Bisnis & Ekonomi

Emas Dunia Merosot 3,68% ke US$4.127,3: Jual atau Beli?

×

Emas Dunia Merosot 3,68% ke US$4.127,3: Jual atau Beli?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Emas Ambrol Hampir 4%, Pilih Jual atau Beli? - Market

jurnalistik.co.id – Harga emas dunia melemah tajam pada perdagangan terakhir, menyusul menguatnya harga minyak yang menekan daya tarik aset berbasis komoditas.

Pada Senin (28/9/2026), emas di pasar spot ditutup pada level US$ 4.127,3 per troy ons. Angka itu menunjukkan penurunan 3,68% dibanding posisi penutupan akhir pekan lalu.

Pergerakan turun tersebut menjadikan level terbaru sebagai yang terendah sejak 5 Agustus. Penurunan yang cukup dalam ini ikut mempertegas volatilitas di tengah berbagai sentimen makro yang saling bertaut.

Minyak menguat, tekanan berpindah ke emas

Kenaikan harga energi menjadi salah satu pemicu utama melemahnya emas. Minyak mentah jenis Brent ditutup naik 1,6% ke US$ 105,99 per barel pada kemarin.

Ketika biaya energi meningkat, perhatian pasar biasanya ikut bergeser ke risiko inflasi dan jalur kebijakan moneter. Dalam kondisi seperti itu, emas cenderung kehilangan momentum karena minat terhadap aset lindung nilai dapat terpengaruh oleh ekspektasi suku bunga.

Rangkaian sentimen ini membuat emas bergerak berlawanan arah dengan beberapa komponen pasar yang merespons energi. Dengan demikian, penguatan minyak berperan sebagai arus negatif yang memperburuk tekanan jual pada logam mulia.

Ketegangan Timur Tengah ikut membentuk sentimen

Selain faktor energi, dinamika di Timur Tengah turut memengaruhi harga komoditas, termasuk emas. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak menghasilkan kemajuan berarti.

Fokus utama yang disebut terkait perkembangan ini adalah isu pembukaan kembali Selat Hormuz. Ketika arah negosiasi tidak menunjukkan hasil signifikan, pasar cenderung menilai risiko geopolitik tetap terbuka, yang kemudian tercermin pada pergerakan harga energi.

Sentimen semacam itu bekerja tidak langsung, tetapi melalui ekspektasi terhadap biaya energi dan potensi tekanan harga di berbagai sektor ekonomi. Pada akhirnya, rantai pengaruhnya kembali sampai ke kondisi inflasi dan persepsi terhadap kebijakan bank sentral.

Dengan minyak yang menguat dan ketidakpastian kawasan yang bertahan, pelaku pasar mendapatkan sinyal bahwa tekanan pada komoditas energi masih dominan. Situasi inilah yang menambah berat langkah emas di perdagangan spot.

Implikasi bagi inflasi dan peluang kenaikan suku bunga

Bagian berikutnya menyoroti keterkaitan antara harga energi yang lebih tinggi dan tantangan untuk meredam inflasi. Disebutkan bahwa apabila harga energi terus meninggi, dunia akan sulit keluar dari jeratan inflasi.

Konsekuensinya, bank sentral di berbagai negara tidak memiliki ruang gerak yang luas kecuali menaikkan suku bunga acuan. Pernyataan ini bersifat konsekuensi dari skenario energi yang berlanjut, sehingga memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter.

Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan umumnya menjadi faktor yang ikut menekan emas. Dalam banyak rezim pasar, imbal hasil instrumen berbasis pendapatan tetap akan lebih menarik dibanding aset yang tidak memberi kupon.

Ketika sentimen suku bunga menguat bersamaan dengan dorongan dari energi, ruang bagi emas untuk kembali pulih cenderung menyempit. Bahkan bila permintaan fisik masih ada, laju perubahan sentimen makro dapat membuat harga bergerak lebih lemah dalam jangka pendek.

Dengan penutupan pada US$ 4.127,3 per troy ons dan penurunan 3,68% dalam satu periode, pasar seperti sedang menilai kembali posisi risiko. Level terendah sejak 5 Agustus menjadi penanda bahwa tekanan jual tidak sekadar sesaat, melainkan terlihat cukup terstruktur.

Di saat yang sama, kegagalan negosiasi yang menyinggung Selat Hormuz mempertahankan nuansa ketidakpastian. Unjuk sentimen ini kemudian menyambung ke penguatan Brent dan pada gilirannya kembali memberi beban pada logam mulia.

Secara keseluruhan, melemahnya emas mencerminkan pertemuan beberapa faktor: minyak yang bergerak naik, dinamika negosiasi AS-Iran yang tidak membawa terobosan signifikan, serta kekhawatiran terhadap inflasi yang berpotensi mendorong kebijakan suku bunga. Kombinasi inilah yang pada akhirnya membawa harga emas turun ke level yang terpantau terendah sejak awal Agustus.