jurnalistik.co.id – Unit pertama Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Rooppur milik Bangladesh ditargetkan segera tersambung ke jaringan listrik nasional pada akhir November mendatang. Informasi ini disampaikan setelah pengumuman yang dilakukan CEO Rosatom, Aleksey Likhachev, saat berada di Dhaka.
Likhachev menyampaikan rencana tersebut pada Jumat, seusai pertemuannya dengan Menteri Sains dan Teknologi Bangladesh Fakir Mahbub Anam. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas sejumlah isu kunci terkait kelanjutan proyek PLTN tersebut.
Proses pengisian bahan bakar di fasilitas PLTN diketahui telah dimulai sejak April. Dengan langkah awal ini, proyek yang didukung Rusia itu diposisikan sebagai upaya besar untuk memperkuat pasokan energi Bangladesh dalam jangka menengah dan panjang.
Biaya proyek dan dukungan pembiayaan Rusia
PLTN Rooppur saat ini disebut sebagai proyek infrastruktur paling mahal di Bangladesh yang memperoleh dukungan penuh dari Rusia. Pembiayaan dari Moskow berbentuk pinjaman negara sebesar US$ 11,9 miliar atau senilai Rp 211,82 triliun untuk pembangunan pembangkit tersebut.
Secara keseluruhan, proyek ini diperkirakan menelan biaya hingga mencapai US$ 12,8 miliar atau setara Rp 227,84 triliun. Latar dukungan pendanaan ini juga memperlihatkan intensitas kerja sama kedua negara dalam proyek energi berteknologi tinggi.
Dalam kesempatan itu, Likhachev menegaskan bahwa pekerjaan masih berlanjut dan menekankan aspek kolaborasi operasional. Ia mengatakan, “Tentu saja, kami masih memiliki beberapa pekerjaan di sini. Spesialis kami tidak hanya membangun, tetapi berdiri bahu-membahu, bekerja sama dengan operator di Bangladesh untuk memastikan pengoperasian pembangkit yang efektif dan aman.”
Ia juga menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pihak Bangladesh. “Semua keputusan akhir akan dibuat oleh pemerintah Bangladesh, rakyat Bangladesh. Kami menargetkan sekitar akhir November,” pungkasnya.
Lokasi, kapasitas reaktor, dan target pasokan listrik
Berita Terkait
Fasilitas PLTN ini dibangun oleh Komisi Energi Atom Bangladesh dan berlokasi sekitar 160 kilometer dari ibu kota Dhaka. Rooppur dirancang menggunakan dua unit reaktor, dengan masing-masing reaktor memiliki kapasitas sebesar 1.200 megawatt (MW).
Pada April, Anam pernah menyebut unit pertama ditargetkan mulai beroperasi dengan pasokan awal sebesar 300 MW. Rencana bertahap ini dimaksudkan agar pengoperasian awal dapat berjalan sambil memastikan kesiapan sistem dan integrasi operasional.
Dalam kemitraan tersebut, Rusia disebut menyediakan peralatan esensial, bahan bakar nuklir, hingga bantuan teknis permesinan untuk mendukung kelancaran proyek yang dinilai sebagai tonggak bersejarah. Apabila PLTN telah beroperasi penuh, pembangkit ini diproyeksikan mampu memenuhi hingga 12% dari total kebutuhan listrik Bangladesh.
Rangkaian kerja sama diplomatik
Hubungan bilateral yang kuat terkait megaproyek ini juga terlihat dari pertemuan pada Juni lalu. Saat itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bertemu dengan Menteri Luar Negeri Bangladesh Khalilur Rahman, di mana Rahman memuji pembangunan PLTN Rooppur sebagai “monumen kerja sama yang luar biasa” di antara kedua negara.
Sebagai langkah lanjutan, penghubungan unit pertama ke jaringan listrik nasional pada akhir November menjadi penanda progres penting dari tahapan proyek, sekaligus memperkuat fokus implementasi untuk persiapan pengoperasian yang efektif dan aman sesuai pembahasan bersama para pihak.
Langkah awal pengisian bahan bakar yang dimulai sejak April menjadi bagian dari rangkaian proses menuju tahap berikutnya. Tahap lanjutan itu kini diproyeksikan berujung pada penyambungan unit pertama ke jaringan listrik nasional pada akhir November.
Dalam diskusi tersebut, penekanan juga diarahkan pada bagaimana kerja sama operasional dijalankan. Di satu sisi, tim spesialis terlibat untuk mendukung pengoperasian; di sisi lain, pemerintah Bangladesh tetap memegang kendali penuh atas keputusan akhir terkait kelanjutan proyek.
Dengan rancangan dua unit reaktor dan kapasitas masing-masing 1.200 MW, proyek Rooppur yang berjarak sekitar 160 kilometer dari Dhaka dibangun untuk menyediakan pasokan bertahap. Untuk unit pertama, rencana bertahap juga mencakup tahap daya awal sekitar 300 MW, sebelum pada skenario pengoperasian penuh diharapkan berkontribusi hingga 12% kebutuhan listrik Bangladesh.












