jurnalistik.co.id – Trauma mendalam masih menyelimuti Saniyeh setelah menyaksikan sendiri suaminya, Abdul Karim Marzuki, tewas dalam duel carok di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Peristiwa itu membuatnya masih sulit melupakan detik-detik saat ia tiba di lokasi dan melihat situasi yang sudah kacau.
Abdul Karim Marzuki, yang berusia 55 tahun, sebelumnya terlibat duel carok dengan Wasil, 44 tahun, warga Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Keduanya berduel di tengah kebun sengon, tidak jauh dari rumah mereka. Dalam kejadian itu, Abdul Karim meninggal dunia di lokasi, sementara Wasil mengalami luka bacok di bagian perut dan masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Haryoto Lumajang.
Saniyeh menuturkan bahwa sebelum carok terjadi, suaminya sempat berpamitan dan meminta didoakan. Karena khawatir, ia kemudian mendatangi kebun sengon tempat Abdul Karim dan Wasil duel carok untuk memastikan suaminya selamat. Namun, setibanya di lokasi, ia justru melihat suami dan lawan duel suaminya sudah sama-sama terluka.
Dalam kondisi itu, suasana berubah semakin mencekam ketika adik Wasil datang dan membacok Abdul Karim. Saniyeh mengaku melihat langsung kejadian tersebut dari kejauhan, tetapi ia tidak bisa mendekat karena saat itu sedang menggendong cucunya. “Saya sambil gendong cucu, enggak bisa mendekat,” kata Saniyeh di RSUD dr. Haryoto Lumajang, Kamis (21/5/2026).
Saniyeh mengatakan dirinya sempat berteriak dari jauh agar adik Wasil tidak melanjutkan pembacokan itu. Ia meminta agar pertikaian berhenti karena keduanya sudah sama-sama terluka. “Jangan dek, itu sudah sama-sama luka, sama parahnya,” ujarnya.
Namun, teriakan itu tidak menghentikan aksi tersebut. Setelah mengalami luka di bagian kepala, Abdul Karim langsung terkapar di tanah. Saniyeh pun memilih pulang sejenak untuk mengambil kain dan membawa perlengkapan yang bisa dipakai menggotong suaminya ke rumah sakit.
Saat kembali ke lokasi, Saniyeh harus menerima kenyataan bahwa Abdul Karim sudah tidak bernyawa lagi. Ia mengatakan dirinya sempat bergegas pulang untuk mengambil gendongan, tetapi ketika tiba kembali di tempat kejadian, kondisi suaminya telah berubah sepenuhnya. “Saya pulang mau ambil gendongan untuk bawa suami saya, tapi pas sampai kesana lagi ternyata sudah meninggal,” pungkasnya.
Kejadian ini meninggalkan luka emosional yang dalam bagi Saniyeh, terlebih ia menyaksikan seluruh rangkaian peristiwa itu secara langsung. Di tengah situasi yang serba cepat dan penuh kepanikan, ia hanya bisa melihat suaminya terjatuh setelah pembacokan yang terjadi di lokasi duel. Saat itu, yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha mengambil langkah paling cepat untuk menolong, meski pada akhirnya ia datang kembali dalam keadaan yang jauh lebih menyakitkan.
Peristiwa di kebun sengon itu juga memperlihatkan betapa dekatnya lokasi duel carok dengan permukiman warga. Abdul Karim dan Wasil, yang sama-sama berasal dari Desa Sumberwringin, terlibat duel tidak jauh dari rumah mereka sendiri. Dalam kejadian itu, satu orang kehilangan nyawa, sementara satu lainnya masih mendapat perawatan intensif di rumah sakit.
Trauma mendalam masih menyelimuti Saniyeh setelah menyaksikan sendiri suaminya, Abdul Karim Marzuki, tewas dalam duel carok di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Peristiwa itu membuatnya masih sulit melupakan detik-detik saat ia tiba di lokasi dan melihat situasi yang sudah kacau.
Abdul Karim Marzuki, yang berusia 55 tahun, sebelumnya terlibat duel carok dengan Wasil, 44 tahun, warga Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Keduanya berduel di tengah kebun sengon, tidak jauh dari rumah mereka. Dalam kejadian itu, Abdul Karim meninggal dunia di lokasi, sementara Wasil mengalami luka bacok di bagian perut dan masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Haryoto Lumajang.






