jurnalistik.co.id – Annisa Bahar menanggapi santai tudingan yang menyebut dirinya hidup dalam kemewahan ketika putrinya, Jelita Bahar, justru berjualan risol di pinggir jalan. Ia menegaskan, keputusan Jelita berjualan bukan lahir dari tekanan ekonomi, melainkan pilihan pribadi untuk mengisi waktu dan belajar mandiri.
Perbincangan soal itu mencuat setelah Jelita mulai berjualan risol sejak Ramadan tahun ini. Dagangannya sempat dijual seharga Rp 5.000 per biji, dan jenisnya cukup beragam, mulai dari risol mayo, risol telur, hingga risol matcha. Aktivitas tersebut kemudian memunculkan komentar miring yang diarahkan kepada Annisa.
“Ada yang komen, mamanya hedon, anaknya jualan risol. Ya memang kenapa?” ucap Annisa di Pagi Pagi Ambyar.
Annisa menjelaskan bahwa Jelita bukan lagi anak kecil yang masih bergantung penuh pada orangtua. Menurut dia, sang putri sudah berstatus menikah dan memiliki dua anak, sehingga pilihan untuk berjualan risol tidak bisa disederhanakan sebagai bentuk kesulitan ekonomi semata.
“Ini anak bukan anak kecil. Jelita sudah punya dua anak, sudah punya suami,” ucap Annisa.
Ia menambahkan, berjualan risol dilakukan Jelita untuk mencari kesibukan sekaligus melatih kemandirian. Annisa melihat langkah itu sebagai upaya positif dari putrinya untuk tetap aktif, terutama setelah Jelita vakum dari dunia hiburan karena anxiety.
“Dia buat kesenangan diri dia sendiri aja sih sebenarnya, belajar mandiri,” ucap Annisa.
Annisa juga menegaskan bahwa sebagai orangtua, dirinya sudah berusaha semaksimal mungkin membantu kebutuhan Jelita dan cucu-cucunya. Ia menyebut bantuan itu tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga tanggung jawab atas kebutuhan rumah dan pendidikan anak-anak Jelita.
“Saya sebagai orangtua sudah sangat maksimal untuk bisa membantu,” kata Annisa.
“Dengan dia rumah enggak bayar, kan aku yang bikinin rumah. Sekolah anak-anaknya sampai kuliah, semua aku yang bayar,” jelasnya.
Di sisi lain, Annisa mengaku kerap membeli dagangan Jelita untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang yang lewat. Hal itu menjadi salah satu bentuk dukungannya terhadap usaha kecil yang dijalankan sang putri, sekaligus menunjukkan bahwa ia tidak menutup mata terhadap aktivitas berjualan tersebut.
Jelita sendiri diketahui mulai berjualan risol di dekat rumahnya. Pilihannya untuk turun langsung berdagang disebut sebagai cara mengisi waktu selama bulan puasa, ketika ia merasa lebih baik melakukan sesuatu yang produktif daripada diam saja di rumah.
“Karena cari kesibukan, kemarin mikir daripada enggak ngapa-ngapain bulan puasa, lebih baik dagang aja lah,” ucap Jelita di FYP.
Kisah Jelita berjualan risol pun menjadi perhatian karena dilakukan di tengah sorotan publik terhadap keluarga Annisa Bahar. Namun dari penjelasan Annisa, langkah itu bukan cerminan kekurangan, melainkan bentuk kemandirian yang dijalani anaknya sendiri.
Bagi Annisa, selama dirinya masih bisa membantu, ia akan tetap berada di belakang putrinya. Ia pun memilih merespons komentar miring dengan tenang, sambil menegaskan bahwa apa yang dilakukan Jelita merupakan keputusan pribadi yang sudah dipikirkan sendiri.
Jelita berjualan risol di pinggir jalan dengan beberapa pilihan rasa, dan Annisa memastikan bahwa aktivitas itu bukan hal yang perlu dipersoalkan berlebihan. Yang terpenting, menurut Annisa, putrinya tetap menjalani hari dengan kegiatan yang membuatnya merasa lebih baik, lebih sibuk, dan lebih mandiri.
Perbincangan soal itu mencuat setelah Jelita mulai berjualan risol sejak Ramadan tahun ini. Dagangannya sempat dijual seharga Rp 5.000 per biji, dan jenisnya cukup beragam, mulai dari risol mayo, risol telur, hingga risol matcha. Aktivitas tersebut kemudian memunculkan komentar miring yang diarahkan kepada Annisa.






