jurnalistik.co.id – Arab Saudi menghentikan sementara pembangunan proyek The Mukaab di Riyadh sejak 28 Januari tahun ini. Langkah itu diambil untuk meninjau ulang prioritas belanja sekaligus kelayakan finansial dari proyek-proyek raksasa yang masuk dalam agenda transformasi Visi 2030.
The Mukaab selama ini dikenal sebagai salah satu proyek paling ikonik yang digadang-gadang menjadi simbol futuristik Visi 2030. Program tersebut merupakan bagian dari ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mendorong diversifikasi ekonomi Arab Saudi agar tidak terus bergantung pada minyak.
Penghentian sementara itu menunjukkan bahwa pemerintah Saudi kini lebih berhati-hati dalam mengelola megaproyek yang selama beberapa tahun terakhir menjadi wajah utama perubahan di negara tersebut. Di tengah langkah Public Investment Fund atau PIF yang mengelola aset sekitar US$925 miliar, fokus utama bergeser pada pengendalian biaya dan penentuan prioritas pengeluaran.
Dengan demikian, The Mukaab tidak lagi berjalan tanpa evaluasi. Proyek yang semula diproyeksikan menjadi salah satu ikon terbesar Riyadh itu kini bergabung ke dalam daftar megaproyek yang dipangkas atau ditunda sementara. Peninjauan ini menegaskan bahwa dorongan pembangunan besar-besaran dalam Visi 2030 juga berhadapan dengan pertimbangan fiskal yang tidak kecil.
Proyek raksasa yang menuai sorotan lingkungan
Selain soal biaya, The Mukaab juga mendapat perhatian karena dinilai memiliki potensi dampak lingkungan yang besar. Dalam bentuknya saat ini, proyek tersebut dianggap sulit diselaraskan dengan visi pembangunan hijau yang kerap digaungkan pemerintah Saudi melalui agenda transformasi yang sama.
Proyek berskala masif seperti ini dinilai berisiko meningkatkan konsumsi sumber daya, emisi karbon, dan gangguan terhadap habitat alami di sekitarnya. Kritik itu muncul seiring upaya Arab Saudi menampilkan citra modern dan berkelanjutan, sementara di saat yang sama mendorong proyek dengan kebutuhan material dan operasional yang sangat besar.
Saudi Green Initiative yang menjadi inti agenda keberlanjutan Riyadh menargetkan pengembangan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Namun, The Mukaab justru dirancang sebagai bangunan tertutup berukuran raksasa yang membutuhkan sistem pendinginan dan pencahayaan sepanjang tahun.
Yasser Elsheshtawy, peneliti non-residen di Arab Gulf States Institute sekaligus profesor di Universitas Columbia, menilai ukuran bangunan yang sangat besar itu juga akan membutuhkan pasokan air dalam jumlah masif. Padahal, wilayah tersebut tergolong kawasan dengan sumber daya air yang terbatas.
Ia juga menyoroti bahwa proses konstruksi diperkirakan menghasilkan limbah dalam volume signifikan. Di sisi lain, distribusi material serta operasional gedung berpotensi meningkatkan emisi karbon. Karena itu, The Mukaab sejak awal dipandang tidak lepas dari tantangan lingkungan yang cukup serius.
Desain unik yang memicu kritik
Secara rancangan, The Mukaab sebelumnya digambarkan sebagai kubus logam berukuran 400 meter x 400 meter. Di dalamnya terdapat kubah dengan layar berbasis kecerdasan buatan atau AI terbesar di dunia.
Pengunjung direncanakan bisa menyaksikan tampilan tersebut dari sebuah struktur bertingkat yang menyerupai ziggurat setinggi lebih dari 300 meter di bagian dalam bangunan. Desain ini membuat The Mukaab tampil sebagai proyek yang sangat berbeda dari bangunan konvensional pada umumnya.
Meski begitu, desain Mukaab juga memicu kritik di media sosial sejak diresmikan. Salah satu sorotan utamanya adalah kemiripannya dengan Ka’bah, struktur suci di pusat Masjidil Haram di Mekkah yang menjadi situs paling suci bagi umat Islam.
Dengan status pembangunan yang kini dihentikan sementara, The Mukaab menambah daftar pertanyaan tentang masa depan megaproyek Arab Saudi di bawah Visi 2030. Di satu sisi, proyek ini tetap menyimpan ambisi besar sebagai simbol transformasi. Di sisi lain, tekanan finansial, prioritas belanja, dan isu keberlanjutan tampak ikut menentukan arah kelanjutannya.








