Teknologi

Mengapa mobil listrik bisa bikin sebagian penumpang mabuk perjalanan? Dr Nicholas Hac: “I’ve heard about it many, many, many times”

×

Mengapa mobil listrik bisa bikin sebagian penumpang mabuk perjalanan? Dr Nicholas Hac: “I’ve heard about it many, many, many times”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why electric cars might be making some passengers feel sick

jurnalistik.co.id – Sejumlah penumpang mengaku merasa sangat tidak enak badan saat berada di dalam mobil listrik. Kasusnya beragam, tetapi benang merah yang sering muncul adalah keluhan mual, pusing, hingga muntah selama perjalanan.

Lola Baird, perempuan usia 24 tahun dari London utara, merasakan perubahan sejak pacarnya membeli kendaraan listrik dua tahun lalu. Awalnya, ia tidak pernah mengalami mabuk perjalanan, namun setelah memakai mobil listrik, ia menjadi mudah merasa “overwhelmed” dan mual ketika perjalanan berlangsung lama.

Ia mengatakan, setelah sekitar empat puluh menit dalam perjalanan, mualnya begitu kuat sampai ia tidak bisa menahan diri untuk muntah. Peristiwa itu bahkan terjadi saat berada di pinggir tanah dekat mobil, tepat setelah pacarnya menghentikan kendaraan.

Yang membuat cerita Lola menonjol adalah fakta bahwa ia meminta perubahan. Ia bahkan sempat meminta pacarnya mengganti mobil, karena keluhan yang dialaminya dinilai makin berat pada rute-rute panjang.

Laporan serupa, tapi tidak dialami semua orang

Menurut pengakuan yang dihimpun BBC News, keluhan seperti ini tidak hanya dialami Lola. Beberapa orang menyampaikan bahwa mereka—atau anak-anak mereka—lebih mudah merasa mabuk perjalanan ketika duduk sebagai penumpang di mobil listrik.

Namun, tidak semua pemilik kendaraan listrik merasakan masalah yang sama. Banyak pengemudi justru mengatakan hal tersebut bukan menjadi perhatian dalam penggunaan sehari-hari, sementara sebagian lain melaporkan bahwa mereka merasa lebih sedikit mual dibanding saat berada di mobil konvensional bermesin pembakaran.

Vicky Edmonds, CEO EVA England, menyebut bahwa mabuk perjalanan bukan isu yang pernah muncul di kalangan anggotanya. “This has never come up as an issue,” katanya, merujuk pada pengalaman komunitas pengemudi kendaraan listrik.

Di sisi lain, Dr Nicholas Hac, seorang ahli saraf di Northwestern Medicine di Chicago yang fokus pada pusing dan vertigo, mengatakan ia juga mendengar keluhan serupa dari pasien. Ia mengaku, “I’ve heard about it many, many, many times,” dan menyebut sekitar dua pasien per bulan menyinggung bahwa mereka merasa mabuk perjalanan saat berada di mobil listrik.

Meski demikian, sejumlah akademisi mengingatkan bahwa bukti ilmiah untuk memastikan kaitan langsung masih berkembang. Dr Bill Yates, yang meneliti mabuk perjalanan di University of Pittsburgh, mengatakan tubuh riset saat ini “pretty sketchy at this point”, serta menyebut baru sedikit studi serius yang benar-benar mendalam.

Pengalaman pengemudi: bukan hanya soal durasi

Mark Quigg, pria usia 45 tahun dari Lincolnshire, menggambarkan alasan memilih kendaraan listrik sebagai pertimbangan biaya operasional yang lebih rendah. Ia menyebut mobil listrik barunya “wonderful” untuk dikendarai, dan menggambarkan pengalaman berkendara yang terasa lebih menyenangkan serta jauh lebih tenang.

Namun, ia segera menyadari perubahan pada putrinya yang berusia sembilan tahun. Mark mengatakan, saat mereka berkendara sekitar 600 mil menuju Prancis pada liburan sekolah, putrinya biasanya hanya sesekali mengalami mabuk perjalanan. Setelah menggunakan mobil listrik, ia menilai keluhan putrinya menjadi jauh lebih parah.

Ia bahkan menuturkan bahwa kini perjalanan singkat, hanya sekitar 30 menit menuju kota terdekat, sudah membuat putrinya merasa tidak enak. Pada salah satu perjalanan, putrinya sampai muntah, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Kasus Mark menambah gambaran bahwa keluhan tidak selalu bergantung pada perjalanan panjang saja. Cerita ini juga memperlihatkan bagaimana kenyamanan bagi pengemudi tidak otomatis berarti pengalaman yang sama bagi penumpang.

