Bisnis & Ekonomi

BYAN Turun Tajam Imbas Force Majeure, Net Sell Asing Rp111,7 Miliar – Market

×

BYAN Turun Tajam Imbas Force Majeure, Net Sell Asing Rp111,7 Miliar – Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saham BYAN Rontok Usai Force Majeure, Dilepas Asing Miliaran - Market

jurnalistik.co.id – Perdagangan saham PT Bayan Resources (BYAN) di awal sesi Selasa (15/9/2026) kembali diwarnai koreksi. Pergerakan ini muncul setelah perusahaan yang dikendalikan Low Tuck Kwong melaporkan force majeure atau keadaan kahar terkait RKAB batu bara.

Di lantai bursa pada pukul 09.13 WIB, saham BYAN melemah 5,41% ke level Rp10.500 per saham. Sesaat setelah perdagangan dibuka, harga bahkan sempat menyentuh level terendah harian di Rp10.200 per saham.

Di momen awal tersebut, aktivitas perdagangan juga tercatat mulai bergerak. Setelah sekitar 10 menit sesi pertama, nilai transaksi BYAN berada di kisaran Rp3 miliar dengan volume mencapai 2,84 ribu lot saham.

Koreksi setelah pengumuman force majeure

Menurut informasi yang mendasari pergerakan hari ini, koreksi saham BYAN terjadi setelah perusahaan menyampaikan adanya force majeure terkait RKAB batu bara. Laporan tersebut menjadi pemicu perhatian pelaku pasar ketika perdagangan memasuki fase awal.

Dengan harga yang turun dari level pembukaan menuju kisaran Rp10.500 per saham, dinamika pergerakan menunjukkan tekanan jual yang terjadi selama jam-jam awal perdagangan. Penurunan yang sempat menyentuh Rp10.200 per saham memperlihatkan fluktuasi harga yang cepat di awal sesi.

Catatan pergerakan pada jam 09.13 WIB menjadi rujukan penting untuk melihat arah perdagangan pada periode pembukaan. Pada saat itu, saham BYAN berada dalam tren pelemahan sebesar 5,41% dibanding posisi sebelumnya.

Arus jual asing selama satu bulan

Selain pergerakan harga pada sesi pagi, arus dari investor asing juga tercatat memberi tekanan melalui pasar reguler. Selama satu bulan terakhir, investor asing mencatat net sell sekitar Rp111,7 miliar pada saham BYAN.

Data net sell tersebut menggambarkan bahwa dalam periode berjalan, posisi asing di BYAN cenderung keluar dibanding masuk. Dengan adanya arus jual pada pasar reguler selama sebulan, sentimen di awal sesi kerap ikut terbawa pada pergerakan harga saat perdagangan baru dimulai.

Gabungan antara pelemahan harga pada pagi hari dan catatan net sell asing selama sebulan terakhir menjadi konteks yang perlu dipahami ketika BYAN menghadapi isu terkait force majeure RKAB batu bara. Dari sisi pergerakan harian, harga bergerak turun sampai mendekati Rp10.200 per saham sebelum kembali berada di level Rp10.500 pada pukul 09.13 WIB.

Secara keseluruhan, perdagangan pagi ini memperlihatkan bahwa BYAN sedang berada dalam fase koreksi yang berlangsung setelah pelaporan keadaan kahar terkait RKAB batu bara. Pada saat yang sama, data arus dana asing selama satu bulan terakhir menunjukkan net sell yang besarnya mencapai Rp111,7 miliar di pasar reguler.

Dengan nilai transaksi sekitar Rp3 miliar dan volume 2,84 ribu lot dalam kurun 10 menit awal, pasar masih membentuk ekspektasi baru atas informasi yang disampaikan perusahaan. Pergerakan yang terjadi sejak pembukaan hingga menit-menit awal sesi menunjukkan respon langsung pelaku pasar terhadap pengumuman tersebut.

Adapun pada perdagangan pukul 09.13 WIB, saham BYAN berada pada pelemahan 5,41% ke Rp10.500 per saham, sementara sempat mencatat titik terendah di Rp10.200 per saham setelah sesi dibuka. Pada periode yang sama, transaksi telah terkumpul sekitar Rp3 miliar dengan aktivitas mencapai 2,84 ribu lot.

Informasi seputar force majeure terkait RKAB batu bara dan catatan net sell asing menjadi dua faktor yang menonjol dari data yang tersedia dalam laporan ini. Keduanya menjadi latar ketika perdagangan pagi Selasa (15/9/2026) berjalan dan harga saham BYAN berada dalam fase koreksi.