jurnalistik.co.id – Swiss memastikan tiket perempat final Piala Dunia 2026 dengan cara yang dramatis, melalui drama adu penalti setelah pertandingan berakhir 0-0 hingga waktu tambahan.
Bagi langkah tim asuhan pelatih Timnas Swiss ini, pencapaian tersebut juga terasa spesial karena menjadi perempat final pertama sejak 1954.
Pertandingan babak 16 besar melawan Kolombia berlangsung di Vancouver, Kanada, pada Rabu (8/7/2026) pagi WIB. Setelah 120 menit tak ada gol tercipta, penentuan kemenangan ditetapkan lewat adu penalti.
Swiss akhirnya menang 4-3. Ruben Vargas menjadi sosok kunci setelah eksekusi penalti kelimanya berhasil mengunci kemenangan.
Di momen yang paling menegangkan, Gregor Kobel tampil sebagai benteng terakhir. Penjaga gawang Swiss ini menggagalkan tendangan Cucho Hernandez pada putaran keempat adu penalti, yang membuat momentum beralih ke Swiss.
Keberhasilan Kobel kemudian dilengkapi oleh ketepatan para eksekutor Swiss. Granit Xhaka, Zeki Amdouni, dan Cedric Itten juga menjalankan tugas mereka dengan baik, sehingga Kolombia harus menerima kekalahan 4-3.
Jalannya adu penalti menegaskan bahwa laga ini bukan sekadar soal keberuntungan. Kualitas pertahanan dan ketenangan saat eksekusi jadi faktor pembeda, terutama setelah kedua tim sama-sama gagal memecah kebuntuan selama waktu normal maupun extra time.
Selama 90 menit dan tambahan waktu, Kobel mencatat beberapa penyelamatan penting. Catatan penyelamatannya mencakup momen-momen ketika Kolombia meningkatkan tempo dan menekan pertahanan Swiss.
Pada babak tambahan, Kolombia tampil jauh lebih agresif. Mereka bahkan mencatat keunggulan tembakan 8-1, namun tak ada satu pun peluang yang berubah menjadi gol.
Swiss sendiri beberapa kali nyaris memanfaatkan celah setelah menahan serangan. Akan tetapi, upaya mereka tidak cukup untuk menciptakan gol, sehingga pertandingan tetap berjalan menuju waktu tambahan dan akhirnya adu penalti.
Berita Terkait
Kesempatan pertama yang benar-benar menonjol justru datang ketika laga memasuki menit ke-99. Sundulan Jhon Lucumi yang memanfaatkan sepak pojok Juan Quintero mengenai bagian atas mistar gawang, sehingga Swiss terhindar dari kebobolan.
Dua menit berselang, Kolombia kembali memberi ancaman. Jaminton Campaz melepaskan tembakan jarak jauh yang memaksa Kobel melakukan penyelamatan gemilang.
Memasuki menit ke-115, Campaz kembali mencoba peruntungannya. Namun tendangan kaki kirinya melambung di atas mistar, dan Swiss tetap menjaga gawangnya tidak kebobolan.
Selain pertahanan yang disiplin, Swiss juga menunjukkan kesabaran dalam mencari ruang. Di sisi lain, Kolombia terlihat berulang kali mendorong serangan, tetapi eksekusi di area akhir belum mampu menghadirkan hasil maksimal.
Setelah waktu normal berakhir, Swiss sempat memperoleh peluang untuk mematahkan kebuntuan sesaat sebelum pertandingan benar-benar berakhir. Dan Ndoye menyambar bola di dalam kotak penalti, namun sepakannya meluncur melewati depan gawang tanpa sempat diselesaikan oleh rekan yang berada di posisi siap.
Secara keseluruhan, duel ini berjalan ketat sejak awal. Kedua tim sama-sama kesulitan menciptakan peluang bersih karena pertahanan yang solid menjadi tembok utama di sepanjang pertandingan.
Hasil ini membuat Swiss melangkah ke babak delapan besar, tempat mereka akan menantang Argentina pada perempat final. Laga tersebut digelar di Kansas City pada Minggu (12/7/2026) pukul 08.00 WIB.
Argentina datang dengan status sebagai juara bertahan, dan memastikan tempatnya ke perempat final lewat kemenangan yang penuh drama. Mereka lolos setelah melakukan comeback dengan mencetak tiga gol setelah menit ke-78 untuk mengalahkan Mesir 3-2.
Dengan kemenangan atas Kolombia, Swiss kini membawa modal kepercayaan yang datang dari dua hal sekaligus: konsistensi menjaga tanpa kebobolan hingga 120 menit, serta ketangguhan di adu penalti yang menentukan.
Perjalanan menuju perempat final ini juga menunjukkan bahwa Swiss mampu bertahan menghadapi tekanan tinggi, meski menghadapi tim yang agresif pada extra time. Kini, tantangan berikutnya menjadi lebih berat karena Argentina bukan lawan yang mudah dihentikan.
Menjelang duel kontra Argentina, Swiss kemungkinan akan menata ulang strategi dengan fokus pada pengendalian ritme permainan. Sementara Kolombia telah membuktikan bahwa mereka bisa menekan dan menciptakan tembakan, Swiss juga telah menunjukkan kemampuan untuk menahan serangan dan menunggu momen yang tepat.












