Bisnis & Ekonomi

Rupiah Melemah, Tertahan Harga Minyak oleh Sentimen Hawkish The Fed

×

Rupiah Melemah, Tertahan Harga Minyak oleh Sentimen Hawkish The Fed

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Melemah, Tersengat Sentimen Hawkish The Fed - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah melemah pada awal perdagangan pagi ini. Bloomberg Technoz mencatat, mata uang domestik dibuka di level Rp17.689 per US$. Namun, tak lama berselang, pada 09.03 WIB rupiah terdepresiasi 0,22% menjadi Rp17.730 per US$, seiring harga energi yang kembali menguat dan membentuk ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Perubahan sentimen tersebut terlihat dari proyeksi pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat. Data Bloomberg menunjukkan median estimasi survei memperkirakan Fed Fund Rate (FFR) akan terkerek berada di kisaran 3,75% sampai 4,00%.

Ekspektasi hawkish itu semakin menguat karena inflasi AS dinilai masih membandel. Kondisi tersebut mendorong anggapan bahwa The Fed kali ini perlu benar-benar menaikkan suku bunga acuannya, bukan sekadar mempertahankan arah kebijakan yang ada.

Perkiraan tersebut tercermin pula pada mekanisme FedWatch. Berdasarkan FedWatch, pelaku pasar menyepakati bahwa The Fed akan mengerek FFR, dengan prakiraan bulat 100%.

Dari sisi eksternal, ketatnya sentimen dari pasar suku bunga tidak berdiri sendiri. Inflasi AS juga merembet ke pasar kawasan lain, terutama melalui pergerakan komoditas energi. Brent kembali naik hingga menyentuh US$108 per barel, sehingga tekanan terhadap mata uang kawasan turut meningkat.

Efeknya tampak pada perbandingan kinerja beberapa mata uang Asia terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,52% lebih dulu, disusul pelemahan pada yen Jepang, dan rupiah ikut tertekan. Sementara itu, pelemahan pada dolar Taiwan, dolar Singapura, dan baht Thailand relatif lebih terbatas pada pagi ini.

Di tengah pelemahan mayoritas mata uang kawasan, hanya ada satu pengecualian yang menonjol. Peso Filipina tercatat menguat pada saat yang sama, berbeda arah dibandingkan mata uang Asia lainnya.

Tekanan hawkish mulai terasa di mata uang Asia

Dalam beberapa hari terakhir, pergerakan mata uang Asia menunjukkan pola tekanan hawkish yang semakin terasa. Yen Jepang, dolar Taiwan, won Korea Selatan, termasuk rupiah, menjadi mata uang dengan kinerja terlemah terhadap dolar AS. Dengan kata lain, faktor ekspektasi kebijakan The Fed tampak lebih dominan dalam membentuk arah transaksi mata uang regional.

Adapun rupiah sendiri bergerak dalam kerangka yang sama: pelemahan terjadi ketika pasar menilai prospek suku bunga The Fed cenderung meningkat, sementara harga minyak ikut menguat dan menambah beban sentimen. Pada titik waktu yang disebutkan, rupiah turun dari posisi awal pembukaan menuju level Rp17.730 per US$, menandai respons pasar yang cepat terhadap gabungan pemicu tersebut.

Dengan Brent yang kembali naik ke US$108 per barel, pasar tidak hanya merespons arus sentimen suku bunga dari AS, tetapi juga membaca implikasi energi terhadap kondisi ekonomi dan aliran sentimen di kawasan. Kombinasi ini membuat pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan pelemahan mata uang Asia lain yang lebih sensitif terhadap perubahan harga komoditas dan ekspektasi kebijakan global.

Secara keseluruhan, dinamika pagi ini memperlihatkan bagaimana ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed—yang didorong oleh inflasi AS yang dianggap membandel dan didukung prakiraan FedWatch 100%—bertemu dengan penguatan harga energi yang mendorong Brent ke US$108 per barel. Dari sana, pasar akhirnya tercermin pada pelemahan beragam mata uang di Asia, dengan rupiah yang ikut tertekan sejak menit-menit awal perdagangan.

Pergerakan tersebut juga menggambarkan respons berlapis pelaku pasar: ketika sinyal kebijakan AS bergeser menjadi lebih ketat, penetapan harga ikut merembet ke transaksi mata uang Asia. Pada saat yang sama, dorongan dari penguatan energi membuat ruang pelemahan menjadi lebih luas, termasuk pada rupiah.

Di antara pergerakan beragam, pola ā€œlebih terbatasā€ pada beberapa mata uang turut menegaskan adanya perbedaan sensitivitas terhadap perubahan sentimen global. Sentimen hawkish yang disertai kenaikan Brent menjadi pemantik utama, sementara peso Filipina menjadi pengecualian karena bergerak menguat di saat mayoritas mata uang lain melemah.

Dengan demikian, pagi ini memperlihatkan bahwa arah mata uang kawasan tidak berdiri pada satu pemicu tunggal. Kombinasi ekspektasi kenaikan FFR yang dibaca semakin hawkish, inflasi AS yang dinilai membandel, serta Brent yang kembali naik hingga sekitar US$108 per barel, ikut membentuk bias pelemahan yang terlihat sejak awal perdagangan.