jurnalistik.co.id – Sebuah misi arkeologi Spanyol-Mesir menemukan makam berusia sekitar 4.000 tahun di Saqqara, tepatnya di Nekropolis Bubasteion yang berada sebelah barat daya Kairo. Penemuan itu menarik perhatian karena di dalamnya ada struktur “pintu gaib” yang kerap dikaitkan dengan konsep alam baka dalam kepercayaan Mesir Kuno.
Penggalian tersebut dipimpin ahli Egiptologi asal Spanyol, Josep Cervelló. Makam yang ditemukan berasal dari akhir Dinasti Kelima pada masa Kerajaan Lama Mesir, periode 2494–2345 SM, dan diyakini berasal dari lingkungan pemakaman kuno yang menjadi pusat penting kajian arkeologi.
Berdasarkan pahatan hieroglif di dinding, kompleks pemakaman ini dipastikan milik pejabat tinggi bernama Sakhnetio-Btah (Sekhentyu-Ptah). Salah satu bagian inskripsi menyebutnya sebagai “penjaga rahasia raja”, sebuah gelar yang memberi petunjuk kuat tentang posisi sosial dan peran administratifnya.
Kendati terdengar seperti unsur fiksi, para ahli menjelaskan bahwa gelar tersebut tidak merujuk pada penjagaan harta karun tersembunyi. “Penjaga rahasia raja” justru menggambarkan jabatan elit yang bertanggung jawab mengelola dokumen serta dekrit rahasia kerajaan atas nama sang firaun.
Selain perannya sebagai penjaga rahasia raja, Sakhnetio-Btah juga tercatat memegang beberapa posisi strategis lain dalam sistem pemerintahan. Ia disebut sebagai bendahara atau pengawas istana kerajaan (royal chamberlain), sekaligus pendeta untuk Dewi Maat, dan juga pengawas perpustakaan agung kerajaan.
“Pintu tiruan” sebagai ambang dunia hidup dan alam baka
Kompleks makam megah itu mencakup sisa-sisa kapel pemakaman serta struktur false door (pintu tiruan) berupa ceruk simbolis. Dalam tradisi kepercayaan Mesir Kuno, pintu tiruan dipahami sebagai ambang batas magis atau “portal” yang menghubungkan dunia orang hidup dengan alam baka.
Menariknya, para arkeolog menemukan berbagai perlengkapan ritual pemakaman yang masih tertata di posisi aslinya. Di antaranya terdapat meja persembahan, batu pemujaan, hingga bejana penyucian, yang memberi gambaran autentik mengenai praktik pemakaman kaum bangsawan pada era Kerajaan Lama.
Jaringan sumur pemakaman dan perlengkapan ritual
Berita Terkait
Penggalian juga menyingkap jaringan sumur pemakaman (burial shafts) yang saling terhubung di sekitar area makam. Di dalamnya tersimpan banyak kerangka manusia serta tumpukan cartonnage pemakaman berhias, yang menunjukkan penyiapan jenazah secara sistematis sesuai tradisi pada masa tersebut.
Cartonnage adalah lapisan pelindung mumi menyerupai papier-mâché berwarna-warni. Lapisan itu dihiasi lukisan dewa-dewi Mesir, aksara hieroglif, serta simbol-simbol pelindung arwah dalam perjalanan menuju akhirat.
Tim peneliti juga mendapati lebih dari 100 patung ushabti—patung pelayan yang diyakini akan melayani arwah majikannya di alam baka. Temuan ini memperlihatkan keyakinan bahwa kehidupan setelah kematian memerlukan kesinambungan peran dan kebutuhan, sesuai tata cara pemakaman yang berlaku.
Sarkofagus utuh dan artefak pendukung
Temuan paling spektakuler lainnya adalah tiga peti batu (sarkofagus) dalam kondisi tertutup rapat dan masih tersegel utuh di lokasi aslinya. Sejumlah artefak pendukung turut ditemukan, termasuk patung elang dari kayu, berbagai bejana tembikar kuno, serta peninggalan bernilai sejarah tinggi yang ikut terangkat dari kompleks pemakaman.
Meskipun investigasi awal menunjukkan ada beberapa bagian makam yang sempat dijarah oleh pencuri pada zaman kuno, sebagian besar harta peninggalan tetap selamat dan berada dalam kondisi yang luar biasa baik. Kondisi ini memberi peluang besar bagi peneliti untuk menelaah lebih rinci susunan ritual dan dinamika praktik pemakaman pada masa Kerajaan Lama.
Berkenaan dengan penentuan identitas pemilik makam, Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menyampaikan bahwa, “Inskripsi hieroglif ini membantu menentukan nama pemilik pemakaman dan deretan gelarnya, termasuk penjaga rahasia kerajaan, yang mencerminkan tingginya kedudukan yang ia pegang dalam sistem administrasi negara kuno tersebut.” Pernyataan itu menegaskan bahwa inskripsi berperan sebagai kunci interpretasi hierarki jabatan di dunia administrasi Mesir Kuno.
Peneliti berharap temuan ini dapat membuka tabir baru mengenai dinamika sejarah serta pemanfaatan ulang situs makam dari masa ke masa. Saqqara sendiri memang dikenal sebagai kompleks pemakaman kuno yang terus melahirkan temuan baru, mulai dari bangunan batu tertua di dunia seperti Piramida Bertingkat Djoser yang dibangun sekitar 4.700 tahun lalu, hingga berbagai penemuan yang dalam beberapa tahun terakhir memperkaya pemahaman tentang peradaban Mesir Kuno.
Dalam periode-periode terakhir, wilayah ini juga memunculkan sejumlah temuan sensasional—mulai dari puluhan mumi utuh, kompleks bengkel mumifikasi, hingga ruang bawah tanah penuh patung kuno. Rentetan penemuan tersebut memperlihatkan bahwa Saqqara masih menyimpan lapisan sejarah yang dapat ditelusuri melalui riset arkeologi yang semakin rinci dan metodis.






