Bisnis & Ekonomi

Deretan Saham Eks Gocap ARB Berlanjut Dua Hari Berturut-turut – Market

×

Deretan Saham Eks Gocap ARB Berlanjut Dua Hari Berturut-turut – Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Deretan Saham Eks Gocap Lanjut ARB Dua Hari Berturut-turut - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah di zona merah pada Selasa (29/9/2026), bahkan sempat turun hingga lebih dari 2% dan menyentuh 6.013.

Pelemahan ini menguat menyusul pembaruan batas harga saham terendah (floor price) untuk saham “gocap” yang resmi bergeser dari Rp50 menjadi Rp1 oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dengan perubahan tersebut, pasar membuka peluang terbentuknya harga baru yang lebih rendah di level Rp1, khususnya bagi emiten yang sebelumnya bertahan di rentang batas harga tersebut.

Perombakan rentang harga membuat saham yang sebelumnya sudah berada di level gocap berpotensi bergerak turun hingga menyentuh Rp1, yang kini menjadi batas harga saham terendah terbaru.

Potensi penurunan sampai level Rp1 akan semakin terbuka lebar apabila antrean jual terkumpul dalam jumlah besar.

Di kondisi seperti itu, tekanan jual dikhawatirkan merembet ke indeks, sehingga IHSG ikut terdesak dan tetap berada pada laju pelemahan.

Dalam konteks perdagangan hari itu, sentimen perubahan mekanisme harga juga berpotensi menambah dinamika pergerakan pada saham-saham berharga rendah.

Pasalnya, penyesuaian rentang harga tidak hanya memengaruhi level kuotasi, tetapi juga memengaruhi bagaimana transaksi berlangsung ketika pasar merespons arus jual.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai dampak perubahan tersebut dapat terlihat pada volatilitas yang meningkat pada saham-saham berharga rendah.

“Perubahan ini berpotensi meningkatkan volatilitas, khususnya pada saham berharga rendah, seiring penyesuaian rentang harga dan mekanisme Auto Rejection,” terang BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Selasa (29/9/2026).

Penekanan pada volatilitas muncul karena mekanisme perdagangan ikut mengalami penyesuaian, termasuk terkait Auto Rejection yang bekerja saat pasar berada dalam kondisi tertentu ketika penawaran dan permintaan bertemu pada batas-batas harga yang berlaku.

Ketika rentang harga berubah, respons pasar bisa menjadi lebih cepat dan pergerakannya lebih tajam, terutama pada saham yang berada pada kategori nilai rendah.

Di tengah pelemahan IHSG, perhatian pasar juga mengarah pada sejumlah saham eks gocap ARB yang berpotensi mengalami penurunan setelah status batas harga saham gocap dilepas dan diperbarui.

Berdasarkan informasi yang disebutkan, perubahan ini membuat 8 saham ARB berpotensi turun seiring peluang terbentuknya harga di level Rp1.

Situasi tersebut berpotensi memunculkan gelombang penyesuaian harga pada hari-hari berikutnya apabila arus jual masih terpantau dominan.

Secara teknis, pergeseran floor price dari Rp50 ke Rp1 memberi ruang bagi pasar untuk menemukan harga baru yang lebih rendah, terutama jika pelaku pasar menilai tidak ada insentif untuk bertahan di level sebelumnya.

Jika antrean jual semakin padat, peluang sentuhan level Rp1 menjadi lebih besar, dan proses penetapan harga pun bisa terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi dibanding periode saat batas harga masih Rp50.

Dari sisi indeks, tekanan yang muncul pada saham-saham tertentu berpotensi turut memengaruhi komposit pergerakan IHSG.

Ketika sejumlah saham bergerak lebih dalam di bawah pengaruh pembaruan batas harga, sentimen negatif yang terakumulasi dapat menekan indeks hingga tetap bertahan dalam zona koreksi.

Dengan latar tersebut, pelaku pasar tampaknya akan lebih memperhatikan perkembangan perdagangan pada saham-saham berstatus eks gocap, termasuk bagaimana mekanisme transaksi memantul pada perubahan rentang harga.

Selain memantau arah pergerakan, perhatian juga tertuju pada seberapa kuat antrian jual dan seberapa cepat pasar menyesuaikan harga setelah pembaruan floor price menjadi Rp1.

Dalam periode penyesuaian seperti ini, pergerakan IHSG juga bisa mengalami fluktuasi karena respons pasar tidak hanya bersumber dari arah harga, tetapi juga dari mekanisme perdagangan yang bekerja saat volatilitas meningkat.

Karena itu, dinamika berikutnya kemungkinan akan ditentukan oleh kelanjutan arus jual serta kemampuan pasar menemukan titik keseimbangan baru di tengah rentang harga yang sudah diperbarui.