jurnalistik.co.id – Menjelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-81 pada 17 Agustus 2026, Mina (64) merasakan hari-harinya terasa lebih hampa dari biasanya. Di Kota Tangerang, lapak pedagang bendera musiman yang ia bangun justru belum juga didatangi pembeli.
Mina mengaku sudah lebih dari 10 tahun merantau ke Tangerang setiap akhir Juli untuk berjualan bendera dan perlengkapan perayaan. Pilihannya bukan tanpa alasan: ia datang demi mendapatkan pemasukan, meski pada usia yang tidak lagi muda ia tetap harus bertahan di pinggir jalan.
Ia ditemui di Jalan Kalipasir, Sukasari, Kota Tangerang, pada Selasa (11/8/2026). Saat itu, kondisi lapaknya terlihat sepi tanpa aktivitas pembelian yang berarti.
“Sepi banget ini. Barangnya masih banyak,” kata Mina saat ditemui di lokasi. Keluhan tersebut menggambarkan jeda panjang antara waktu menunggu dan harapan agar transaksi segera terjadi.
Setiap hari, Mina mulai berdagang sejak pukul 05.30 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Menurutnya, ia sudah menjalankan rutinitas itu namun hari-hari yang ia lalui tidak kunjung membuahkan kedatangan pembeli.
“Enggak laku. Ya, ini dari pagi aja belum ngelayanin pembeli,” tutur Mina. Kalimat itu menegaskan bahwa usahanya belum menemukan momentum penjualan sejak ia membuka lapak.
Tekanan yang ia hadapi tidak hanya soal penjualan yang lemah, tetapi juga kebutuhan biaya tetap selama periode berjualan. Mina menyebut ia harus membayar biaya kontrakan sebesar Rp 600.000 per bulan untuk bisa berjualan di Tangerang.
Berita Terkait
Bagi Mina, kondisi tersebut membuat pendapatan harian terasa makin sulit diandalkan. Ia mengatakan penghasilan yang ia dapatkan saat ini kerap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk sekadar makan.
Untuk persiapan perayaan tahun ini, Mina membawa banyak barang dari Cirebon menggunakan truk. Ia menuturkan, biasanya menjelang pertengahan Agustus, sebagian besar dagangannya sudah habis terjual, sehingga sisa barang tidak lagi menumpuk.
Namun, tahun ini tumpukan barang justru masih sangat banyak. Mina mengungkapkan bahwa baru dua pak dagangannya yang berhasil terjual sejak ia mulai berjualan tanggal 25 (Juli 2026). Ia membandingkan situasi tersebut dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun-tahun sebelumnya mah masih lumayan, udah bisa habis 10 pak. Sekarang baru keluar dua pak sejak mulai dagang tanggal 25 (Juli 2026) kemarin. Kalau dagangan mandek begini, kita enggak bisa jalan buat usaha lainnya,” ungkap Mina dengan nada yang terdengar semakin pasrah.
Menurut Mina, lesunya penjualan berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat di tahun ini. Ia menilai banyak warga menunda pembelian pernak-pernik baru untuk perayaan 17 Agustus karena terdesak tingginya biaya pendidikan anak serta kenaikan harga kebutuhan pokok.
Meskipun memahami tantangan itu, Mina tetap memilih bertahan di lokasi hingga mendekati 17 Agustus. Ia berharap ada perubahan mendadak dari situasi di lapangan, terutama dari para pengendara yang melintas dan akhirnya tertarik untuk membeli.
“Pasrah aja. Ntar tahun depan enggak tahu dagang lagi atau enggak kalau keadaannya begini terus,” tutup Mina sambil tersenyum tegar. Ia menyatakan rencana berikutnya setelah perayaan: kembali ke kampung halamannya di Cirebon untuk melanjutkan usahanya berjualan sembako secara eceran.
Di tengah rutinitas menunggu dari pagi hingga sore, keluhan Mina mencerminkan pergulatan pedagang musiman ketika permintaan tidak datang seperti yang diharapkan. Dengan barang yang masih menumpuk dan pembeli yang belum kunjung hadir, ia harus menimbang kembali kemungkinan melanjutkan usaha pada tahun berikutnya jika kondisi serupa terus berlanjut.












