jurnalistik.co.id – Romell Glave dan Jeremiah Azu menutup Kejuaraan Atletik Eropa 2026 di Birmingham dengan pesta nomor 100 meter gaya Inggris. Glave menjadi pemenang setelah finish dalam 10.09 detik, sementara Azu menyusul tepat di belakangnya dengan catatan 10.16 detik untuk melengkapi kemenangan “satu-dua” di depan pendukung tuan rumah.
Kemenangan itu terasa seperti kelanjutan momentum yang sudah lebih dulu muncul di cabang putri. Pada hari yang sama sebelumnya, Amy Hunt sukses meraih emas nomor 100 meter putri, dan 24 jam kemudian giliran cabang putra menghadirkan momen serupa namun dengan dominasi berpasangan.
Glave sendiri membawa Inggris meraih titel Eropa 100 meter untuk pertama kalinya dalam konteks perolehan gelar yang sangat langka. Ia mencatat peningkatan besar dibanding dua tahun lalu, saat meraih perunggu di kejuaraan ini di Roma. Kini, berusia 26 tahun, ia naik kelas menjadi juara setelah tampil memimpin sejak awal dan mengunci kemenangan dengan gaya yang meyakinkan.
Dalam perayaan seusai lomba, Glave sempat mengangkat satu jari ke langit. Ia juga menegaskan pencapaian itu sebagai tonggak penting dengan menyebut bahwa ini adalah dominasi penuh, setelah Inggris berhasil mengunci posisi teratas bersama Azu. Glave menjadi keenam pelari putra Inggris yang menjuarai nomor 100 meter di level Eropa, dan merupakan orang ketiga dalam enam edisi terakhir setelah Zharnel Hughes (2018) serta James Dasaolu (2014).
Bagi Azu, hasil 100 meter di Birmingham menjadi penyempurnaan dari perjalanan yang telah ia bangun menjelang musim ini. Atlet berusia 25 tahun itu tercatat sebagai juara dunia dan Eropa untuk nomor 60 meter indoor pada 2025, lalu datang ke kejuaraan 100 meter dengan target kembali berdiri di podium internasional.
Di final, Azu mengikuti langkah Glave hingga garis finis. Keberhasilan melengkapi “satu-dua” itu membuat penonton di Alexander Stadium larut dalam kegembiraan. Secara lintasan, Azu meningkatkan performanya dibanding edisi 2022, ketika ia mengakhiri balapan di posisi perunggu.
Persaingan di podium tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana bagi pesaing utama. Owen Ansah dari Jerman harus puas menempati posisi ketiga, sementara Lamont Marcell Jacobs dari Italia yang berstatus juara bertahan dua kali harus menghentikan langkahnya akibat cedera saat balapan mencapai titik setengah lintasan.
Glave menggambarkan momen kemenangan ini sebagai sesuatu yang sangat emosional dan sekaligus melegakan. Ia mengatakan bahwa “naik level” dari perunggu pada 2024 menjadi perasaan yang luar biasa, serta menambahkan bahwa target tim sebenarnya adalah meraih posisi satu, dua, dan tiga, tetapi yang didapat justru “satu-dua” yang tetap sama-sama istimewa. Ia juga menuturkan bahwa beberapa hari terakhir sempat naik-turun dari sisi kondisi tubuh, namun ia tetap bisa tampil dan hadir di Birmingham dengan tetap menjaga rencana perlombaan.
Ketika membahas performanya sendiri, Glave menekankan bahwa ini adalah kendali penuh. Ia menyebut bahwa yang terjadi adalah “it is domination”, bahkan sampai pada kalimat “total domination”, merujuk pada bagaimana ia merasa mampu mengendalikan balapan sejak momen awal.
Berita Terkait
Dari sisi perjalanan musim, Glave juga menunjukkan kemajuan yang nyata. Ia memecahkan batas 10 detik untuk pertama kalinya dalam kondisi yang sah untuk merebut gelar nasional pertamanya pada bulan Juni. Sejak itu, ia mencatat lari di bawah 10 detik sebanyak enam kali pada musim ini, termasuk ketika menaklukkan Jacobs yang tengah dalam performa terbaiknya, bahkan saat lomba berlangsung di kandang sendiri Jacobs di Italia.
