jurnalistik.co.id – Neha Bora dikenal sebagai figur muda yang menolak bergeming di tengah ketidakpuasan yang kian mengeras dalam politik India.
Perempuan berusia 29 tahun ini dikenal sebagai aktris teater sekaligus mahasiswa doktoral, yang kini memegang posisi presiden nasional All India Students’ Association (AISA).
Dalam beberapa waktu terakhir, namanya mencuat karena perannya sebagai wajah protes dari kalangan muda—mengkritik pemerintah dengan sejumlah isu yang dipandang langsung menyentuh kehidupan publik.
Ia menyasar persoalan pengangguran, kebocoran soal ujian, hingga dugaan penyimpangan dalam daftar pemilih. Bagi para pendukungnya, rangkaian kritik itu bukan sekadar wacana, melainkan pemantik agar aksi kolektif tak berhenti di satu titik.
Dari Teater ke Ruang Publik
Aktivisme Bora tidak datang dari ruang kosong. Kesadaran politiknya tumbuh dari dunia teater, tempat ia belajar menempatkan diri pada sudut pandang orang lain—termasuk ketika pandangan mereka bertentangan dengan dirinya.
Seiring waktu, empati yang ia bangun dari panggung berubah menjadi bentuk perjuangan yang lebih terbuka dan konfrontatif.
Pidato-pidatonya dibangun dengan nada yang tegas, sementara kritiknya diarahkan langsung kepada pihak penguasa. Penahanan yang berulang kali oleh polisi justru tidak memutus langkahnya untuk kembali turun ke jalan.
Dengan latar sebagai pemimpin organisasi mahasiswa berhaluan kiri, AISA, Bora kemudian menempatkan gerakan protes sebagai ruang untuk menekan pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi.
Dalam konteks itulah, isu yang ia angkat—mulai dari pengangguran hingga dugaan kecurangan pemilu—diposisikan sebagai masalah yang dianggap serius oleh banyak anak muda.
Ditahan Saat Demonstrasi di New Delhi
Menurut laporan Reuters, Bora termasuk di antara sejumlah aktivis yang ditahan di New Delhi pada hari Sabtu, 10 Oktober.
Penahanan itu terjadi ketika berlangsung demonstrasi yang diorganisir gerakan Cockroach Janta Party yang dipimpin kaum muda.
Meski berada dalam tahanan, Bora tetap menyampaikan pesan kepada para pendukungnya lewat video yang beredar daring.
Dalam video tersebut, ia menegaskan, “Saya sedang ditahan. Namun, gerakan ini tidak,”.
Berita Terkait
Kalimat itu sekaligus memperlihatkan cara pandangnya terhadap aksi: bahwa hambatan dari aparat tidak otomatis menghapus tujuan gerakan yang sudah dibangun bersama.
Lokasi Aksi Berubah, Bora Tetap Menyuarakan Tuntutan
Rencana demonstrasi hari Sabtu mulanya digelar di Jantar Mantar, lokasi yang dikenal sebagai tempat unjuk rasa publik di New Delhi.
Tetapi ketika polisi mencegah massa untuk mencapai lokasi tersebut, Bora mengusulkan titik kumpul alternatif.
Ia menyatakan bahwa pada hari itu, Dilli Haat menjadi Jantar Mantar, merujuk pada pasar kerajinan populer yang berjarak sekitar 10 kilometer.
Setelah itu, Bora bergerak menuju lokasi yang ditetapkan, sambil meneriakkan yel-yel bersama rekan-rekan pengunjuk rasa lainnya.
Namun, proses menuju lokasi tersebut tetap berujung pada penahanan. Ia kemudian dibebaskan pada hari yang sama.
Desakan Pengunduran Diri Pejabat Pemilu
Dalam aksi yang ia ikuti, para pengunjuk rasa menyuarakan tuntutan pengunduran diri Kepala Komisioner Pemilihan Umum Gyanesh Kumar.
Tuntutan tersebut didasarkan pada tuduhan adanya penyimpangan serius dalam daftar pemilih.
Dengan memusatkan protes pada isu daftar pemilih, Bora dan rekan-rekannya menempatkan persoalan integritas proses pemilu sebagai bagian dari keresahan yang lebih luas terhadap pemerintah.
Di sisi lain, keberanian Bora untuk tetap hadir meski menghadapi risiko penahanan berulang menunjukkan bahwa ia memandang aksi sebagai kelanjutan dari perjuangan yang tak mudah dihentikan.
Bagi pengamat gerakan mahasiswa, kisah Bora juga memperlihatkan bagaimana ruang-ruang ekspresi—seperti teater—dapat menjadi batu loncatan bagi aktivisme yang lebih nyata di jalanan.
Kini, sebagai presiden nasional AISA, Bora terus membawa suara protes kaum muda, menantang penguasa atas pengangguran, kebocoran soal ujian, serta dugaan kecurangan daftar pemilih.
Jejak perannya, termasuk ketika ia menyampaikan pesan singkat saat berada dalam tahanan, memperkuat kesan bahwa baginya gerakan tidak berhenti pada individu—melainkan pada tujuan yang terus diperjuangkan oleh kelompok.









