jurnalistik.co.id – Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menyita perhatian setelah seorang dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona, dr Icha, dilaporkan mengalami intimidasi oleh oknum anggota DPRD TTU. Peristiwa itu terjadi saat dr Icha menangani pasien darurat gigitan ular pada akhir pekan lalu.
Victor Manbait, paman kandung dr Icha, menyampaikan bahwa penanganan medis awal terhadap pasien anak korban gigitan ular dilakukan secara profesional dan sesuai prosedur yang berlaku. Ia menegaskan, proses penanganan tersebut juga melalui konsultasi berkala dengan dokter spesialis anak.
“Dokter Icha saat itu sudah melakukan penanganan medis secara profesional, sesuai SOP rumah sakit serta hasil konsultasi berkala dengan dokter spesialis anak,” ujar Victor saat memberikan keterangan pada Sabtu (20/6/2026).
Menurut Victor, situasi di area IGD mulai menegang ketika pihak keluarga pasien tidak menerima penjelasan medis yang disampaikan oleh dr Icha. Keluarga meminta jenis vaksin tertentu untuk menangani kasus gigitan ular yang dialami anak tersebut.
Namun, Victor menjelaskan bahwa secara klinis jenis vaksin yang diminta keluarga belum direkomendasikan untuk kasus tersebut. Ia juga menyebut ketersediaan stok vaksin yang dimaksud sedang kosong di RS Leona pada saat perawatan berlangsung.
Victor memaparkan, ketegangan kemudian memanas saat datang dua orang pria yang mengaku sebagai anggota dewan. Keduanya langsung menyampaikan protes keras dengan nada tinggi di ruang perawatan pasien, tepat di tengah berlangsungnya penanganan.
Salah satu oknum legislator disebut sempat bertindak agresif dengan menunjuk-nunjuk wajah dr Icha di depan umum sambil menuntut penjelasan verbal. Victor menyebutkan, bentakan keras dan perlakuan kasar di tempat kerja tersebut berdampak langsung pada kondisi emosional dr Icha.
Akibat kejadian itu, dr Icha dilaporkan mengalami tekanan emosional yang hebat hingga menangis histeris di sela waktu bertugas. Dampak psikologis dari insiden pembentakan kemudian berlanjut setelah hari kejadian, dan membuat dr Icha sulit pulih sepenuhnya.
Pada malam hari berikutnya, rekan sejawat menemukan dr Icha dalam kondisi tubuh yang sangat lemah dan terkulai lemas di kamar tempat tinggalnya. Karena mengalami penurunan kondisi fisik, dr Icha kemudian dilarikan kembali ke IGD RS Leona untuk pemasangan infus dan perawatan medis intensif.
“Dokter Icha mengaku masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” jelas Victor.
Hingga Sabtu (20/6/2026), dr Icha dilaporkan masih menjalani rawat inap (opname) di bangsal RS Leona. Keluarga pasien menilai kondisi depresi klinis yang dialami korban berkaitan dengan akumulasi tekanan psikologis pascainsiden intimidasi tersebut.
Untuk menindaklanjuti kejadian yang menimpa anggota keluarganya, pihak keluarga dr Icha mendatangi Gedung Kantor DPRD TTU pada Senin (15/6/2026). Dari kedatangan tersebut, keluarga mendapatkan konfirmasi resmi bahwa dua orang pria yang terlibat dalam intimidasi di IGD RS Leona merupakan anggota aktif DPRD TTU.
Nama yang disebut dalam konfirmasi resmi itu adalah Trens Lasakar dan Robertus Tubani. Pihak keluarga kemudian mendesak pimpinan komisi serta Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU agar segera memproses dugaan pelanggaran kode etik kedewanan sesuai mekanisme hukum yang berlaku.
Selain mendorong proses etik, keluarga juga menuntut jaminan keamanan fisik dan psikis bagi dr Icha agar bisa menjalankan tugas kemanusiaannya sebagai tenaga kesehatan ke depan tanpa rasa takut yang berkelanjutan. Mereka menilai, intimidasi yang terjadi di ruang perawatan tidak hanya berdampak pada korban saat insiden berlangsung, tetapi juga berlanjut mengganggu kondisi kesehatan setelahnya.
Kasus tersebut mendapat perhatian dari pimpinan DPRD TTU. Ketua DPRD TTU, Kristoforus Efi, diketahui menjenguk langsung dr Icha di ruang perawatan RS Leona pada Selasa (16/6/2026).
Dalam kunjungannya, Kristoforus berjanji akan mengawal dan menindaklanjuti persoalan ini secara objektif sesuai mekanisme internal yang berlaku di kedewanan. Namun, hingga berita ini disampaikan pada Sabtu siang, baik Ketua DPRD TTU maupun Ketua Badan Kehormatan DPRD TTU belum memberikan tanggapan resmi lanjutan saat dihubungi kembali melalui telepon.
Insiden intimidasi yang dialami dr Icha menegaskan rapuhnya situasi di ruang IGD ketika perbedaan pandangan antara keluarga pasien dan penjelasan medis terjadi. Dalam narasi keluarga dan pihak RS, faktor permintaan jenis vaksin yang tidak direkomendasikan secara klinis serta ketiadaan stok vaksin menjadi bagian dari awal ketegangan, sebelum tindakan agresif diduga dilakukan oknum DPRD TTU.
Di sisi lain, keluarga korban berharap proses penegakan kode etik dan upaya pengamanan dapat berjalan cepat. Mereka juga berharap keselamatan tenaga kesehatan di tempat kerja dapat dijaga, terutama ketika penanganan darurat berlangsung dan membutuhkan ketenangan agar layanan medis tetap optimal.












