jurnalistik.co.id – Klaim pemerintah bahwa swasembada pangan telah terwujud belum dibarengi kinerja sektor pertanian yang memadai. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai, angka pertumbuhan sektor itu masih menunjukkan perlambatan dibanding target yang diharapkan.
Dalam diskusi publik yang digelar secara online pada Sabtu (15/8/2026), Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Abra Tallatov, menyoroti adanya ketimpangan antara narasi kebijakan dan capaian ekonomi sektoral. Ia menyatakan, “Di tengah ambisi besar pemerintah terhadap swasembada pangan dan energi, ternyata masih tersimpan angka pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) sektor pertanian yang belum optimal.”
Abra menyebutkan, sampai kuartal II 2026, pertumbuhan sektor pertanian hanya sekitar 3,8 persen. Menurutnya, dalam rentang 10 tahun terakhir, pertumbuhan sektor pertanian juga sangat jarang menembus level lima persen.
Menurut Abra, cara pandang kebijakan pertanian tidak boleh berhenti pada komoditas utama seperti beras atau padi. Pemerintah perlu mendorong penguatan pada bagian-bagian lain dalam ekosistem pertanian, termasuk sektor non-pangan, agar pertumbuhan yang diharapkan lebih konsisten.
Ia menegaskan urgensi pergeseran fokus melalui pandangan bahwa sektor pertanian memiliki posisi strategis dalam struktur ekonomi. Abra berkata, “Karena sektor pertanian menjadi kontributor terbesar kedua setelah industri pengolahan, maka jika pemerintah ingin quick wins menembus pertumbuhan ekonomi enam persen industri pengolahannya harus dioptimalkan, kedua industri pertanian, dan ketiga sektor perdagangan.”
Dengan kerangka itu, Abra menilai pemerintah perlu menata langkah yang lebih terukur, bukan hanya mengandalkan hasil pada komoditas tertentu. Fokus kebijakan seharusnya memperhatikan keterkaitan lintas sektor yang sama-sama memengaruhi pergerakan PDB.
Berita Terkait
Abra juga menggarisbawahi kebutuhan target yang lebih realistis terhadap arah pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyampaikan bahwa pemerintah perlu mengerahkan perhatian pada tiga sampai lima sektor terbesar sebagai penyumbang utama PDB Indonesia bila ingin target pertumbuhan ekonomi enam persen dapat tercapai.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 sebesar enam persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding target pertumbuhan pada APBN yang berada di kisaran 5,4 persen.
Di sisi lain, pemerintah mengklaim Indonesia sudah swasembada delapan jenis komoditas pangan. Komoditas yang disebut mencakup beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Namun, penilaian INDEF menempatkan capaian swasembada sebagai isu yang perlu disandingkan dengan performa pertumbuhan sektor. “Swasembada” dalam klaim kebijakan dinilai belum otomatis berbanding lurus dengan kinerja pertumbuhan PDB sektor pertanian, yang justru berada pada angka sekitar 3,8 persen hingga kuartal II 2026.
INDEF memandang, keberhasilan di level produksi komoditas tidak cukup dijadikan satu-satunya tolok ukur tanpa menilai bagaimana sektor pertanian bergerak sebagai bagian dari keseluruhan perekonomian. Dalam penilaian itu, klaim swasembada perlu “dibaca bersama” dengan indikator pertumbuhan sektor agar tidak muncul jarak antara narasi kebijakan dan realitas angka ekonomi.
Abra menilai pemerintah perlu memperjelas arah intervensi agar kebijakan tidak berhenti pada komoditas utama, melainkan juga memperkuat elemen ekosistem yang ikut menentukan kinerja sektor pertanian. Ketika fokus diperluas, pemerintah diharapkan dapat menjaga konsistensi pertumbuhan yang pada akhirnya berpengaruh pada pergerakan PDB sektor.
Ia juga menekankan bahwa langkah perbaikan seharusnya disusun dengan mempertimbangkan peran pertanian dalam struktur ekonomi nasional. Karena sektor pertanian berada di posisi penting setelah industri pengolahan, penguatan sektor ini diposisikan sebagai bagian dari strategi lebih luas untuk membantu pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah, terutama bila target 2027 yang ditargetkan enam persen ingin dikejar dari sisi kinerja sektor penyumbang PDB.












