Olahraga

Jose Mourinho Kembali ke Real Madrid, Berusia 63 Tahun: Bisakah Ia Mengulang Kejayaan Pertama dan Hadirkan Trofi di Bernabéu?

×

Jose Mourinho Kembali ke Real Madrid, Berusia 63 Tahun: Bisakah Ia Mengulang Kejayaan Pertama dan Hadirkan Trofi di Bernabéu?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jose Mourinho: Will Real Madrid return prove his biggest challenge yet?

jurnalistik.co.id – Jose Mourinho resmi kembali ke Real Madrid, kembali ke Bernabéu setelah 13 tahun sejak berpisah pada 2013. Kini, perhatian tertuju pada satu pertanyaan besar: apakah manajer berusia 63 tahun masih mampu mengangkat lagi prestasi yang pernah ia raih bersama Los Blancos.

Periode kedua ini datang di tengah situasi yang tidak sederhana. Real Madrid menjalani dua musim beruntun tanpa trofi, dan Mourinho ditugaskan untuk memulihkan rasa percaya diri sekaligus mengembalikan daya saing tim.

Kepulangan Mourinho juga memunculkan perdebatan mengenai arah yang sedang dipilih pihak klub. Apakah yang dicari Real Madrid adalah energi dan rekam jejak seorang “Special One”, atau justru sesuatu yang berbeda dari apa yang pernah bekerja pada masa pertamanya.

Sejak meninggalkan Madrid, Mourinho tidak banyak menggumpulkan gelar seperti yang terjadi di era sebelumnya. Ia hanya meraih satu titel setelah fase pertamanya, yakni Premier League bersama Chelsea pada periode keduanya yang terjadi pada 2015. Setelah itu, pengalaman di Manchester United, Tottenham, Roma, Fenerbahce, dan Benfica menghadirkan momen-momen sukses di ajang piala, tetapi juga diwarnai banyak turbulensi.

Eduardo Alvarez, seorang pakar sepak bola Spanyol, menilai keputusan Real Madrid berkaitan dengan keyakinan bahwa ada “pola” yang bisa diulang. Menurutnya, Florentino Perez terinspirasi dari Carlo Ancelotti saat menangani Real Madrid untuk kedua kalinya.

Alvarez menyampaikan: “I think he’s betting on a second stint with Mourinho because Ancelotti was successful during his and it’s a very similar case,” Alvarez told BBC Sport. Ia melanjutkan, “Ancelotti was coaching Everton, probably not at the top of his game anymore, 60 years old and suddenly, when he went to Real Madrid again, it worked out and he won the Champions League.”

Dalam pandangannya, Mourinho bukan tipe pelatih yang “mengambil alih” lewat intensitas taktik semata, melainkan lebih menonjol pada relasi pemain. Ia menilai: “Mourinho falls into the category of Real Madrid not being a manager’s club but being a player’s club. Even though Mourinho is a very prominent manager, the way he manages is not tactically intense, but more player-intense, which is what I believe Florentino needs.”

Namun, tidak semua pihak percaya bahwa apa yang pernah dilakukan Mourinho di Madrid bisa langsung diterapkan ulang begitu saja. Ramon Calderon, mantan presiden Real Madrid yang memimpin klub pada 2006 hingga 2009, mengakui penyambutan terhadap keputusan tersebut, tetapi mengingatkan adanya kebutuhan perubahan.

Calderon menegaskan, “He’s going to need to change the behaviour and the attitude of the players,” seperti yang ia sampaikan kepada BBC Sport. Ia juga mengingat gaya Mourinho pada periode 13 tahun lalu, yang dianggap penuh protagonisme.

Calderon menambahkan: “He showed, when he was at Real 13 years ago, a lot of protagonism. He had many problems with clubs, rivals, referees and was always blaming others for the defeats and not taking the responsibility.” Dari situ, ia menilai Mourinho harus membangun kepercayaan dengan cara yang berbeda.

Menurut Calderon, “I think he has to gain the respect and trust of the players by persuasion, not by imposition. He has to show them that his methods are the best ones for whole team and not have protagonists.” Calderon juga berharap Mourinho bisa menyesuaikan diri: “I hope he can change,” added Calderon. “If he insists on the same mistakes, it will be a problem.”

Catatan sejarah memang menunjukkan bahwa masa pertama Mourinho di Madrid membawa hasil besar. Pada periode tersebut, ia meraih gelar La Liga, Copa del Rey, dan tiga kali berturut-turut mencapai semifinal Liga Champions. Tetapi, jalannya perjalanan juga penuh gesekan: rivalitas yang keras, ketegangan ruang ganti, serta hubungan yang mudah memanas dengan media Spanyol.

Di Portugal, diskusi tentang apakah Mourinho sudah benar-benar berubah juga muncul. Duarte Monteiro, jurnalis sepak bola Portugis yang menilai langsung perjalanan Mourinho bersama Benfica musim terakhir, justru cenderung pada kesimpulan sebaliknya.

Monteiro menyatakan: “Mourinho didn’t change. His character, his personality didn’t change. The problem, I think, for him is that the world changed.” Ia menambahkan penilaiannya tentang perbedaan lingkungan sepak bola masa kini: “The young players today, the journalists and the environment is different and I think there’s not as much openness to embrace him now like maybe there was 20 or 25 years ago, when his character was fresh and new.”

Monteiro menggambarkan gaya sepak bola Benfica musim lalu tidak terlalu menarik: “not very sexy”. Ia menyebut Mourinho cenderung memilih pendekatan konservatif dan menampilkan prioritas yang berbeda antara kompetisi domestik dan Eropa.

