jurnalistik.co.id – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pemerintah menyiagakan bantuan untuk penanganan bencana menyusul gempa bermagnitudo (M) 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pernyataan itu disampaikan Prasetyo setelah memantau gladi bersih peringatan HUT ke-81 RI di Istana Kepresidenan Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Prasetyo mengatakan pemerintah telah menyiapkan respons melalui koordinasi antarlembaga dan kesiapsiagaan di tingkat pusat. Ia menyebut pihaknya juga melakukan persiapan apabila sewaktu-waktu diperlukan perbantuan dari pemerintah pusat.
“Kami juga men- standby -kan di Halim (Halim Perdanakusuma, Landasan Udara TNI AU di Jakarta -red) bilamana sewaktu-waktu diperlukan perbantuan dari pemerintah pusat, kami sudah siap-siap sediakan,” kata Prasetyo usai memantau gladi bersih HUT ke-81 RI.
Ia menuturkan telah melaporkan informasi gempa tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, setelah itu pemerintah kemudian menjalin koordinasi dengan jajaran Kabinet Merah Putih.
“Kami berkoordinasi dengan menteri, Menko PMK, kemudian kami juga tadi pagi sudah berkoordinasi dengan Kepala Basarnas, Kepala BMKG yang juga sempat memberikan peringatan dini akan potensi terjadinya tsunami,” ucap Prasetyo.
Prasetyo juga menegaskan koordinasi tak berhenti di level pusat. Ia menyatakan pihaknya turut berkomunikasi dengan pemerintah daerah setempat, termasuk gubernur NTT, untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan lancar.
Dalam penjelasannya, Prasetyo meminta pemerintah daerah mengecek kemungkinan adanya korban tambahan yang terperangkap dalam bangunan runtuh. Ia menyebut laporan yang diterima terkait kondisi di sejumlah lokasi, termasuk bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa.
“Tadi dilaporkan beberapa yang masih ada di apa, reruntuhan, dan beberapa bangunan-bangunan termasuk ada pelabuhan ada satu pelabuhan yang tadi dikirimkan kami juga di Maumere, itu ada reruntuhan-reruntuhan dan kemudian ada beberapa kantor-kantor juga yang runtuh,” ucap dia.
Berita Terkait
Di kesempatan yang sama, Prasetyo menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat yang menjadi korban. Ia menyatakan duka cita yang disampaikan berkaitan dengan adanya korban meninggal dunia yang dilaporkan akibat gempa tersebut.
“Tentunya kami menyampaikan duka cita yang mendalam terhadap adanya beberapa yang dilaporkan kepada kami, ada beberapa korban meninggal dunia akibat gempa tersebut,” tandas Prasetyo.
Gempa yang menjadi perhatian tersebut dilaporkan BMKG terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB. BMKG menyebut pusat gempa berada pada koordinat 8.41 Lintang Selatan dan 121.39 Bujur Timur, dengan kedalaman 15 km atau tergolong gempa dangkal.
Lokasi persis pusat gempa, menurut BMKG, berada di laut sekitar 30 km arah timur Mbay Nagekeo, NTT. Dalam keterangannya, BMKG menyatakan hasil permodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini berpotensi tsunami.
“Hasil permodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini berpotensi tsunami,” tulis BMKG. BMKG juga mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB.
Sementara itu, Prasetyo memposisikan langkah kesiapsiagaan sebagai bagian dari upaya memastikan bantuan segera dapat dikerahkan bila diperlukan. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa pemerintah pusat menyiapkan dukungan, sekaligus mendorong kerja cepat di lapangan melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait dan pemerintah daerah setempat.
Prasetyo menjelaskan bahwa respons pemerintah tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga diikuti oleh rangkaian langkah koordinasi yang berjalan sejak informasi gempa diterima. Ia menyebut komunikasi dilakukan berlapis, mulai dari pelaporan kepada Presiden, pengaturan koordinasi antarmuka kabinet, hingga penyiapan dukungan dari pusat bila diperlukan.
Dalam penegasannya, Prasetyo meminta pemerintah daerah melakukan pengecekan terhadap kemungkinan adanya korban tambahan yang masih terperangkap, terutama pada bangunan yang dilaporkan mengalami kerusakan. Ia juga menyinggung adanya kondisi di beberapa lokasi, termasuk reruntuhan di kawasan pelabuhan yang dikirimkan dari Maumere, serta bangunan-bangunan yang turut dilaporkan runtuh.
BMKG, lanjut informasi yang disampaikan dalam keterangan resmi, menyebut gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB dengan pusat di laut sekitar 30 km arah timur Mbay Nagekeo, NTT, serta kedalaman 15 km. Berdasarkan permodelan, BMKG menyatakan gempabumi berpotensi tsunami, dan peringatan dini tsunami kemudian berakhir pada pukul 07.30 WIB.












