Bisnis & Ekonomi

Biaya utang AS tembus level tertinggi sejak 2007, dipicu lonjakan harga minyak

×

Biaya utang AS tembus level tertinggi sejak 2007, dipicu lonjakan harga minyak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US borrowing costs hit highest level since 2007 as oil prices jump

jurnalistik.co.id – Lonjakan harga minyak telah mendorong biaya pinjaman pemerintah Amerika Serikat naik ke level tertinggi sejak 2007, menajamkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun—yang dikenal sebagai 10-year Treasury yield—sempat menanjak hingga 5,04% sebelum kemudian mereda. Pergerakan ini terjadi di tengah tren kenaikan imbal hasil yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Kenaikan imbal hasil global tersebut, menurut pemberitaan, dipicu oleh kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi sejak awal konflik AS-Israel yang terkait dengan Iran dapat berujung pada inflasi yang lebih tinggi. Jika inflasi meningkat, biaya pinjaman cenderung ikut terangkat karena tingkat bunga yang diminta investor menjadi lebih besar.

Perang harga minyak dan sinyal dari pasar obligasi

Pada hari Selasa, harga patokan minyak mentah grosir dunia naik melewati 109 dolar per barel. Angka ini bergerak dari kisaran sekitar 86 dolar per barel pada akhir Agustus, setelah muncul kembali kekhawatiran soal kemampuan Arab Saudi untuk mengekspor minyak di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.

Lonjakan energi itu turut membentuk ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter. Investor menantikan keputusan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, untuk menaikkan suku bunga guna meredam inflasi yang dinilai bertambah akibat harga minyak yang lebih tinggi.

Namun, Presiden Donald Trump menolak kenaikan suku bunga. Ia telah lama berpendapat suku bunga yang lebih rendah baik untuk mendorong perekonomian, serta pernah berselisih dengan pendahulu Warsh, Jerome Powell, ketika Powell memilih tidak memotong suku bunga.

Intervensi di sisi obligasi

Di tengah dinamika itu, AS juga melakukan pembelian kembali obligasi sebagai upaya menekan imbal hasil Treasury. Sekretaris Keuangan Scott Bessent menyebut langkah intervensi tersebut “successful”. Pernyataan tersebut menggambarkan adanya upaya untuk memengaruhi arah yield agar tidak terus melonjak.

Secara umum, imbal hasil obligasi pemerintah sering dibaca sebagai dua hal sekaligus: pertama, seberapa besar tekanan inflasi dan ekspektasi suku bunga di masa depan; kedua, sejauh mana investor memiliki keyakinan terhadap kebijakan dan kondisi finansial suatu pemerintahan. Yield yang lebih tinggi biasanya dibarengi persepsi kepercayaan yang menurun atau biaya risiko yang lebih mahal bagi peminjam negara.

Persaingan pendanaan dan dorongan dari sektor teknologi

Selain faktor suku bunga dan inflasi, persaingan kebutuhan utang dari perusahaan-perusahaan teknologi—terutama yang bergerak di ekosistem kecerdasan buatan (AI)—turut disebut menjadi pendorong naiknya imbal hasil. Raksasa teknologi disebut meminjam dalam jumlah besar untuk membangun pusat data berkapasitas tinggi.

Model pendanaan semacam itu, menurut penjelasan dalam laporan, dapat menaikkan tingkat bunga yang dikenakan pada utang perusahaan teknologi. Kenaikan biaya pinjaman di sektor tersebut lantas memberikan efek lanjutan terhadap imbal hasil obligasi pemerintah, karena kondisi pendanaan menjadi semakin mahal secara luas.

Carol Schleif, kepala strategi pasar di BMO Wealth Management, mengatakan pasar obligasi sudah memberi sinyal selama beberapa minggu bahwa suku bunga yang lebih tinggi mungkin diperlukan. Ia menilai kenaikan biaya pinjaman tahun ini berjalan “orderly”, bukan pergerakan mendadak.

Meski demikian, Schleif menambahkan bahwa suku bunga berpotensi tetap berada pada level yang tinggi bila faktor geopolitik dan harga energi yang tinggi terus menjadi perhatian utama, sebagaimana ia sebut “front and center”. Artinya, selama risiko dari ketegangan kawasan dan biaya energi belum mereda, pasar cenderung mempertahankan ekspektasi bunga yang lebih ketat.

Dengan kombinasi lonjakan harga minyak, perbedaan sikap politik terhadap suku bunga, serta tekanan kebutuhan pendanaan sektor teknologi, pasar obligasi tampak semakin sensitif terhadap perubahan kecil pada prospek inflasi dan kebijakan moneter. Kondisi itu tercermin dari bagaimana yield sempat menembus 5,04% namun kemudian mereda, menandakan adanya tarik-menarik antara ekspektasi kenaikan bunga dan upaya penyangga dari sisi kebijakan.

Latar tersebut membuat biaya pinjaman pemerintah tetap menjadi barometer penting bagi pelaku pasar. Kenaikan hingga level tertinggi sejak 2007 menjadi sinyal bahwa kombinasi faktor energi, inflasi, dan kompetisi modal masih membentuk arah biaya utang negara dalam waktu dekat.