Apa yang menyebabkan mabuk perjalanan di mobil listrik?

Dr Nicholas Hac menjelaskan bahwa mabuk perjalanan disebabkan oleh “a mismatch in sensory cues”, atau ketidaksesuaian sinyal dari indra. Tubuh, menurutnya, mengandalkan tiga masukan utama untuk memahami gerakan: apa yang terlihat, apa yang dipersepsikan sistem keseimbangan di telinga bagian dalam, dan apa yang dirasakan oleh serabut di dalam tubuh.

Ketika salah satu masukan tersebut bertentangan dengan yang lain, kondisi seperti mabuk perjalanan bisa muncul. Hac mencontohkan situasi ketika seseorang menatap ponsel sehingga tidak lagi melihat tanda gerak dari luar jendela.

Riset yang lebih awal, menurut Di Giulio, menunjukkan ada indikasi sebagian orang mengalami mabuk perjalanan yang lebih parah di kendaraan listrik dibanding non-listrik. Ia juga menilai, terdapat beberapa alasan yang mungkin menjelaskan perbedaan tersebut.

Salah satunya berkaitan dengan isyarat suara dan getaran. Manusia, kata para ahli, telah beradaptasi untuk mengaitkan suara dengan gerakan kendaraan. Karena mobil listrik tidak menghadirkan tanda auditori dan getaran dari mesin yang biasanya memberi sinyal saat kendaraan berakselerasi, hal itu dapat memicu mabuk perjalanan pada sebagian orang.

Di Giulio juga menyebut faktor lain yaitu regenerative braking. Proses ini terjadi ketika pengemudi melepas pedal akselerator: mobil mulai melambat dan menggunakan energi untuk mengisi baterai. Akan tetapi, ia menekankan bahwa proses tersebut perlu berlangsung halus saat pedal dilepas dengan lembut, karena pelepasan yang kasar dapat berujung pada perlambatan yang terasa keras.

“It forces the person to perhaps feel like they’re rocking back and forth for that brief moment when the speed of the car suddenly changes,” kata Hac. Menurut penjelasannya, perubahan kecepatan yang tiba-tiba dalam waktu singkat dapat menciptakan sensasi seperti bergoyang maju-mundur.

Carolyn Le, perempuan usia 24 tahun dari California, mengaku merasakan dampak serupa. Ia mengatakan mengalami mabuk perjalanan yang “horrendous” ketika temannya mengajaknya naik mobil listrik di pusat kota yang padat.

Ia menilai regenerative braking membuat sensasi di tubuhnya terus seperti mobil sering berhenti. “The regenerative braking means it ‘constantly feels like the car is stopping all the time’,” ungkapnya.

Selain itu, Di Giulio juga menyoroti bahwa kendaraan listrik bisa berakselerasi dan melambat lebih cepat dibanding mobil berbahan bakar fosil. Ia menyebut karakter ini juga dapat berperan dalam munculnya mabuk perjalanan.

Edmonds dari EVA England menilai perkembangan desain kendaraan listrik membuat akselerasi menjadi lebih terkontrol. Namun ia menambahkan bahwa asosiasi tersebut menduga penyebab mabuk perjalanan di kendaraan listrik mungkin dipengaruhi faktor lain, seperti gaya mengemudi, bukan semata-mata karena kendaraan itu sendiri.

Siapa yang lebih berisiko?

Hac mengatakan tidak semua penumpang memiliki kerentanan yang sama. Ia menyebut faktor genetik memiliki pengaruh terbesar terhadap siapa yang lebih mudah mengalami mabuk perjalanan.

Para ahli juga menyebut bahwa perempuan dan anak-anak cenderung lebih rentan. Prof John Golding, peneliti terkait mabuk perjalanan dari University of Westminster, Royal Navy, dan RAF, menjelaskan puncak keluhan biasanya terjadi pada usia delapan hingga sepuluh tahun, lalu menurun seiring paparan yang semakin sering.

Situasi saat kendaraan listrik semakin umum

Dengan meningkatnya popularitas mobil listrik, menghindari kendaraan listrik bisa menjadi tantangan. Data dari Departemen Transportasi Inggris menunjukkan bahwa jumlah mobil tanpa emisi baru yang terdaftar naik 40.5% pada periode April hingga Juni 2026 dibanding periode yang sama pada 2025.

