jurnalistik.co.id – Literasi, bagi banyak orang, sering berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Namun di Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah, gagasan itu mencoba didorong ke arah yang lebih dalam: melatih pelajar agar mampu menilai informasi yang mereka terima.
Kegiatan tersebut dikemas dalam Kelas Logika yang diselenggarakan Kalirejo Book Party bersama SMP Xaverius Kalirejo. Program ini berlangsung dalam empat pertemuan, yakni pada 5, 12, 19, dan 26 Agustus 2026, di SMP Xaverius Kalirejo.
Pada pelaksanaannya, Kelas Logika menekankan bahwa derasnya arus informasi membuat siswa perlu bekal untuk memilah pesan, menguji pernyataan, serta memahami apakah sebuah argumen memiliki dasar yang kuat. Dengan kata lain, kemampuan membaca tidak cukup bila pelajar belum terlatih berpikir secara kritis.
Inisiator Kalirejo Book Party, Asep Sugiarto, menjelaskan bahwa pengenalan logika penting karena berkaitan langsung dengan cara seseorang menangkap informasi dan mengambil keputusan. Asep menyampaikan, “Literasi tidak berhenti ketika seseorang sudah bisa membaca. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana dia memahami apa yang dibaca, mempertanyakan isinya, lalu menilai apakah informasi tersebut masuk akal,” pada Rabu (12/8/2026).
Dalam kelas tersebut, siswa diperkenalkan pada materi dasar logika. Mulai dari prinsip-prinsip logika klasik, logical fallacy, silogisme, hingga elenchus dan dialektika.
Proses belajar tidak berhenti pada penjelasan teori. Siswa juga diajak untuk berdiskusi dan menguji sebuah pernyataan dengan memperhatikan alasan yang dipakai untuk membangun kesimpulan. Pendekatan ini diarahkan agar peserta tidak mudah menerima informasi hanya karena terdengar meyakinkan.
Asep menekankan kebiasaan untuk membedakan pendapat dan argumen sebagai landasan penting. “Anak-anak perlu dibiasakan membedakan mana pendapat dan mana argumen. Kalau ada sebuah kesimpulan, mereka harus berani bertanya, ‘Apa alasannya?’ Dari situ kemampuan berpikir kritis mulai tumbuh,” ujar Asep.
Berita Terkait
Selain menguatkan nalar, kegiatan ini juga disusun agar relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta. Pembelajaran logika dipandang dekat dengan situasi ketika siswa berhadapan dengan beragam informasi di media sosial, tempat perhatian mudah teralihkan dan klaim sering datang tanpa pembuktian yang jelas.
Brenda, salah satu peserta Kelas Logika, menyatakan dirinya tertarik setelah kerap melihat konten tentang literasi dan berpikir kritis di media sosial. Ia mengaku menemukan materi yang dianggapnya serius namun tetap mudah dipahami.
Brenda menuturkan, “Saya tertarik ikut kelas logika karena banyak mengikuti konten-konten di Instagram tentang berpikir kritis dan literasi. Bisa bahas sesuatu yang serius tapi mudah dipahami,” pada sesi yang sama. Menurutnya, ketertarikan tersebut berawal dari kebiasaan mengikuti pembahasan serupa di platform digital.
Setelah mengikuti kelas, Brenda merasakan perubahan cara memandang informasi. Ia tidak hanya menilai sebuah kabar dari apa yang disampaikan, tetapi mulai berusaha memikirkan alasan dan dasar yang menopang informasi tersebut.
Dengan format yang berjalan selama empat pertemuan, Kelas Logika di Kalirejo Book Party memberi ruang bagi peserta untuk membangun pola pikir yang lebih terarah. Program ini sekaligus menjadi pengingat bahwa literasi yang baik bukan semata kemampuan membaca, melainkan kemampuan menimbang makna di balik kalimat-kalimat yang beredar.
Melalui pengenalan logika, latihan menguji pernyataan, serta pembiasaan bertanya tentang alasan, siswa diharapkan tumbuh dengan cara pandang yang lebih hati-hati saat menerima informasi. Dari proses tersebut, kemampuan berpikir kritis dapat berkembang secara bertahap, selaras dengan tujuan literasi yang lebih utuh dan membumi.
Di setiap sesi, peserta diarahkan untuk menempatkan sebuah pernyataan pada posisinya: apa yang sedang dikatakan, kesimpulan mana yang dituju, dan alasan apa yang dipakai untuk menuntun orang menerima kesimpulan tersebut. Dari latihan ini, siswa belajar tidak langsung percaya pada klaim yang hanya terlihat meyakinkan di permukaan.
Selain memahami istilah dalam logika dasar, kelas juga membangun kebiasaan bertanya secara sederhana namun konsisten. Peserta dibiasakan menahan respons cepat, meninjau kembali dasar pemikiran, lalu menyusun pertimbangan sebelum menarik kesimpulan. Kebiasaan itu diharapkan ikut terbawa ketika mereka berinteraksi dengan berbagai informasi di luar kelas.












