Bisnis & Ekonomi

Haji Isam Caplok Saham Bayan, PT Jhonlin Baratama Siapkan Rp 26,09 Triliun

×

Haji Isam Caplok Saham Bayan, PT Jhonlin Baratama Siapkan Rp 26,09 Triliun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Caplok Saham Bayan, Perusahaan Haji Isam Rogoh Rp 26,09 Triliun

jurnalistik.co.id – PT Jhonlin Baratama mengakuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Dato’ Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low. Aksi korporasi ini dilakukan lewat Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS), dengan nilai mencapai Rp26,09 triliun.

Menurut keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jhonlin Baratama membeli 10.084.088.370 saham BYAN. Jumlah itu setara dengan 30,25% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah penyelesaian transaksi.

Transaksi tercatat pada tanggal 8 Oktober 2026. Dalam dokumen yang disampaikan manajemen BYAN, harga transaksi yang dilaporkan disebut berada jauh dari harga pasar, yakni sebesar Rp2.588 per saham.

Berdasarkan perhitungan nilai transaksi tersebut, Jhonlin Baratama merogoh kocek Rp26.097.380.221.560 untuk akuisisi saham yang diputuskan. Manajemen BYAN menyebut rincian tersebut sebagai bagian dari pelaporan perubahan kepemilikan saham.

“Berdasarkan Laporan Kepemilikan atau Setiap Perubahan Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka No. LK/08102026/0008/1 dan No. LK/08102026/0006/1 tertanggal 8 Oktober 2026, kami mencatat bahwa harga transaksi yang dilaporkan adalah sebesar Rp 2.588 per saham,” tulis manajemen BYAN, Selasa (13/10/2026).

Rangkaian pelepasan saham

Manajemen BYAN juga mengungkapkan bahwa transaksi yang dilakukan Low Tuck Kwong dan Elaine Low berlangsung dalam periode 14 September hingga 8 Oktober 2026. Dalam periode tersebut, tercatat tiga transaksi yang melibatkan pelepasan saham oleh pihak-pihak terkait.

Transaksi pertama dilakukan oleh Low Tuck Kwong selaku Direktur Utama melalui pelepasan 33.333.335 saham pada 6 Oktober 2026. Selanjutnya, Elaine Low selaku Pemegang Saham Utama melepas 16.666.667 saham pada 7 Oktober 2026.

Pada hari yang sama, Low Tuck Kwong kembali melepas 10.067.421.703 saham pada 7 Oktober 2026. Dengan demikian, total tiga transaksi mencapai 10.117.421.705 saham.

Angka total tersebut disebut berbeda tipis dibandingkan angka 10.117.621.705 saham yang dikutip BEI. Dalam laporan yang disampaikan, tidak terdapat penjelasan lebih lanjut mengenai selisih tersebut.

Komitmen tanpa perubahan rencana usaha

Selain memaparkan angka transaksi, manajemen BYAN menegaskan tidak ada perubahan terhadap rencana pengembangan kegiatan usaha perseroan. Perseroan, menurut keterbukaan informasi itu, akan tetap berfokus pada keberlangsungan serta pengembangan usaha utama sesuai strategi dan rencana bisnis yang telah ditetapkan.

Untuk operasional anak perusahaan, BYAN menyebut kegiatan pertambangan telah menerima persetujuan perubahan RKAB dan beroperasi. Perseroan juga berupaya mencapai target produksi sebagaimana tercantum di RKAB.

Manajemen menegaskan hingga saat ini belum terdapat perubahan atas rencana belanja modal, investasi, ekspansi, diversifikasi usaha, serta/atau kerja sama strategis perseroan. Pernyataan ini menegaskan bahwa akuisisi saham oleh pihak pembeli tidak otomatis mengubah arah rencana yang sebelumnya sudah dirumuskan.

“Hingga saat ini, belum terdapat pembahasan antara Perseroan dan PT Jhonlin Baratama sehubungan dengan potensi sinergi antara Perseroan dengan PТ Jhonlin Baratama,” sebut manajemen dalam dokumen yang disampaikan.

Dari sisi struktur kepemilikan, transaksi yang memindahkan 30,25% saham BYAN ini membuat Jhonlin Baratama menjadi pemegang porsi besar dalam modal ditempatkan dan disetor perseroan. Namun, manajemen BYAN tetap menempatkan informasi akuisisi sebagai perubahan kepemilikan, sembari menyatakan rencana usaha inti tidak mengalami penyesuaian.

Dengan adanya pelaporan harga Rp2.588 per saham dan nilai total Rp26.097.380.221.560, informasi ini turut memberi gambaran mengenai basis transaksi yang dilaporkan kepada publik. Rangkaian tiga pelepasan saham dalam rentang 14 September hingga 8 Oktober 2026 kemudian menjadi konteks utama pencapaian total saham yang dibeli dalam transaksi tersebut.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan, fokus pelaporan tidak hanya pada perpindahan kepemilikan saham BYAN, tetapi juga pada basis angka yang digunakan dalam transaksi. Perincian harga yang dilaporkan, yakni Rp2.588 per saham, kemudian dipadankan dengan nilai transaksi total yang tercatat mencapai Rp26.097.380.221.560, sebagai rujukan administrasi atas perubahan kepemilikan pada 8 Oktober 2026.

Di sisi lain, dokumen tersebut juga memperlihatkan bahwa proses pelepasan saham oleh pihak terkait berlangsung bertahap selama rentang 14 September hingga 8 Oktober 2026. Manajemen BYAN mencatat adanya tiga transaksi pelepasan, dengan akumulasi saham yang disebutkan sebesar 10.117.421.705 saham, meski angka yang dikutip BEI berada sangat dekat pada 10.117.621.705 saham. Selisih yang tipis itu tidak dijelaskan lebih lanjut dalam keterangan yang sama.

Bersamaan dengan penyampaian angka-angka tersebut, manajemen BYAN menegaskan bahwa pelaporan perubahan kepemilikan tidak disertai perubahan rencana usaha. Perseroan menyatakan kegiatan operasional dan target yang tertuang dalam RKAB tetap menjadi acuan, sementara rencana belanja modal, investasi, ekspansi, diversifikasi, maupun kerja sama strategis disebut belum mengalami penyesuaian. Dalam dokumen yang disampaikan, perusahaan juga menyebut belum ada pembahasan terkait potensi sinergi dengan pihak pembeli.