jurnalistik.co.id – Romell Glave dan Jeremiah Azu membawa Inggris meraih finis 1-2 pada final nomor 100 meter Kejuaraan Atletik Eropa 2026 di Birmingham.
Kemenangan ini datang dengan suasana yang sepenuhnya berpihak pada tuan rumah di Alexander Stadium, ketika dua sprinter Inggris itu melesat berurutan melintasi garis finis.
Glave menuntaskan perlombaan dengan waktu 10.09 detik, sementara Azu menyusul di belakangnya dengan catatan 10.16 detik untuk memastikan satu-dua bagi tim tuan rumah.
Di saat yang sama, harapan besar Italia sempat terganggu. Lamont Marcell Jacobs, yang menjadi juara bertahan dua kali, harus menarik diri karena cedera ketika lomba memasuki fase krusial.
Situasi tersebut mengubah peta persaingan di paruh lomba, sehingga nama-nama yang sebelumnya dibaca mengarah ke medali mulai bergeser.
Bagi Glave, hasil ini sekaligus menjadi lompatan dari pencapaian sebelumnya di ajang yang sama. Dua tahun lalu di Roma, ia mengamankan medali perunggu 100 meter, tetapi kali ini ia naik ke posisi teratas.
Jeremiah Azu, yang pada 2025 berstatus juara dunia sekaligus juara Eropa di nomor 60 meter indoor, juga menunjukkan peningkatan dibanding torehan dari edisi 2022 saat ia meraih perunggu.
Dengan berada tepat di belakang rekan setimnya saat waktu krusial tiba, Azu akhirnya memastikan medali perak dan menyempurnakan dominasi sprinter Inggris di lintasan.
Owen Ansah melengkapi podium setelah Jacobs terhenti di pertengahan lomba. Sprinter asal Jerman itu menuntaskan balapan dan mengambil tempat ketiga dalam perebutan medali.
Kemenangan Glave berangkat dari momentum sepanjang musim ini. Ia untuk pertama kalinya memecahkan batas 10 detik pada kondisi yang sah untuk merebut gelar juara nasional Inggris pada bulan Juni.
Berita Terkait
Sejak itu, Glave mencatat lompatan konsistensi: ia sudah mencatat lari di bawah 10 detik sebanyak enam kali pada musim ini, baik dalam berbagai kondisi maupun dinamika perlombaan.
Kepercayaan diri itu juga terlihat ketika ia mampu mengalahkan Jacobs di Italia. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu isyarat bahwa Glave siap membawa larinya ke level yang lebih tinggi di kandang sendiri.
Menjelang final, Glave tampak memegang kendali sejak ronde awal. Ia mendominasi semifinal pada malam yang sama, lalu mengeksekusi seluruh rencana balapan dengan tepat saat adu final tiba.
Glave sendiri pernah menunjukkan bakatnya sejak usia muda. Pada 2017, ia tercatat sebagai atlet tercepat berusia 17 tahun di dunia setelah mencatat 10.21 detik.
Namun, perjalanan menuju puncak tidak berjalan mulus. Perkembangannya sempat tersendat oleh sejumlah gangguan cedera, termasuk patah tulang di punggung.
Tahun ini, perubahan yang lebih terarah terlihat pada fokus latihannya. Dasar peningkatan Glave bersumber dari usaha memperketat bagian awal balapan—terutama 40 meter pertama.
Begitu ia berhasil memimpin pada jarak 30 meter, Glave tidak menoleh lagi. Ia terus berlari melewati garis finis sambil merayakan hasil yang, dua tahun lalu masih berwujud perunggu, kini bertransformasi menjadi emas.
Lebih dari sekadar satu final, capaian ini juga menegaskan dominasi sprint Inggris di depan publik sendiri. Hanya 24 jam sebelumnya, Amy Hunt merayakan momen puncak di nomor 100 meter putri, dan kini giliran Glave serta Azu menutup hari dengan kisah serupa di nomor putra.
Ketika Jacobs harus mundur akibat cedera, perlombaan 100 meter itu langsung berubah menjadi panggung bagi skema baru di barisan depan. Pergerakan yang tadinya berpusat pada nama juara bertahan mulai memberi ruang bagi sprinter lain untuk meraih momentum, termasuk Ansah yang akhirnya berada di posisi ketiga setelah fase-fase krusial berlangsung.
Dari sisi Glave, kemenangan ini terasa sebagai rangkaian keputusan yang dibangun sejak jauh hari. Setelah sempat tersendat oleh gangguan cedera—termasuk patah tulang di punggung—arah latihannya terlihat makin tajam, khususnya pada awal lari hingga 40 meter pertama. Begitu ritme terbentuk dan ia sudah memimpin saat 30 meter, fokusnya mengarah penuh ke mempertahankan laju melewati finis, hingga akhirnya hasil yang dua tahun lalu berupa perunggu berubah menjadi emas.












