Bisnis & Ekonomi

AI Belum Gantikan Manusia, Lalu Mengapa PHK di Teknologi Kian Marak?

3
×

AI Belum Gantikan Manusia, Lalu Mengapa PHK di Teknologi Kian Marak?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: AI Tak Menggantikan Pekerjaan Manusia, tapi Kenapa Banyak PHK?

jurnalistik.co.id – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus menyapu industri teknologi global, sementara perusahaan-perusahaan besar justru menggelontorkan investasi besar ke bidang kecerdasan buatan atau AI. Di tengah situasi itu, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar: jika AI disebut belum sepenuhnya menggantikan manusia, mengapa PHK tetap marak?

Di permukaan, dua hal itu tampak bertolak belakang. AI mulai mengubah cara kerja perusahaan teknologi, tetapi PHK yang terjadi saat ini lebih mencerminkan fase transisi industri ketimbang semata-mata dampak langsung dari otomatisasi. Artinya, yang terjadi bukan hanya soal mesin menggantikan manusia, melainkan juga soal perubahan arah bisnis dan penataan ulang prioritas perusahaan.

Meta menjadi salah satu contoh yang paling sering disorot. Perusahaan itu memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja, sementara pada saat yang sama meningkatkan belanja AI hingga ratusan miliar dollar AS. CEO Mark Zuckerberg menegaskan bahwa AI bukan untuk menggantikan manusia, melainkan meningkatkan produktivitas. Ia bahkan menyebut, ke depan “orang akan menjadi lebih penting, bukan sebaliknya.”

Pernyataan itu memberi kesan bahwa manusia tetap berada di pusat strategi perusahaan. Namun, di balik narasi tersebut, analis melihat ada realokasi sumber daya besar-besaran dari tenaga kerja ke infrastruktur AI. Laporan Reuters mencatat Meta menaikkan belanja modal AI hingga 125–145 miliar dollar AS, sembari memangkas tenaga kerja untuk menjaga efisiensi biaya operasional.

Situasi inilah yang membuat banyak pihak menilai bahwa PHK di era AI tidak selalu berarti pekerjaan diambil alih secara langsung oleh teknologi. Dalam banyak kasus, perusahaan justru sedang menyesuaikan struktur organisasi mereka agar lebih ramping, lebih cepat, dan lebih hemat biaya di tengah kompetisi investasi AI yang semakin agresif.

AI bukan satu-satunya alasan

Sejumlah ahli menilai AI kerap dijadikan alasan yang paling mudah untuk menjelaskan PHK. Chief AI Officer Cognizant, Babak Hodjat, mengatakan AI sering menjadi “kambing hitam” dari sisi finansial. Menurut dia, kondisi itu bisa muncul ketika perusahaan merekrut terlalu banyak atau ingin merampingkan organisasi.

“Terkadang AI menjadi kambing hitam dari sisi finansial. Ini bisa terjadi ketika perusahaan merekrut terlalu banyak atau ingin merampingkan organisasi,” kata Hodjat kepada TechSpot.

Pandangan tersebut memperkuat dugaan bahwa sebagian perusahaan memanfaatkan narasi AI untuk membingkai ulang keputusan bisnis yang sebenarnya sudah lama disiapkan. Dalam konteks seperti ini, PHK tidak selalu lahir dari kemampuan AI menggantikan manusia, melainkan dari kebutuhan perusahaan untuk merapikan struktur, menekan pengeluaran, atau menyesuaikan diri dengan arah investasi baru.

Fenomena itu dikenal sebagai “AI Washing”. Istilah ini merujuk pada keadaan ketika perusahaan menggunakan narasi AI untuk membungkus keputusan bisnis lama seperti efisiensi biaya. Dengan cara itu, langkah yang sejatinya merupakan restrukturisasi dapat terlihat seolah-olah merupakan konsekuensi langsung dari kemajuan teknologi.

Bahkan, sebuah survei terhadap manajer perekrutan menunjukkan sekitar 59 persen perusahaan mengakui mereka menekankan AI dalam pengumuman PHK karena “terlihat lebih baik di mata pemangku kepentingan”. Temuan ini menunjukkan bahwa label AI tidak hanya berfungsi sebagai penjelasan teknis, tetapi juga sebagai alat komunikasi bisnis yang dianggap lebih mudah diterima.

Di sisi lain, perkembangan AI memang tetap membawa perubahan nyata dalam cara perusahaan bekerja. Namun perubahan itu tidak otomatis berarti seluruh tenaga kerja akan langsung tersingkir. Dalam banyak kasus, perusahaan masih membutuhkan manusia untuk menjalankan, mengawasi, dan memanfaatkan sistem AI agar produktivitas meningkat.

Karena itu, gelombang PHK yang terjadi sekarang lebih tepat dibaca sebagai perpaduan antara efisiensi biaya, restrukturisasi organisasi, dan penyesuaian strategi investasi. AI memang hadir sebagai faktor besar, tetapi bukan satu-satunya penentu. Di tengah lonjakan belanja AI, perusahaan tampaknya sedang mencari titik keseimbangan baru antara teknologi, biaya operasional, dan peran manusia di dalamnya.

Dengan kata lain, AI belum benar-benar menggantikan manusia. Namun, kehadirannya sudah cukup kuat untuk mengubah cara perusahaan menyusun prioritas, mengatur tenaga kerja, dan menjelaskan keputusan bisnis mereka ke publik. Di situlah PHK menjadi semakin marak, bukan semata karena mesin mengambil alih pekerjaan, melainkan karena industri sedang memasuki fase penyesuaian besar-besaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *