jurnalistik.co.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam evaluasi aktivitas Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, mencatat adanya peningkatan aktivitas kegempaan. Dalam periode 16–30 April, rata-rata kejadian gempa vulkanik dangkal tercatat naik menjadi 21 kejadian per hari, lebih tinggi dibanding periode sebelumnya yang rata-ratanya 15 kejadian per hari.
Pelaksana Tugas Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa kondisi gempa vulkanik dangkal saat ini mengalami peningkatan dibanding periode sebelumnya. Ia menyebut bahwa peningkatan ini tercermin dari hasil evaluasi aktivitas Gunung Awu, yang laporan diterima di Manado pada Kamis. Dengan adanya perubahan pada frekuensi kejadian, evaluasi terhadap pola kegempaan dan pengamatan lapangan menjadi penting untuk membaca dinamika aktivitas yang tengah berlangsung.
Periode pemantauan April
Pada periode evaluasi 16–30 April, terekam sebanyak 314 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 15 kali gempa vulkanik dalam (VA), empat kali gempa tektonik lokal (TL), serta 333 kali gempa tektonik jauh (TJ). Secara umum, rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas tidak hanya tampak dari jenis gempa tertentu, melainkan juga diikuti oleh kejadian lain yang saling melengkapi dalam catatan seismik.
Secara perbandingan, pada periode evaluasi 1–15 April 2026 tercatat 257 kali gempa vulkanik dangkal (VB) atau rata-rata 17 kejadian per hari. Pada periode yang sama, juga teramati 29 kali gempa vulkanik dalam (VA), tiga kali gempa tektonik lokal (TL), empat kali gempa terasa dengan skala I–III MMI, serta 747 kali gempa tektonik jauh (TJ). Perbedaan jumlah kejadian di dua rentang waktu tersebut menjadi salah satu indikator adanya perubahan tingkat aktivitas yang sedang dievaluasi oleh pihak berwenang.
Selain menghitung jumlah kejadian, evaluasi juga melihat energi gempa secara keseluruhan melalui nilai perataan amplitudo rekaman gempa RSAM (Real Time Seismic Amplitude Measurement). Dari hasil yang disebutkan, nilai RSAM menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Dengan demikian, gambaran aktivitas tidak bersifat monoton, melainkan bergerak naik-turun mengikuti dinamika yang terekam dalam data pemantauan.
Pengamatan visual kawah dan hembusan asap
Di sisi pengamatan lapangan, Badan Geologi menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatan visual, kawah Gunung Awu tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak awal bulan Juli 2024. Informasi ini penting karena menunjukkan bahwa peningkatan kegempaan tidak otomatis berarti perubahan visual yang sama besar dalam waktu yang berdekatan.
Lebih lanjut, embusan asap kawah teramati hanya 10–150 meter, dengan kondisi dominan berada di bawah 50 meter di atas kubah lava. Dari penilaian tersebut, pihak terkait menyimpulkan bahwa aktivitas hembusan asap kawah masih berfluktuasi dan tidak terjadi peningkatan yang menerus serta signifikan.
Hasil pengamatan visual yang dipadukan dengan pengamatan instrumental memperkuat penilaian bahwa aktivitas magmatik di Gunung Awu masih terjadi secara aktif. Artinya, meskipun perubahan visual kawah tidak tampak signifikan, dinamika di dalam sistem vulkanik tetap terekam melalui parameter seismik dan pemantauan lainnya.
Kewaspadaan terhadap peningkatan mendadak
Dalam evaluasi yang disampaikan, peningkatan kegempaan secara tiba-tiba (swarm gempa vulkanik) maupun peningkatan Gempa Low Freguency masih perlu diwaspadai di masa mendatang. Penekanan ini muncul karena pola aktivitas yang dapat berubah cepat tidak hanya bergantung pada satu jenis kejadian, melainkan juga dapat dipengaruhi oleh kondisi yang lebih luas di area sekitar.
Badan Geologi juga mengaitkan kebutuhan kewaspadaan tersebut dengan konteks peningkatan aktivitas tektonik regional di sekitar Sulawesi Utara dan Maluku. Dengan adanya peningkatan aktivitas tektonik pada kawasan tersebut, dinamika yang berpengaruh pada sistem vulkanik dapat muncul dan berkembang, sehingga perubahan mendadak pada parameter seismik menjadi hal yang harus diperhatikan.
Secara keseluruhan, evaluasi aktivitas Gunung Awu pada rentang waktu April 2026 memperlihatkan peningkatan rata-rata gempa vulkanik dangkal menjadi 21 kejadian per hari, disertai terekamnya sejumlah kejadian gempa dari berbagai tipe. Di saat yang sama, pengamatan visual menunjukkan kawah belum mengalami perubahan yang signifikan sejak awal Juli 2024, dengan embusan asap yang berada pada kisaran 10–150 meter dan cenderung dominan di bawah 50 meter di atas kubah lava. Kombinasi temuan tersebut menegaskan bahwa aktivitas magmatik masih aktif, namun fluktuasi tetap menjadi ciri yang perlu terus dipantau agar perubahan berikutnya dapat diantisipasi.






