Politik & Parlemen

Mengapa JK dan Putranya, Solihin Kalla, Bertemu Prabowo?

9
×

Mengapa JK dan Putranya, Solihin Kalla, Bertemu Prabowo?

Sebarkan artikel ini
Mengapa JK dan Putranya Temui Prabowo? News 12 Juni 2026
Ilustrasi: Mengapa JK dan Putranya Temui Prabowo?

jurnalistik.co.id – Presiden RI Prabowo Subianto bertemu dengan Jusuf Kalla (JK) dan putranya, Solihin Kalla, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (11/6/2026). Pertemuan itu berlangsung tertutup dengan agenda yang berfokus pada penguatan kapasitas energi nasional.

JK datang bersama Solihin Kalla dengan memakai kemeja batik. Kedatangan mereka disambut oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menunggu di teras Istana.

Begitu JK turun dari mobil, Teddy menunjukkan sikap hormat lalu bersalaman dengan JK. Setelah itu, Teddy mengantar JK masuk ke Istana Merdeka untuk bertemu Prabowo.

Di dalam Istana, JK dan Solihin langsung disambut Prabowo yang mengenakan kemeja safari krem. Prabowo kemudian menyapa dan mempersilakan JK untuk duduk di meja pertemuan sembari mengatakan, “Di sini saja nih,”.

Agenda dan arah pembahasan

Pertemuan tersebut berlangsung tertutup selama sekitar satu jam. Usai pertemuan, JK menjelaskan bahwa pembahasan bersama Presiden Prabowo difokuskan pada peningkatan kapasitas energi nasional sebagai salah satu prasyarat utama untuk mewujudkan swasembada energi sekaligus menjaga laju pembangunan ekonomi.

JK menyampaikan keterangannya dengan menekankan bahwa dialog dilakukan bersama Solihin. Ia juga menyebut adanya pendampingan dari pejabat terkait dalam pembicaraan mengenai kemampuan energi di Indonesia.

Menurut JK, “Kami, saya dengan Solihin baru saya berbicara lama dengan Bapak Presiden didampingi juga oleh Pak Sesneg dengan Pak Seskab untuk meningkatkan kemampuan energi di Indonesia, yang kita kenal itu swasembada energi,”.

Dalam kesempatan itu, JK menyatakan pihaknya siap melanjutkan pembangunan infrastruktur energi. Ia menyebut rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas energi nasional.

JK menyebutkan, “Kita siap untuk, kita sudah membangun 1.500 Mega PLTA ini kita siap membangun lagi 2.000 mega termasuk juga PLTG,”.

Kebutuhan energi dan strategi green energy

JK juga mengaitkan pembahasan dengan proyeksi peningkatan kebutuhan energi Indonesia. Ia menyebut kebutuhan energi akan terus meningkat seiring target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 8 persen.

Ia menilai pengembangan infrastruktur energi, khususnya energi hijau, menjadi langkah strategis untuk memastikan ketersediaan pasokan listrik yang memadai bagi sektor industri maupun masyarakat.

JK menegaskan sikap Presiden Prabowo yang sejalan dengan rencana tersebut. Ia menyampaikan, “Karena itu Bapak Presiden setuju untuk segera kita bangun energi nasional khususnya green energy untuk menjadi bagian daripada pembangunan nasional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi disampaikan oleh Bapak Presiden sampai 8 persen,”.

Pertemuan JK dan Solihin Kalla dengan Prabowo di Istana Merdeka pada Kamis (11/6/2026) menjadi momentum pembahasan terarah mengenai swasembada energi, rencana peningkatan kapasitas pembangkit, serta strategi energi hijau yang dikaitkan dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Di tengah suasana tertutup itu, jalannya pertemuan diarahkan pada upaya memperkuat kemampuan sektor energi Indonesia secara menyeluruh. JK menyampaikan penjelasan bukan sekadar secara umum, melainkan dengan menautkan pembahasan pada kebutuhan peningkatan kapasitas pembangkit agar target swasembada energi dapat diwujudkan sebagai prasyarat pembangunan.

Dalam keterangan yang disampaikan setelah diskusi, JK menegaskan bahwa dialog berlangsung bersama Solihin dan melibatkan pendampingan pejabat terkait. Ia menyebut keterlibatan Sesneg dan Seskab dalam rangka mengonsolidasikan langkah-langkah untuk meningkatkan kemampuan energi nasional, sekaligus memastikan arah pembahasan tetap konsisten dengan agenda penguatan kapasitas.

Poin penting lain yang mengemuka adalah rencana pengembangan infrastruktur energi. JK menyampaikan bahwa pihaknya membuka kesempatan untuk melanjutkan pembangunan pembangkit, termasuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), dengan penekanan pada skala peningkatan kapasitas yang terukur dari rencana lanjutan tersebut.

Selain membahas peningkatan kapasitas, pertemuan ini juga menyinggung keterkaitan dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan energi. JK menilai pengembangan energi hijau perlu dimasukkan sebagai bagian dari strategi nasional agar ketersediaan pasokan listrik tetap mampu mengiringi kebutuhan sektor industri maupun masyarakat, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang disebut sebesar 8 persen.