakan data diterapkan.
“Risiko yang paling kami khawatirkan saat ini sebenarnya adalah risiko politik,” kembali menjadi ringkasan posisi Pan terhadap kondisi yang dihadapinya. Ia menilai, ketika stabilitas kebijakan data AS menjadi bagian dari rantai ketergantungan, maka volatilitas politik dapat menjadi gangguan yang lebih luas.
Dengan demikian, menguatnya investasi pusat data di Asia dapat dipahami sebagai tren pertumbuhan berbasis AI dan komputasi awan, sekaligus sebagai proyek yang tetap sensitif terhadap keputusan kebijakan. Pandangan Lincoln Pan menutup pembahasan dengan menegaskan bahwa taruhan besar yang terkonsentrasi pada stabilitas kebijakan data AS tetap menjadi faktor penentu yang patut diperhatikan.












