jurnalistik.co.id – Greg James mengatakan ia “completely floored” setelah kematian anjingnya, dan mengakui, “I know how he feels”. Dalam tulisan Helena Wilkinson, duka yang muncul ketika hewan peliharaan harus pergi ternyata bisa terasa lebih rumit dari yang sering dipahami orang-orang di sekitar.
Helena menulis soal kesedihan Greg James yang berangkat dari kematian anjing kesayangan mereka, seekor chocolate labrador bernama Barney, yang akhirnya harus disuntikkan obat agar meninggal. Perasaan yang ia uraikan—nyeri sekaligus kebingungan—terasa akrab bagi pengalaman pribadi Helena sendiri.
Helena mengisahkan bahwa menjelang akhir Juni, anjingnya, Lara, juga meninggal. Lara, yang selain ketika ia bermain dan berguling di lumpur, adalah “bundel” kegembiraan berbulu putih seperti westie dan baru menginjak usia 11 tahun.
Ia mengaku sempat bersikap naif, seolah Lara akan bertahan selamanya. Tidak pernah terlintas bahwa anjingnya akan jatuh sakit, hingga menjelang akhir April mulai terlihat perubahan yang menentukan.
Menurut Helena, kondisi Lara membuatnya lebih sering tidur dan perlahan mulai kehilangan nafsu makan. Pada beberapa momen, Lara juga terlihat tidak yakin berada di mana, sampai akhirnya ia kehilangan semangat untuk “hidup”.
Ketika kualitas hidup Lara menurun, Helena mengatakan ia tidak sanggup membiarkan anjingnya sendirian. Karena itu, selama dua setengah bulan ia tidur di sofa agar bisa selalu berada dekat dengan Lara.
Di minggu-minggu terakhir, Helena menyebut Lara dimanjakan. Mulai dari camilan dan makanan favorit, hingga sesi mandi dan pengeringan rambut di rumah, semuanya dibalut perhatian serta kasih yang tak berujung.
Menjelang kunjungan terakhirnya ke dokter hewan, Helena menceritakan Lara sempat menikmati es krim. Setelah itu Lara berbaring di rumput taman sambil menikmati sinar matahari pada salah satu hari panas di bulan Juni.
Di klinik, Helena menuliskan bahwa kalimat terakhir yang Lara dengar sebelum meninggal adalah betapa ia sangat dicintai. Helena menggambarkan hari itu sebagai salah satu yang paling sulit dalam hidupnya.
Ia menangis berkali-kali, dan bahkan membutuhkan waktu untuk memindahkan mangkuk makanan Lara. Helena juga merasa bersalah saat melakukannya, seolah tindakan sederhana itu ikut memutus sesuatu yang selama ini terasa tak tergantikan.
Ia juga bergulat dengan keputusan untuk menidurkan Lara, meski ia tahu itu adalah langkah paling baik bagi Lara. Hingga kini, Helena mengatakan ia masih terus berjuang dengan keputusan tersebut, bahkan setelah kematian itu terjadi.
Duka yang terasa sendirian
Pengalaman Helena, yang selaras dengan apa yang disampaikan Greg James, membuatnya berpikir tentang cara orang memandang duka akibat kehilangan hewan peliharaan. Bagi sebagian orang, duka ini bisa menjadi pengalaman yang terasa mengisolasi.
Annalisa de Carteret, pet loss support manager di organisasi hewan Blue Cross, mengatakan, “It can be quite lonely… with society not understanding the impact it has.” Ia menekankan bahwa dampak duka itu sering tidak dipahami, sehingga orang yang sedang berduka merasa sendirian.
Blue Cross menyebut layanan telepon, email, dan obrolan webnya bersifat gratis serta rahasia, dan membantu lebih dari 30.000 orang selama tahun lalu. De Carteret juga menuturkan bahwa kematian hewan bisa memicu banjir emosi, termasuk rasa bersalah yang kuat.
Ia menggambarkan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di benak orang yang kehilangan, terutama saat euthanasia. “What could I have done differently? Especially with euthanasia. Was it the right time? Did I leave it too late? Did I make the decision too soon?” menjadi semacam siklus yang sulit dipadamkan.
Menurut Dr Caroline Ficker, rasa bersalah itu “natural”. Ia adalah dokter hewan paliatif yang mengatakan ia sendiri “knocked for six” setelah anjingnya, Brodie, meninggal.
Ficker menjelaskan bahwa manusia bertanggung jawab atas perawatan medis hewan peliharaannya—termasuk keputusan ketika tindakan pengobatan dilakukan atau tidak dilakukan. “so there’s often a lot of guilt associated with that – and that’s normal,” tuturnya, menegaskan bahwa rasa bersalah bukan sesuatu yang otomatis berarti seseorang melakukan kesalahan.
