Hukum & Kriminal

Mahkamah Agung AS Menolak Gugatan Terakhir Christa Pike untuk Menghentikan Hukuman Mati

×

Mahkamah Agung AS Menolak Gugatan Terakhir Christa Pike untuk Menghentikan Hukuman Mati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US Supreme Court denies Christa Pike's last-ditch bid to halt execution

jurnalistik.co.id – Mahkamah Agung Amerika Serikat menolak upaya terakhir Christa Pike untuk menghentikan eksekusinya. Dengan keputusan itu, narapidana asal Tennessee tersebut dijadwalkan menjalani hukuman mati melalui suntik mematikan pada Rabu.

Permohonan Pike diajukan menjelang hari pelaksanaan, setelah ia berupaya mencari jalan keluar pada momen terakhir. Para pengacara mengajukan petisi kepada pengadilan tingkat tertinggi untuk meminta penangguhan, tetapi Mahkamah Agung menolak permintaan tersebut.

Pike, 50 tahun, telah lama menunggu proses eksekusi sejak vonis dijatuhkan. Ia divonis hukuman mati pada 1996 setelah dinyatakan bersalah dalam kasus pembunuhan seorang teman sekelas remaja.

Jika eksekusi tetap berjalan, Pike akan menjadi perempuan pertama yang dieksekusi di Tennessee dalam lebih dari 200 tahun. Informasi yang dirujuk dalam laporan menyebut hanya 18 perempuan yang dieksekusi di Amerika Serikat sejak era 1970-an, jauh lebih sedikit dibanding 1.663 pria.

Pemerintah Tennessee juga telah menutup ruang grasi sebelum eksekusi. Pada Senin, Gubernur Tennessee Bill Lee menolak permintaan clemency dari Pike dan menyatakan ia tidak akan ikut campur dalam rencana eksekusi yang telah ditetapkan.

Pada saat kejahatan terjadi, Pike berusia 18 tahun. Ia bersama pacarnya saat itu dilaporkan melakukan serangan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap Colleen Slemmer, 19 tahun, setelah mereka bertemu di sebuah kamp pelatihan kerja untuk remaja bermasalah.

Salah satu elemen yang memicu perhatian luas adalah temuan pada tubuh Slemmer. Dalam laporan disebutkan ada tanda berbentuk pentagram yang terukir di dadanya, yang kemudian dikaitkan dengan kelompok-kelompok tertentu.

Pike membantah melakukan pengukiran tersebut. Ia menegaskan bahwa ia tidak menciptakan tanda pentagram pada tubuh korban, serta menyampaikan bahwa dirinya sebelumnya merasa Slemmer menghina dirinya dan berusaha merebut pacarnya.

Di sisi lain, kesaksian dari pihak lain ikut mewarnai proses hukum. Dua penghuni lain di kamp tersebut kemudian bersaksi bahwa Pike pernah membanggakan perbuatannya sebelum maupun setelah pembunuhan, serta menunjukkan kepada mereka bagian tengkorak Slemmer.

Dalam pembelaan terakhirnya, pengacara Pike menekankan kondisi usia saat kejahatan. Mereka berargumen bahwa, “an 18-year-old brain is not an adult brain,” sekaligus menyatakan bahwa usia Pike pada saat kejadian terlalu muda untuk dijatuhi hukuman mati.

Menurut catatan Dinas Pemasyarakatan Tennessee, ketika Pike menjalani masa penahanan, ia disebut sebagai orang termuda di antara seluruh narapidana yang menghadapi vonis hukuman mati. Status itu membuat perkaranya menjadi perhatian karena mempertemukan isu usia, pertimbangan kematangan, dan penerapan hukuman ekstrem.

Pelaksanaan eksekusi direncanakan pada pukul 11:00 EDT (15:00 GMT) pada Rabu. Eksekusi dijadwalkan berlangsung di Riverbend Maximum Security Institution di Nashville.

Laporan juga memuat klarifikasi terkait penjelasan simbol yang disebut dalam kasus tersebut. Pada 29 September, artikel menyatakan bahwa penulisan awal merujuk pentagram sebagai “a symbol of Satanic ritual”, lalu diperbarui untuk memperjelas bahwa yang dimaksud adalah pentagram terbalik dan bahwa simbol serupa dikaitkan dengan sebagian kelompok yang mengusung ajaran setan.

Keputusan Mahkamah Agung AS yang menolak permohonan Pike menandai akhir dari upaya hukum pada tahap terakhir. Dengan itu, proses eksekusi tetap berjalan sesuai jadwal yang ditetapkan, dan Pike bersiap menghadapi hukuman mati untuk kasus pembunuhan yang ia jalani sejak vonis dijatuhkan pada 1996.

Penolakan pada tahap akhir itu membuat seluruh jalur penundaan yang diajukan untuk menghentikan rencana eksekusi tidak lagi tersedia. Setelah permohonan yang diserahkan mendekati hari pelaksanaan ditolak oleh pengadilan tertinggi, perhatian lalu beralih pada keputusan-keputusan administratif yang tetap membiarkan jadwal berjalan.

Di ranah pemeriksaan perkara, sengketa atas detail simbol menjadi salah satu bagian yang terus kembali dalam penjelasan kedua pihak. Laporan menyebut adanya perubahan penulisan penjelasan simbol pada 29 September, setelah sebelumnya disebut sebagai rujukan pada ritual yang bernuansa setan, dan kemudian diperjelas bahwa yang dimaksud adalah pentagram terbalik serta kaitannya dengan kelompok tertentu.

Sementara itu, pembelaan terakhir juga menyoroti konteks usia saat kejahatan dilakukan. Para kuasa hukum menekankan bahwa pada saat serangan terjadi, Pike masih berumur 18 tahun, dan argumentasinya diarahkan untuk mempertanyakan kecocokan hukuman mati bila pertimbangan kematangan dinilai belum sejalan.

Jika eksekusi tetap berlangsung, Pike menjalani putusan yang telah menunggunya selama bertahun-tahun sejak vonis pada 1996. Eksekusi dijadwalkan berlangsung di Riverbend Maximum Security Institution di Nashville pada Rabu, pukul 11:00 EDT (15:00 GMT), dengan Pike menghadapi risiko menjadi catatan bersejarah yang melibatkan perempuan pertama yang dieksekusi di Tennessee dalam rentang waktu lebih dari dua abad.