jurnalistik.co.id – BPBD Provinsi Lampung melaporkan bahwa 56 titik panas (hotspot) terdeteksi di seluruh kabupaten. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada ketersediaan air dan mengganggu aktivitas pertanian di wilayah terdampak.
Kepala BPBD Provinsi Lampung, Rudy Syawal Sugiarto, menyampaikan bahwa temuan tersebut berasal dari pantauan pada Sabtu (8/8/2026). Dari total 56 titik panas, sebanyak 43 titik masuk kategori rendah dan 13 titik kategori sedang.
Menurut Rudy, titik panas dengan kategori rendah terpantau paling banyak berada di Way Kanan. Ia menegaskan, “Titik panas kategori rendah terpantau paling banyak terdapat di Way Kanan, yakni 11 titik,” kata Rudy, Senin (10/8/2026).
Untuk kategori sedang, sebarannya disebut terdapat di beberapa wilayah. Rudy menyebut Mesuji memiliki empat titik, sedangkan Tulang Bawang dan Way Kanan masing-masing tiga titik.
Rudy juga menyampaikan bahwa pantauan satelit NASA menunjukkan hampir seluruh wilayah di Lampung mengalami kekeringan dan karhutla. Temuan itu menguatkan kekhawatiran bahwa musim kemarau dapat memperbesar risiko gangguan lingkungan dan aktivitas ekonomi berbasis lahan.
Dalam upaya mitigasi, BPBD menyatakan telah berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG. Langkah yang dikerjakan diarahkan untuk mengupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan sebagai bagian dari strategi penanganan di lapangan.
Rudy menjelaskan fokus intervensi diarahkan pada wilayah yang menjadi pusat kegiatan pertanian. Ia mengatakan, “Khususnya di wilayah-wilayah sentra pertanian. Hujan buatan masih memungkinkan karena masih ada awan di langit Lampung,” kata dia.
Selain skema hujan buatan, Lampung juga akan menerima dukungan sarana untuk penanganan dampak kekeringan. BPBD menyebut akan ada bantuan mobil tangki air bersih, sumur bor, serta pompanisasi.
Langkah pencegahan karhutla dan imbauan kepolisian
Berita Terkait
Di sisi lain, Polda Lampung mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan ini disampaikan sebagai upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan agar tidak meluas di tengah kondisi yang cenderung kering.
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Yuni Iswandari, menekankan risiko yang dapat muncul dari praktik pembakaran. Ia menyampaikan, “Diharapkan masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan di area kering,” kata Yuni.
Yuni juga mengingatkan agar warga tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. Warga diminta segera melapor apabila menemukan titik api untuk mempercepat respons penanganan di lokasi.
Ia menambahkan, berdasarkan laporan BMKG, musim kemarau tahun 2026 berlangsung lebih panjang dan lebih kering pada sejumlah wilayah, termasuk Lampung. Dengan karakter itu, pemerintah dan aparat menganggap pencegahan perlu dilakukan lebih awal agar tidak memperparah situasi di lapangan.
Menurut keterangan tersebut, kondisi kemarau yang lebih panjang dapat meningkatkan risiko kekurangan air bersih. Selain itu, kekeringan juga berpotensi menimbulkan gangguan terhadap pertanian, serta memicu cuaca panas yang memperbesar peluang terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Dengan sebaran hotspot yang telah teridentifikasi, berbagai pihak diarahkan untuk menjalankan langkah mitigasi secara terkoordinasi. Fokus pada pencegahan karhutla, dukungan pengairan, serta upaya modifikasi cuaca menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi pertanian di Lampung.
Hasil pemantauan BPBD itu menunjukkan bahwa titik panas yang terdeteksi memiliki komposisi berbeda, dengan mayoritas berada pada kategori rendah dan sisanya masuk kategori sedang. Penyebaran tersebut memperkuat kekhawatiran adanya gangguan terhadap ketersediaan air, sekaligus berpotensi mengganggu keberlangsungan kegiatan pertanian di kabupaten-kabupaten terdampak.
Temuan satelit NASA yang menggambarkan hampir seluruh wilayah Lampung mengalami kekeringan dan karhutla turut menjadi dasar bagi langkah pencegahan yang disiapkan lebih awal. BPBD menyebut koordinasi dengan BNPB dan BMKG dilakukan untuk menyiapkan skema operasi modifikasi cuaca, termasuk intervensi yang diprioritaskan pada sentra pertanian agar upaya mitigasi sejalan dengan kebutuhan lapangan.
Di sisi lain, Polda Lampung mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan membakar dan menghindari tindakan yang dapat memicu api, seperti membuang puntung rokok di area yang kering. Masyarakat juga diminta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan serta segera melapor apabila menemukan titik api supaya penanganan bisa dilakukan lebih cepat, sembari pemerintah menyiapkan dukungan sarana seperti mobil tangki air bersih, sumur bor, dan pompanisasi.