Di akhir Juni 2026, 5.8% dari seluruh mobil berizin di jalan-jalan Inggris merupakan kendaraan tanpa emisi, menurut data tersebut. Penjualan mobil baru berbahan bakar murni bensin atau diesel juga diproyeksikan dilarang mulai 2030.

Lucinda Harrison, perempuan usia 24 tahun dari London, mengatakan ia kerap memesan taksi yang ternyata ternyata adalah kendaraan listrik. Ia menggambarkan perjalanan tersebut harus ia jalani sambil merasa mual, berkeringat, dan terasa lembap atau “clammy”.

Ia menyatakan rasa takutnya terhadap perjalanan menggunakan mobil listrik datang sebelum perjalanan dimulai. Bahkan, menurutnya, perjalanan singkat lima menit diantar kolega menuju stasiun Tube saja baru-baru ini sudah membuatnya merasa “horrific”.

Langkah yang bisa membantu penumpang

Akademisi menyebut ada beberapa langkah praktis yang dapat membantu mengurangi perasaan mabuk perjalanan. Penglihatan dari luar jendela disarankan, sementara membaca atau menatap layar ponsel tidak dianjurkan selama perjalanan.

Jika memungkinkan, penumpang disarankan duduk di kursi bagian depan, bukan di belakang. Jika terpaksa duduk di belakang, memilih kursi tengah dapat membantu karena penumpang masih dapat melihat ke arah depan.

Untuk menjaga stabilitas sensasi, disarankan menahan kepala pada sandaran kepala. Penumpang juga bisa mencoba merundukkan badan sedikit dengan menyesuaikan posisi kursi agar lebih nyaman, serta mengatur napas selama perjalanan.

Ia juga disarankan membuka jendela agar udara segar masuk. Jika perlu, tablet untuk mabuk perjalanan bisa dipakai, meski obat semacam itu dapat menimbulkan rasa kantuk.

Sebelum perjalanan panjang, pengaturan kondisi tubuh turut dianggap penting. Pengalaman yang disarankan mencakup cukup minum, tidur yang cukup, serta makan makanan yang tidak berminyak.

Golding menambahkan bahwa paparan berulang dapat membantu tubuh menjadi lebih terbiasa. Semakin sering seseorang melakukan perjalanan di kendaraan listrik, semakin kecil kemungkinan mabuk perjalanan muncul karena tubuh menyesuaikan diri.

Upaya dari pihak otomotif dan respons industri

Prof Cyriel Diels, profesor desain mobilitas di Royal College of Art, menyebut ada langkah yang dapat dilakukan pabrikan untuk mengurangi keluhan. Di antaranya, memasang perangkat lunak yang membuat akselerasi cepat menjadi lebih halus.

Ia juga menilai penambahan sistem suara dan getaran kursi yang halus dapat membantu penumpang memahami bahwa mobil sedang bergerak. Selain itu, penggunaan regenerative braking adaptif yang mampu mengurangi perlambatan mendadak juga disebut sebagai pendekatan yang relevan.

Matt Adams dari BEAMA, organisasi yang mewakili produsen titik pengisian kendaraan listrik di Inggris, menyatakan keyakinannya bahwa riset lanjutan dapat mengidentifikasi alasan utama mabuk perjalanan. Ia menuturkan, “if future research identifies the reason for car sickness that vehicle manufacturers can respond and improve accordingly”.

Sementara itu, bagi Lola, solusi yang paling ia harapkan sangat sederhana. Ia hanya ingin pacarnya menukar mobil tersebut, karena menurutnya hari itu tidak bisa datang terlalu cepat.

Di sisi lain, XPeng—produsen kendaraan listrik asal Tiongkok yang memiliki gerai di Inggris—pernah membahas isu ini secara publik. Perusahaan itu menyebut, masalah yang dialami penumpang adalah “a fair question, and it’s not your imagination”, serta mengaitkannya dengan “side effects of how electric cars are engineered”.

Dengan berbagai penjelasan yang masih dalam tahap awal, gambaran yang muncul adalah adanya faktor fisiologis dan karakter sistem berkendara yang mungkin saling berinteraksi. Untuk sebagian orang, perubahan ini membuat perjalanan terasa sangat tidak nyaman, sementara bagi yang lain, mobil listrik justru tidak menimbulkan masalah.