Internasional

AS-Iran Makin Dekat ke Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Masih Jadi Ganjalan

3
×

AS-Iran Makin Dekat ke Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Masih Jadi Ganjalan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: AS-Iran Dekati Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Jadi Batu Sandungan

jurnalistik.co.id – GLOBAL — Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan sinyal yang lebih positif dalam upaya meredakan konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Namun, jalan menuju kesepakatan damai belum sepenuhnya mulus karena masih ada dua isu besar yang belum menemukan titik temu, yakni stok uranium Iran yang diperkaya dan pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (23/5/2026), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyebut sudah ada “tanda-tanda baik” menuju kesepakatan damai. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kesepakatan akan sulit terwujud jika Iran tetap berupaya mengendalikan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz secara permanen.

“Tidak ada pihak di dunia yang mendukung sistem tarif atau pungutan di jalur itu. Itu tidak bisa diterima,” kata Rubio. Pernyataan itu menegaskan bahwa isu Selat Hormuz masih menjadi penghalang utama, bahkan ketika pembicaraan diplomatik disebut mulai bergerak ke arah yang lebih konstruktif.

Rubio juga menyinggung bahwa Presiden AS Donald Trump memiliki opsi lain apabila perundingan tidak menghasilkan kesepakatan yang dianggap memadai. Namun, ia tidak merinci langkah yang dimaksud. Di sisi lain, pernyataan Rubio muncul setelah Iran mengisyaratkan bahwa proposal terbaru dari Amerika Serikat telah membawa kedua pihak lebih dekat ke kesepakatan damai.

Media semi-resmi Iran, Iranian Students’ News Agency (ISNA), melaporkan bahwa proposal Washington telah mempersempit sejumlah perbedaan posisi. Meski demikian, menurut Iran, kemajuan lebih lanjut tetap bergantung pada berakhirnya ancaman perang dari pihak Amerika Serikat.

Iran saat ini disebut masih meninjau usulan terbaru Washington. Pembahasan juga berlangsung dengan mengacu pada kerangka 14 poin yang sebelumnya diajukan Teheran, yang menjadi salah satu acuan penting dalam proses negosiasi yang berjalan berlapis dan sensitif itu.

Selat Hormuz jadi titik krusial

Pembicaraan damai dalam beberapa pekan terakhir berjalan lambat. Kedua pihak masih berada dalam situasi gencatan senjata yang rapuh, sementara Iran tetap membatasi akses Selat Hormuz dan Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Ketegangan juga meningkat setelah muncul laporan mengenai pembicaraan Iran dan Oman terkait kemungkinan pembangunan sistem pembayaran untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menolak gagasan tersebut dan menegaskan bahwa jalur laut internasional itu harus tetap terbuka.

“Kami ingin jalur itu tetap terbuka dan bebas. Kami tidak ingin ada pungutan. Itu jalur perairan internasional,” kata Trump kepada wartawan. Selat Hormuz yang berada di antara Iran dan Oman memang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia, sehingga setiap pembicaraan soal akses dan pengaturannya langsung memantik perhatian luas.

Di tengah sinyal positif dari masing-masing pihak, perbedaan soal uranium, ancaman perang, dan kontrol atas Selat Hormuz membuat proses damai masih rentan. Karena itu, meski ada indikasi kemajuan, jalan menuju kesepakatan tetap bergantung pada apakah kedua negara mampu menjembatani isu-isu yang sejak awal menjadi sumber utama kebuntuan.

GLOBAL — Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan sinyal yang lebih positif dalam upaya meredakan konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Namun, jalan menuju kesepakatan damai belum sepenuhnya mulus karena masih ada dua isu besar yang belum menemukan titik temu, yakni stok uranium Iran yang diperkaya dan pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (23/5/2026), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyebut sudah ada “tanda-tanda baik” menuju kesepakatan damai. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kesepakatan akan sulit terwujud jika Iran tetap berupaya mengendalikan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz secara permanen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *