jurnalistik.co.id – Pemerintah Inggris resmi membebaskan impor bahan bakar diesel dan avtur yang berasal dari minyak mentah Rusia, selama komoditas itu sudah disuling di negara ketiga. Kebijakan ini langsung memantik perdebatan baru karena diambil pada saat sekutu Barat lain justru masih menekan Moskow lewat sanksi energi.
Langkah London itu mengikuti kebijakan serupa dari Amerika Serikat yang juga memperpanjang kelonggaran sanksi terhadap Rusia. Di tengah perang Rusia-Ukraina yang telah memasuki hari ke-1.547, keputusan tersebut dipandang sebagai kompromi ekonomi yang ditempuh negara-negara Barat untuk meredam tekanan inflasi di dalam negeri masing-masing.
Selama ini, minyak mentah Rusia dikirim ke sejumlah negara seperti India dan Turki untuk disuling terlebih dahulu, lalu diekspor kembali dalam bentuk produk jadi sebagai hasil olahan negara tersebut. Praktik ini oleh para pengkritik disebut sebagai pencucian minyak, karena dianggap membuka ruang bagi Kremlin untuk tetap memperoleh pemasukan segar yang bisa menopang perang di Ukraina.
Otoritas Inggris menegaskan bahwa relaksasi aturan impor energi itu diberlakukan demi menekan lonjakan biaya hidup yang dirasakan masyarakat domestik. Pemerintah juga menyebut aturan baru tersebut mulai berlaku pada Rabu dan tidak dibatasi tenggat waktu tertentu, meski tetap akan ditinjau secara berkala dan bisa diubah atau dicabut kapan saja.
“Aturan baru ini mulai berlaku pada hari Rabu dan akan berdurasi tanpa batas waktu, meskipun aturan tersebut akan ditinjau secara berkala dan dapat diubah atau dicabut,” demikian bunyi pengumuman resmi Pemerintah Inggris.
Tak hanya soal diesel dan avtur, Inggris pada Selasa juga mengeluarkan lisensi khusus baru untuk memuluskan layanan transportasi maritim gas alam cair atau LNG dari proyek Sakhalin-2 dan Yamal milik Rusia. Lisensi itu mencakup jasa pengapalan, pembiayaan, hingga broker internasional, dan akan tetap diizinkan beroperasi secara legal di bawah hukum sanksi Rusia sampai 1 Januari 2027.
Keputusan Washington dan London itu langsung memicu protes keras dari Uni Eropa. Blok tersebut menilai pelonggaran tekanan terhadap Rusia justru dilakukan ketika Moskow sedang menikmati keuntungan ekonomi yang besar, terutama di tengah disrupsi energi global yang juga dipengaruhi perang yang ikut berkecamuk di Iran.
“Dari sudut pandang Uni Eropa, kami tidak berpikir bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk meredakan tekanan terhadap Rusia,” kata Komisaris Ekonomi Uni Eropa Valdis Dombrovskis dalam konferensi pers pada Selasa. Ia menambahkan bahwa Rusia menjadi pihak yang paling diuntungkan dari perang di Iran serta kenaikan harga bahan bakar fosil saat ini.
Dombrovskis juga menyorot alasan darurat yang disampaikan pihak Washington. “Menteri Bessent meyakinkan kami bahwa ini adalah tindakan sementara, tetapi kami tahu bahwa ini sudah merupakan perpanjangan kedua dari tindakan yang awalnya dimaksudkan hanya berlangsung selama 30 hari,” ujarnya.
Di luar isu energi, ketegangan geopolitik di Eropa Timur juga ikut meningkat setelah Moskow melontarkan ancaman militer terbuka terhadap Latvia dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Badan Intelijen Luar Negeri Rusia atau SVR menuduh Ukraina tengah menyusun strategi untuk meluncurkan gelombang serangan drone ke wilayah Rusia dengan memanfaatkan kedaulatan Latvia, Lithuania, dan Estonia.
Ancaman itu dibalas keras oleh perwakilan Rusia di PBB yang menegaskan bahwa keanggotaan NATO tidak akan memberi perlindungan bila negara-negara Baltik terbukti membantu militer Ukraina. “Keanggotaan NATO tidak akan melindungi Anda dari pembalasan,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya dalam sidang umum PBB.
Amerika Serikat merespons dengan nada tak kalah tegas. Duta Besar AS untuk PBB Tammy Bruce menegaskan komitmen penuh negaranya terhadap sekutu-sekutu di Eropa Timur. “Tidak ada tempat untuk ancaman terhadap anggota dewan. Amerika Serikat memegang teguh semua komitmen NATO-nya,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan negara-negara Baltik menanggapi ancaman Moskow dengan santai dan menyebut tuduhan tersebut sebagai bentuk keputusasaan. Perwakilan Latvia menegaskan negaranya tidak pernah mengizinkan wilayah udaranya dipakai untuk menyerang Rusia, terlebih setelah situasi di lapangan makin rumit ketika sebuah jet tempur F-16 NATO milik Rumania terpaksa menembak jatuh drone di langit Estonia akibat gangguan sinyal elektronik dari militer Rusia.
“Kebohongan, disinformasi agresif, dan ancaman adalah tanda keputusasaan dan kelemahan,” kata Perwakilan Latvia untuk PBB Sanita Pavļuta-Deslandes. Dengan rangkaian keputusan energi yang longgar dan tensi militer yang terus naik, hubungan Barat dan Rusia kembali memperlihatkan tekanan di banyak lini sekaligus.










