jurnalistik.co.id – Pelatih Timnas Mesir Hossam Hassan melontarkan protes keras setelah timnya disingkirkan Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Hassan menyebut kekalahan yang diderita pada laga di Atlanta itu terasa tidak adil, dan setelah pertandingan ia menyatakan tidak akan lagi menonton kompetisi berikutnya.
Mesir menghadapi juara bertahan dalam duel yang digelar pada Selasa (7/7/2026) tengah malam WIB. Mereka bahkan sempat unggul 2-0 dengan sisa waktu sekitar 11 menit menjelang laga berakhir, sebelum akhirnya kebobolan tiga gol di menit-menit akhir.
Hassan menyoroti momen ketika permainan berbalik arah. Menurutnya, hasil akhir yang membuat Mesir kalah 2-3 terjadi dengan cara yang tidak seharusnya, terutama karena serangkaian keputusan yang dianggap merugikan timnya.
Keputusan wasit jadi pusat kemarahan
Dalam konferensi pers seusai pertandingan, Hassan menyatakan ia sudah cukup menyaksikan Piala Dunia 2026. “Saya akan pulang dan tidak akan menonton lagi pertandingan di Piala Dunia ini,” kata Hassan dalam konferensi pers seusai pertandingan, dikutip dari Reuters.
Ia juga mempertanyakan sejumlah keputusan penting yang, menurutnya, mengubah jalannya laga. “Apa yang terjadi kepada kami tidak adil. Kami seharusnya mendapat penalti. Kami juga mencetak gol yang kemudian dianulir, dan saya tidak tahu mengapa gol itu dibatalkan,” tambahnya.
Hassan mengingatkan bahwa Mesir sempat membangun keunggulan melalui gol Mostafa Zico pada menit ke-62. Namun setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR), gol tersebut dibatalkan oleh wasit karena menilai ada pelanggaran dalam proses serangan.
Protes Hassan tidak berhenti di situ. Tim Mesir juga menuntut penalti setelah Hamdy Fathy mengklaim dirinya ditarik di kotak terlarang, tetapi wasit memutuskan permainan tetap dilanjutkan.
Berita Terkait
Setelah rangkaian momen itu, Argentina justru menemukan jalur untuk mencetak gol penentu. Serangan balik yang terjadi berikutnya berujung gol kemenangan Enzo Fernandez pada masa injury time, sekaligus mengunci kemenangan 3-2 untuk Argentina.
Hassan kemudian menilai akar masalahnya bukan semata pada kualitas duel di lapangan, melainkan pada ketepatan keputusan. “Kalaupun gol-gol mereka lahir dari kesalahan kami, kesalahan terbesar justru kami tidak mendapatkan hak kami dari pihak yang bertugas mengambil keputusan,” ujar Hassan.
Pelatih berusia 59 tahun itu mengakui kekalahan selalu sulit diterima. Terutama, ia menekankan bahwa ia merasa timnya kalah dengan cara yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh permainan.
Ia pun menyampaikan pesan kepada para pendukung Mesir. “Saya adalah tipe orang yang sangat membenci kekalahan. Ketika kalah dengan cara yang terasa tidak adil seperti hari ini, saya hanya bisa meminta para suporter untuk tidak bersedih. Kami sangat ingin memberikan mereka kebahagiaan yang lebih besar,” kata Hassan.
Meski kecewa pada hasil, Hassan tetap memberi apresiasi terhadap apa yang dilakukan anak asuhnya sepanjang laga. Ia menilai para pemain menjalankan rencana permainan dengan baik dan mampu merepotkan Argentina sejak awal pertemuan.
Dari cara Hassan menyusun komentarnya, terlihat ia ingin menempatkan sorotan pada rangkaian momen yang menurutnya menentukan outcome laga. Ia tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga menilai proses: kapan keputusan diambil, bagaimana permainan diteruskan, dan bagaimana VAR akhirnya memengaruhi kelanjutan pertandingan.
Ia juga menggambarkan kekesalan itu sebagai sesuatu yang muncul berulang kali, mulai dari gol yang dianulir setelah tinjauan VAR hingga situasi lain yang ia anggap seharusnya berujung penalti. Baginya, ketika beberapa kejadian berjalan ke arah yang merugikan, rasa ketidakadilan terasa makin kuat dan sulit dipisahkan dari aspek permainan di lapangan.
Namun, di tengah kekecewaan tersebut, Hassan tetap menegaskan bahwa upaya timnya sepanjang laga tidak sepenuhnya hilang. Ia menyebut para pemain mampu menjalankan rencana dan sempat memberi tekanan sejak awal pertemuan. Dengan demikian, penyesalan yang ia utarakan lebih tertuju pada keputusan yang, menurutnya, tidak sejalan dengan hak yang semestinya diperoleh Mesir.












