jurnalistik.co.id – Indonesia disebut menempati posisi pertama dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk dunia pendidikan. Temuan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie, berdasarkan data Statista Consumer Insights.
Stella menegaskan, capaian peringkat teratas tidak otomatis berarti pemanfaatan AI boleh berjalan tanpa batas. Menurutnya, penggunaan AI di ruang belajar perlu dibarengi rambu yang jelas agar mutu pembelajaran tetap terjaga.
Dalam paparannya, Stella menyampaikan pandangan ilmiah yang menyoroti dampak AI pada proses belajar. Ia mengingatkan bahwa bukti dan data menunjukkan penggunaan AI dalam pelajaran dapat menurunkan kemampuan peserta didik.
“Tapi kalau saya, akan saya sebagai ilmuwan kognitif, saya akan bisa bilang bukti dan data menunjukkan bahwa menggunakan AI di pelajaran dan di pendidikan menurunkan kemampuan,” ujar Stella saat menjadi pembicara pada High Level Talk FEKDI – IFSE di JICC, Jakarta, dikutip Minggu (27/9/2026).
Dengan latar pandangan tersebut, Stella memposisikan AI bukan sebagai pengganti utama proses pendidikan, melainkan sebagai alat yang harus ditempatkan secara terukur. Baginya, kondisi ideal mensyaratkan batasan-batasan tegas yang diatur sedemikian rupa.
Batas tegas dan kualitas pembelajaran
Stella menilai, batasan yang ketat akan membantu memastikan pemanfaatan AI tidak mengorbankan perkembangan kemampuan berpikir peserta didik. Ia mengaitkan isu ini dengan kualitas hasil belajar yang selama ini menjadi tujuan inti pendidikan.
Lebih dari sekadar menentukan seberapa sering AI dipakai, Stella juga mengarahkan perhatian pada kemampuan manusia untuk menilai teknologi. Ia berharap, kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat menjalankan peran sebagai pihak yang mengevaluasi AI.
“Jadi yang harus kita buat adalah sistem insentif yang benar. Dan satu-satunya cara untuk kita bisa tetap mampu mengevaluasi AI, adalah kita harus bisa mengerti melalui proses berpikirnya,” tegas Stella.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa evaluasi atas AI tidak cukup berhenti pada hasil keluaran. Stella mendorong pemahaman terhadap proses berpikir di balik sistem, sehingga penilaian dapat dilakukan secara lebih akurat dan bertanggung jawab.
Stella juga menekankan sikap kritis dalam penggunaan teknologi. Humanitas dalam pendidikan, menurutnya, tetap perlu hadir sebagai pengarah agar masyarakat pendidikan tidak sekadar terlena oleh kemudahan yang ditawarkan AI.
Berita Terkait
Dalam arah pikir tersebut, ia memandang pentingnya menjaga agar manusia tetap mampu bersikap kritis. Pengembangan AI harus dipertemukan dengan kemampuan evaluatif yang dimiliki pendidik maupun peserta didik.
“Kemampuan untuk berinovasi, mengevaluasi AI, berpikir kritis itu menjadi yang lebih penting lagi,” kata Stella.
Investasi pendidikan untuk berpikir kritis
Stella lantas mengaitkan visi evaluasi dan berpikir kritis dengan kebutuhan investasi dalam sektor pendidikan. Ia menyatakan bahwa pendidikan perlu dibekali dukungan yang mendorong kemampuan berpikir kritis, baik bagi peserta didik maupun pihak yang terlibat dalam proses pendidikan.
Ia menempatkan investasi untuk berpikir kritis berdampingan dengan investasi untuk menumbuhkan inovasi teknologi di lingkup pendidikan. Dengan begitu, kemajuan teknologi tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas manusia.
Dalam penuturannya, Stella juga mengingatkan potensi kesalahan dalam pengambilan keputusan investasi. Ia mengingatkan agar kebijakan dan alokasi tidak keliru sehingga tujuan pendidikan tidak bergeser dari sasaran utamanya.
“Nah, ini harus diingat-ingat agar jangan kita menjadi kesalahan membuat, menginvestasikan yang salah dalam pendidikan kita,” ucapnya.
Gagasan ini memberi penekanan bahwa penggunaan AI dan pengembangan ekosistem pendidikan membutuhkan desain yang matang. Peringkat pertama yang diraih Indonesia, menurut Stella, seharusnya dijadikan pijakan untuk memastikan kualitas tetap menjadi prioritas, bukan sekadar indikator capaian.
Dengan demikian, agenda pemanfaatan AI dalam pendidikan perlu diarahkan pada keseimbangan antara teknologi dan kemampuan manusia. Stella menempatkan evaluasi AI sebagai bagian yang melekat pada proses pendidikan, sehingga pemakaian AI tidak membuat kemampuan peserta didik melemah.
Melalui narasi yang disampaikannya, Stella memperlihatkan cara pandang yang menggabungkan pendekatan ilmiah, dorongan kapasitas berpikir kritis, serta kebutuhan sistem insentif yang tepat. Ia menilai, langkah yang paling menentukan adalah bagaimana manusia memahami proses berpikir AI, sekaligus memadukannya dengan cara belajar yang tetap berpihak pada pengembangan kemampuan.
Pada akhirnya, menurut Stella, dunia pendidikan yang maju adalah pendidikan yang mampu berinovasi sambil tetap menguatkan kemampuan evaluatif dan berpikir kritis. Keberhasilan pemanfaatan AI, dalam pandangannya, terukur dari kualitas hasil belajar dan kemampuan peserta didik untuk menilai teknologi secara bertanggung jawab.