Meski demikian, tetap ada momen menonjol, termasuk kemenangan terkenal 4-2 atas Real Madrid pada fase grup Liga Champions. Namun, setelah itu Benfica kemudian kalah pada fase play-off, sehingga hasil akhir tidak sepenuhnya memihak narasi keberhasilan yang stabil.

Monteiro menilai ciri lama Mourinho masih terlihat: “He had two or three moments over the season where he was very publicly aggressive towards a group of players. “Not every player at Benfica was with him last season.”

Sementara itu, pengalaman Mourinho dengan tim-tim besar juga diceritakan melalui perspektif orang yang pernah terlibat langsung. Robert Huth, mantan bek Chelsea, membantu Mourinho meraih gelar Premier League secara beruntun pada 2005 dan 2006. Ia mengingat pertemuan dengan Mourinho dengan dua rasa sekaligus.

Huth mengaku: “I was impressed but a bit scared as well.” Ia menjelaskan bahwa interaksi itu terasa keras: “When I did interact with him, it was very brutal.” Lalu Huth merangkum logikanya: “Looking back now, it was basically: if you don’t perform, you’re gone.”

Meski pendekatannya tegas, Huth menilai itu tetap sesuai bagi pemain muda yang ingin membuktikan diri. Ia menegaskan, “He was very hard but fair, always honest with his communication with you,” serta menambahkan bahwa penjelasan ketika tidak bermain selalu spesifik: “When you weren’t playing, you knew exactly why you weren’t playing.”

Huth juga menyebut sisi yang lebih personal dalam pendekatan Mourinho: “If you had a family problem, or any kind of outside issue that might have an effect on your performance, he was always there for you. He was always a family man. Players developed a really human relationship with him.”

Kekuatan terbesar Mourinho, menurut Huth, adalah kemampuannya membuat satu skuad memiliki tujuan dan cara pandang yang sama. Hal itu menjadi faktor penting ketika Chelsea sukses meraih beberapa titel, termasuk FA Cup dan League Cup.

Huth menyampaikan: “He galvanised the squad,” dan ia menambahkan efeknya pada mental tim: “When you have someone leading like that, you kind of go, ‘Yeah, I’m in’.” Ia juga menilai kualitas latihan dan persiapan Mourinho: “His training was pure quality, his preparation was amazing, the level of detail he brought to the club, his mentality, the coaches he brought in – they were all on the same page.”

Pertanyaan paling sulit untuk Mourinho mungkin justru datang dari karakter ruang ganti Real Madrid yang berisi bintang-bintang kelas dunia. Dalam komposisinya, ada Kylian Mbappe, Vinicius Jr, dan Jude Bellingham di antara nama-nama elite yang disebut menjadi bagian dari tantangan baru.

Calderon ikut menilai bahwa mengelola banyak bintang tidak otomatis mudah. Ia menegaskan, “The dressing room is full of stars, he has a fantastic squad,” tetapi memperingatkan, “But it can be a problem if you don’t manage it properly.”

Untuk Bellingham, Huth cenderung optimistis. Ia mengatakan, “I think Bellingham will absolutely love Jose,” dan menilai, “He will thrive under him.” Namun Huth juga menyampaikan kekhawatiran pada Mbappe dan Vinicius, terutama dalam situasi ketika keadaan tidak sesuai harapan.

Huth menjelaskan kekhawatirannya: “When things don’t go their way, things come out in the Press. I don’t like that kind of thing. “Bellingham is that kind of guy that gives everything each game. Jose loves that.”

Dengan latar cara kerja yang secara tradisional mengandalkan hubungan kuat dengan figur kunci dan menuntut komitmen penuh, Mourinho diharapkan bisa menemukan cara yang tepat untuk menjaga standar tim tanpa memicu gesekan yang berulang.

Menariknya, perjalanan Mourinho selalu terkait dengan kebutuhan untuk membuktikan diri di situasi tertentu. Pada perannya di Porto, ia mengambil alih musim 2001-02 di tengah jalan dan pernah menyatakan akan membuat tim itu menjadi juara pada tahun berikutnya. Ia kemudian meraih trofi Liga Portugal dan UEFA Cup pada 2003, lalu mempertahankan gelar liga serta menjuarai Liga Champions pada musim berikutnya.

Monteiro menekankan bahwa versi Mourinho di Porto sulit direplikasi: “What Mourinho did at Porto was a once-in-a-lifetime job.” Ia menambahkan perbedaan paling mendasar: “The big difference is that back then he needed to prove something. Now I think he only needs to prove something to himself – and sometimes that’s not good for him.”

Di usia 63 tahun, Mourinho dinilai tidak lagi memiliki kebutuhan besar untuk membuktikan reputasinya. Tetapi Real Madrid mungkin menuntut dan membutuhkan pendekatan yang berbeda agar gelar bisa kembali hadir di Bernabéu.

Ujungnya kembali pada kemampuan adaptasi. Yang membuat Mourinho menjadi ikon besar bukan hanya karisma atau kecerdasan taktik, melainkan juga kapasitas untuk menyesuaikan diri dengan situasi. Huth menyebut Mourinho masih memiliki pengetahuan mendalam tentang permainan, namun kini ia harus meyakinkan pemain Real Madrid untuk percaya sepenuhnya—seperti yang pernah terjadi di Porto, Chelsea, dan Inter Milan—dalam upaya meraih kehormatan-kehormatan berikutnya.