Kepercayaan diri itu tampak berlanjut pada tahapan sebelum final. Pada semifinal sebelumnya, Glave mendominasi, lalu ketika memasuki final ia mengeksekusi rencana secara tepat pada bagian yang menentukan.
Jejak awal Glave juga menunjukkan potensi besar sejak usia muda. Pada 2017, ia sempat menjadi pelari tercepat berusia 17 tahun di dunia setelah mencatat 10.21 detik. Namun, perkembangannya tidak selalu mulus karena ada gangguan cedera, termasuk patah pada bagian punggung. Meski sempat terhambat, ia berhasil mempertahankan konsistensi dalam latihan selama musim ini dan akhirnya memanen emas yang ia yakini mampu ia raih sejak dua tahun lalu.
Salah satu kunci yang disorot adalah fokus pada bagian awal lari. Glave menekankan ada pendalaman pada fase mempertajam 40 meter pertama. Ia memimpin saat melewati patokan 30 meter dan setelah itu, menurut ceritanya, ia tidak lagi terlihat seperti memberi ruang bagi pesaing untuk menyusul. Ia juga tetap berlari jauh melampaui garis finis sebelum merayakan dengan gestur yang menguatkan gambaran bahwa kemenangan itu ia anggap sebagai hasil kerja yang utuh.
Untuk Azu, musim ini sempat bergerak tidak teratur. Ia selesai di urutan keempat dan kelima pada dua kompetisi besar yang digelar pada musim ini, yaitu World Indoor Championships dan Commonwealth Games. Ia juga mencatat musim terbaik 10.00 detik di Glasgow dua minggu sebelum laga di Birmingham, tetapi catatan itu tidak cukup untuk mengubah nasibnya menjadi emas di kejuaraan yang ia incar.
Azu menyebut tahun ini sebagai periode yang “tough year” dari segi pola balapan. Ia mengatakan bahwa musimnya termasuk paling tidak teratur, dengan konsistensi yang jauh dari stabil. Namun, saat memasuki babak kejuaraan, ia merasa menemukan bentuk terbaiknya karena waktu menurutnya bukan hal yang menentukan pada momen tersebut; yang dicari adalah persaingan untuk mendapatkan medali.
Ia menambahkan bahwa ia ingin menampilkan performa terbaiknya di final dan merasa ia berhasil melakukannya pada hari tersebut. Meski begitu, ia tetap mengakui bahwa nomor 100 meter tidak pernah mudah. Ia menegaskan bahwa ada lebih dari 100 pelari yang semuanya kompetitif, sehingga setiap balapan untuk medali selalu menuntut kesiapan dan ketajaman ekstra.
Di bagian lain cabang yang dipertandingkan pada hari itu, Hannah Nuttall menyelesaikan nomor putri 5.000 meter di posisi kelima. Gelar tetap menjadi milik Nadia Battocletti dari Italia yang berhasil mempertahankan titelnya.
Pada nomor putra 400 meter, Matthew Hudson-Smith memang lolos ke final Rabu, namun ia harus menerima hasil kedua pada balapan babak pemanasan (heat). Ia mengungkapkan bahwa ia sempat “misjudge” jalannya lomba, merasa seolah sudah unggul, lalu menambahkan bahwa ia memperhatikan layar saat lawan mencoba melonjak dalam upaya mengejar. Ia juga menyebut bahwa lawan tersebut tetap mampu meraih personal best, sehingga akhirnya membuat Hudson-Smith menatap final dengan konsekuensi yang tidak ia rencanakan.
Sementara itu, Nadine Visser meraih kemenangan pada nomor 100 meter gawang putri dengan selisih tipis hingga satu per seribu detik. Foto finish diperlukan untuk memisahkan pelari Belanda itu dari Pia Skrzyszowska dari Polandia, menegaskan betapa ketatnya persaingan hingga detik-detik terakhir.












