Peristiwa

Sejarah Tercipta: Ismi Siswi Sekolah Rakyat Lolos Calon Paskibraka Nasional

×

Sejarah Tercipta: Ismi Siswi Sekolah Rakyat Lolos Calon Paskibraka Nasional

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Cetak Sejarah, Siswi Sekolah Rakyat Jadi Calon Paskibraka Nasional

jurnalistik.co.id – Ismi Ulfaida resmi diumumkan sebagai Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang mewakili Provinsi Sulawesi Barat pada 2026. Ia menjadi salah satu dari 76 putra-putri terpilih dari 38 provinsi, sekaligus menorehkan catatan penting bagi Sekolah Rakyat.

Pengumuman tersebut disampaikan secara resmi pada 22 Juni 2026. Perihal ini kemudian disampaikan kembali dalam siaran pers yang diterima Kompas.com pada Sabtu (15/8/2026).

Ismi, panggilan yang digunakan untuk gadis berusia 16 tahun itu, berasal dari Desa Bonra, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia juga dikenal sebagai siswi pertama dari Sekolah Rakyat yang berhasil lolos menjadi Calon Paskibraka.

Dalam pernyataannya, Ismi mengaku kabar ini membawa kebanggaan yang sangat besar. Baginya, pencapaian tersebut bukan sekadar prestasi sekolah, tetapi juga pembuktian bahwa peluang bisa datang dari jalur yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Ini baru pertama kali saya menjadi Paskibra,” ujar Ismi dalam siaran pers tersebut. Ia menuturkan, selama ini ia tidak pernah terpikir untuk berkiprah di tingkat nasional, apalagi menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera.

Ismi tumbuh dalam keterbatasan sebagai anak buruh tani. Sejak awal, fokusnya lebih banyak pada proses belajar dan mengikuti kegiatan yang tersedia di lingkungan sekolah, bukan pada rencana besar yang bersentuhan dengan baris-berbaris tingkat tinggi.

Ia baru mulai mengenal dunia baris-berbaris ketika mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 22 Polewali Mandar. Pada jenjang berikutnya, ia menegaskan bahwa kesempatan untuk terlibat dalam pasukan pengibar bendera tidak pernah hadir dari sekolah sebelumnya.

Ismi bercerita, saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ia tidak pernah menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera di sekolahnya. Karena itu, ketika akhirnya namanya masuk daftar calon, ia merasa perjalanan tersebut terasa seperti bab baru yang datang dengan cepat.

Catatan pertama dari Sekolah Rakyat

Temuan penting yang kemudian melekat pada pencapaiannya adalah status Ismi sebagai siswi pertama dari Sekolah Rakyat yang berhasil lolos hingga tingkat nasional. Hal ini sekaligus mempertegas peran pembinaan di sekolah dalam menyiapkan kemampuan yang selama ini mungkin tidak terlihat dari luar.

Ismi menuturkan bahwa harapannya mulai tumbuh ketika ia memperoleh pendidikan di SRT. Ia tinggal bersama orangtua dan keempat saudaranya dalam rumah semi permanen seluas 74 meter persegi, sehingga setiap kemajuan yang diraih terasa punya bobot tersendiri.

Di sana, ia menambah pengetahuan melalui ekstrakurikuler Pramuka. Dari kegiatan itu, Ismi perlahan mengenal tata cara dan disiplin yang menjadi fondasi ketika kelak berhadapan dengan seleksi yang menuntut konsistensi.

Ia juga menyampaikan rasa syukur karena sekolah memberi dukungan penuh untuk perkembangannya. Dukungan yang diterima tidak sebatas administrasi pendaftaran, tetapi hadir dalam bentuk bimbingan dan penguatan yang terjadwal.

Pembinaan yang menyertai seleksi

Ismi menyatakan, SRT 22 Polewali Mandar tidak hanya mendaftarkannya untuk mengikuti seleksi, tetapi juga menyiapkan pendampingan. Pihak sekolah memberikan bimbingan Wawasan Kebangsaan serta Intelegensia Umum.

Selain pembekalan materi, sekolah juga melakukan pengayaan kesenian. Di sisi lain, bimbingan intensif baris-berbaris dilakukan secara rutin, sehingga latihan tidak berhenti pada satu fase tertentu saja.

Dengan pola pembinaan seperti itu, Ismi merasa dirinya berkembang selangkah demi selangkah. Ia menggambarkan prosesnya sebagai rangkaian kegiatan yang terus diperkuat, bukan sesuatu yang dikerjakan mendadak menjelang hari seleksi.

Perjalanan seleksi pun diakui berjalan ketat. Proses pemilihan dilakukan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dengan tahapan berlapis mulai dari tingkat kota atau kabupaten, kemudian tingkat provinsi, sampai seleksi nasional.

Ismi tidak menyembunyikan bahwa ia baru benar-benar memahami arah pencapaian tersebut ketika seleksi berlangsung. Namun, ia menegaskan bahwa ia tetap menjalani proses yang disiapkan sekolah sesuai tahapan yang ditetapkan.

Motivasi yang lahir dari teladan

Di antara kisah yang ia ceritakan, ada satu momen yang disebutnya sebagai pemantik awal keinginan berprestasi. Ismi mengaku, keinginannya menjadi paskibraka tumbuh ketika melihat Bianca Alessia Christabella Lantang, pembawa baki Paskibraka Nasional 2025 asal Sulawesi Utara.

Ismi mengingat ia hanya menyaksikan Bianca melalui media sosial. Meski demikian, ketertarikan tersebut cukup untuk menumbuhkan hasrat agar kelak ia juga bisa berada di jalur serupa.

Ia menyatakan ingin berprestasi seperti Bianca. Dari perspektif Ismi, melihat seorang figur dari daerah lain justru membuat target terasa mungkin, sekaligus memberi dorongan ketika ia harus melalui tahapan seleksi yang panjang.

Kini, saat namanya sudah ditetapkan sebagai calon yang mewakili Sulawesi Barat, perjalanan yang semula tidak terbayangkan itu berubah menjadi kenyataan. Pencapaian ini, sebagaimana ia akui, menjadi pengalaman pertamanya tampil sebagai Paskibra.

Ismi berharap momen tersebut bisa menjadi langkah lanjutan dalam perjalanannya. Lebih dari itu, kisahnya juga menegaskan bahwa dukungan sekolah dan konsistensi latihan dapat membuka ruang bagi siswa dari latar yang berbeda untuk mencapai panggung tingkat nasional.