Relasi yang terasa nyata
Berita Terkait
De Carteret menambahkan bahwa justru karena rasa tanggung jawab itulah, bagi sebagian orang kehilangan hewan bisa terasa lebih menyakitkan dibanding kehilangan orang yang dicintai. Rasa kehilangan itu bukan sekadar “kehilangan peliharaan”, melainkan kehilangan anggota keluarga dalam keseharian.
Helena lalu menampilkan kisah Gemma Champ, penulis yang berada di London utara, yang membesarkan kucingnya, Frankie, sejak hewan itu masih anak kucing. Gemma menuturkan bahwa ia menyelamatkan Frankie saat dirinya tinggal di Abu Dhabi, dan pada akhirnya Frankie meninggal di rumah pada bulan Januari.
Gemma mengaku pada awalnya ia merasa “ridiculous” karena bersikap terlalu heboh saat Frankie meninggal. Namun, ia kemudian mengirim pesan WhatsApp kepada semua orang yang pernah mengenal dan mencintai Frankie, dan respons yang ia terima justru membuka ingatan kolektif yang indah.
Ia mengatakan semua orang punya memori luar biasa tentang Frankie. Salah seorang teman bahkan mengungkapkannya seperti, “a legendary beast from the great plains has left us.”
Melalui media sosial, Gemma merasa terlihat bahwa ada komunitas besar yang mengalami hal serupa dan rasa sakit yang sama. Ia menilai hal itu membuatnya tidak merasa dirinya hanya “dramatic queen”, karena pengalaman duka semacam ini juga dimiliki orang lain.
Ia menambahkan bahwa ia berharap orang-orang belajar untuk tidak “dismiss” duka atas kematian hewan peliharaan. Baginya, hubungan itu bersifat mendalam dan berumur panjang, sehingga tidak pantas diperlakukan sebagai sesuatu yang mudah diabaikan.
Cut i kerja dan definisi hewan peliharaan
Dalam artikel tersebut, disebutkan bahwa setelah kematian anjing Greg James, sang presenter mengatakan ia tidak akan hadir di acaranya pada hari berikutnya. Namun, Helena menekankan bahwa persetujuan dari tempat kerja tidak selalu mudah diperoleh.
Pada 2019, Emma McNulty kehilangan anjing terrier berusia 14 tahun, Millie, secara mendadak. Emma, yang berasal dari Glasgow, mengatakan ia terlalu sakit karena duka untuk masuk kerja.
Helena mencatat bahwa ketika Emma tidak dapat menemukan pengganti shift, pekerjaan paruh waktunya di sebuah sandwich shop diberhentikan. Emma lalu meluncurkan petisi online agar perusahaan dapat mengakui duka akibat kehilangan hewan peliharaan.
Dalam konteks hukum, artikel ini menegaskan bahwa tidak ada negara yang mewajibkan perusahaan memberi cuti berbayar setelah kematian hewan peliharaan. Kara Stott—kepala bagian legal internal dan general counsel di firma Peninsula—menyatakan bahwa semakin banyak majikan di Inggris yang mulai lebih fleksibel.
Meski demikian, Stott menilai kebijakan formal memiliki tantangan. Ia menyebut pertimbangan penting termasuk bagaimana mendefinisikan “hewan peliharaan”—apakah kebijakan hanya mencakup kucing dan anjing, atau juga hamster, kelinci, ikan mas, kuda, ular, dan hewan lain.
Gemma sendiri mengambil beberapa hari cuti setelah Frankie meninggal, dengan dukungan dari klien yang menurutnya “incredibly kind”. Ia menambahkan ia ragu bisa melakukan hal itu bila bekerja sebagai pegawai, karena ia membayangkan dirinya mungkin harus menahan tangis di toilet kantor.
Ia menilai reaksi keluarga dan teman-temannya ketika Frankie meninggal menegaskan bahwa dukanya nyata, dan ia menghargai bahwa orang lain memandangnya dengan serius. Ia kembali menyampaikan harapannya agar orang-orang tidak meremehkan hubungan yang mendalam itu.
Duka yang masih berproses
Helena menutup kisahnya dengan detail yang lebih pribadi. “It’s now been about six weeks since Lara died,” tulisnya, dan setiap kali ia membuka pintu depan, ia masih berharap melihat ekor Lara yang biasanya bergerak.
Di hari-hari tertentu, Helena bahkan membayangkan mendengar Lara minum air dan langkah kakinya. Di hari lain, ia memilih menghindari foto Lara yang dipajang, karena terlalu menyakitkan untuk menatapnya.
Ia memperkirakan kesedihan akan mereda seiring waktu, tetapi Helena menegaskan ia akan tetap sangat merindukan Lara. Ia menulis pengalaman itu sebagai cermin bahwa duka hewan peliharaan layak diperlakukan sebagai duka yang sungguh nyata, bukan sekadar “urusan kecil”.
Tambahan pelaporan dalam artikel ini datang dari Roland Hughes.






