jurnalistik.co.id – Jepang sedang menguji pendekatan konseling yang tidak biasa untuk membantu mengatasi depresi di kalangan anak muda. Alih-alih menampilkan psikolog dengan wajah asli di layar, layanan ini menghadirkan avatar bergaya anime yang berbicara dengan suara asli yang diubah secara digital.
Gagasan tersebut datang dari psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang memimpin penelitian di Yokohama City University, Jepang. Panto mengatakan bahwa pengalaman masa mudanya ikut membentuk keyakinannya terhadap peran manga dan anime sebagai penopang emosional.
Sewaktu tinggal di pedesaan di Sisilia, Italia, ia mengaku kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan di daerah itu. Lingkungan tempat tinggalnya memiliki stereotip gender yang kuat dan membatasi cara seseorang mengekspresikan diri secara bebas.
“Manga dan anime sangat membantu saya… keduanya merupakan sarana yang sangat penting sebagai penopang emosional,” kata Panto, dikutip dari AFP, Sabtu (23/5/2026).
Pengalaman itu tidak berhenti pada manga dan anime saja. Panto menyebut dunianya berubah setelah bermain video game Final Fantasy. Ia merasa karakter laki-laki dalam game tersebut beresonansi dengan dirinya.
Setelah itu, Panto tinggal dan bekerja di Jepang. Dari situ, ia makin yakin bahwa anime dapat membawa manfaat besar bagi kesehatan mental orang lain, terutama bagi anak muda yang sedang berjuang menghadapi tekanan emosional.
Konseling berbasis karakter
Uji coba yang dipimpin Panto ini bertajuk character-based counselling atau konseling berbasis karakter. Program tersebut berlangsung selama enam bulan, dan tahap pertamanya selesai pada Maret 2026 lalu.
Tim peneliti mengumpulkan 20 peserta dengan rentang usia 18 sampai 29 tahun. Seluruh peserta memiliki gejala depresi dan menerima layanan konseling secara daring.
Yang membedakan pendekatan ini adalah cara psikolog berinteraksi dengan peserta. Mereka tidak tampil secara langsung dengan wajah asli, melainkan muncul di layar monitor dalam bentuk avatar anime, sementara suara asli mereka diubah secara digital.
Panto menyebut metode ini sebagai “filter of fantasy”. Ia meyakini pendekatan tersebut dapat membuat pikiran pasien menjadi lebih tenang, lebih nyaman, dan lebih mudah mengenali masalah diri mereka sendiri.
Melalui uji coba ini, tim peneliti ingin melihat apakah dugaan itu benar-benar dapat diperkuat oleh hasil penelitian. Dengan kata lain, avatar anime tidak sekadar menjadi tampilan visual yang menarik, tetapi juga didorong untuk berperan sebagai medium yang membantu peserta membuka diri.
Enam karakter anime
Dalam studi ini, tim peneliti membuat enam karakter anime yang berbeda. Setiap karakter disusun berdasarkan arketipe yang sering muncul dalam manga Jepang, dengan masalah mental yang spesifik.
Para peserta diberi kebebasan untuk memilih karakter yang paling mereka sukai. Dengan begitu, proses konseling tidak terasa seragam, melainkan memberi ruang bagi peserta untuk merasa lebih dekat dengan sosok yang mereka pilih.
“Saya berusaha menanamkan pergulatan batin tertentu pada setiap karakter. Salah satu karakternya bernama Kuroto Nagi. Dia memiliki ciri-ciri kepribadian bipolar,” ucap Panto.
Meskipun membawa tema kesehatan mental, avatar-avatar itu tetap dirancang dengan konsep yang menyenangkan. Di awal sesi, psikolog akan menceritakan latar belakang karakter tanpa menunjukkan masalah kesehatan mental secara berlebihan.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa penelitian ini tidak sekadar memindahkan konseling ke ruang digital. Ada upaya untuk membangun suasana yang terasa aman, ringan, dan akrab bagi peserta yang mungkin lebih nyaman berbicara melalui karakter fiksi ketimbang langsung dengan sosok profesional yang tampil secara formal.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental anak muda, uji coba di Jepang ini menjadi salah satu contoh bagaimana budaya populer dipadukan dengan layanan psikologis. Dalam format ini, anime bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana untuk menjembatani percakapan yang mungkin lebih sulit dibuka dalam situasi konseling biasa.
Hasil uji coba tersebut diharapkan bisa memberi gambaran lebih jelas tentang seberapa jauh avatar anime mampu membantu peserta merasa lebih tenang saat membicarakan masalah mereka. Bagi Panto dan timnya, metode ini membuka kemungkinan baru dalam cara layanan kesehatan mental dirancang untuk generasi muda.






