Hukum & Kriminal

Tennessee Menghentikan Eksekusi setelah Christa Pike Selamat dari Percobaan Suntik Mati

×

Tennessee Menghentikan Eksekusi setelah Christa Pike Selamat dari Percobaan Suntik Mati

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Eksekusi hukuman mati di Tennessee dihentikan untuk sisa tahun ini setelah narapidana kasus hukuman mati, Christa Pike, selamat dari upaya eksekusi dengan suntikan mematikan yang gagal. Gubernur Bill Lee menyampaikan jeda tersebut setelah dua kali percobaan pemberian obat mematikan tidak berhasil.

Dalam pernyataan kepada CBS News, mitra AS BBC, Lee menyebut eksekusi yang sah sebagai salah satu tanggung jawab paling serius negara bagian. Ia juga memerintahkan peninjauan oleh pihak ketiga untuk memastikan secara tepat apa yang terjadi dalam proses eksekusi.

Pada Rabu, petugas penjara mencoba memberikan dua dosis pentobarbital yang mematikan kepada Pike, namun ia tetap hidup. Setelah upaya itu gagal, Pike kemudian dibawa ke rumah sakit.

Hingga berita ini ditulis, kondisi medis Pike masih belum diketahui secara pasti. Informasi mengenai respons tubuh terhadap obat maupun rincian temuan medis tidak dijelaskan lebih lanjut dalam rilis yang dirujuk.

Christa Pike berusia 50 tahun dan dijatuhi hukuman mati pada 1996. Ia dinyatakan bersalah atas pembunuhan Colleen Slemmer.

Menurut catatan perkara, Pike saat itu berusia 18 tahun bersama mantan pacarnya, Tadaryl Shipp, melakukan perbuatan hingga korban, yang berusia 19 tahun, dipukuli, disiksa, dan akhirnya dibunuh. Kasus tersebut menjadi dasar hukuman mati terhadap Pike.

Upaya eksekusi yang gagal tersebut juga menandai bahwa Pike berpotensi menjadi perempuan pertama yang dieksekusi di Tennessee dalam lebih dari 200 tahun. Pernyataan ini menempatkan peristiwa eksekusi Pike sebagai peristiwa bersejarah, meski pada akhirnya tidak terlaksana.

Gubernur Lee menyampaikan kekecewaannya saat berbicara kepada wartawan pada acara pemotongan pita pada Kamis pagi. Lee mengatakan, “I’m highly disappointed, along with Tennesseans, about what happened last night.”

Lee belum menjelaskan siapa pihak yang akan menjalankan tinjauan independen terhadap prosedur eksekusi negara bagian. Namun, perintah untuk menghentikan seluruh eksekusi akan berjalan bersamaan dengan jadwal eksekusi pada 3 Desember untuk terpidana lain, Gary Sutton.

Dalam berkas perkara pengacara Pike, tim hukum menyatakan bahwa Pike membutuhkan “life-saving measures” setelah eksekusi yang dijadwalkan gagal. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan penanganan segera setelah proses eksekusi tidak berjalan sesuai rencana.

Dinas Pemasyarakatan Tennessee yang menangani pelaksanaan hukuman mati kemudian merilis pernyataan untuk membela penanganan kasus tersebut. Pihak dinas menyatakan bahwa seluruh langkah dilakukan sesuai prosedur resmi negara bagian yang disetujui oleh kantor jaksa agung.

Pernyataan Tennessee Department of Correction berbunyi: “The Tennessee Department of Correction followed every step of the State’s lawful, established execution protocol approved by the attorney general’s office,”. Dalam lanjutan, mereka juga menyebut, “The lethal injection chemical in the protocol has consistently been effective, and the protocol does not allow for additional procedures beyond what was carried out this evening.”

Dengan demikian, dinas menekankan bahwa protokol yang digunakan sudah menjadi prosedur sah dan telah disetujui, serta tidak menyediakan langkah lanjutan di luar tindakan yang sudah dilakukan pada malam tersebut.

Peristiwa yang dialami Pike juga disebut menjadi kali kedua pada 2026 ketika upaya eksekusi di Tennessee gagal dilakukan. Pada bulan Mei, eksekusi Tony Carruthers dibatalkan setelah petugas tidak mampu menemukan pembuluh darah yang dibutuhkan untuk pemberian obat mematikan.

Setelah kegagalan pada Mei tersebut, Tony Carruthers mendapat penangguhan selama satu tahun. Perbandingan dua peristiwa sepanjang tahun ini menggambarkan adanya persoalan berulang dalam pelaksanaan prosedur eksekusi dengan suntikan mematikan.

Jeda seluruh eksekusi yang diputuskan Lee untuk sisa tahun ini membuat seluruh jadwal eksekusi lainnya ikut tertunda. Perintah penghentian tersebut juga memberi ruang bagi peninjauan oleh pihak ketiga sebelum proses serupa dilakukan kembali.

Meski demikian, jadwal yang berhimpitan—terutama rencana 3 Desember untuk Gary Sutton—akan menjadi salah satu penentu bagaimana keputusan penghentian tersebut diterapkan dalam praktik. Detail mengenai tahapan tinjauan independen dan waktu publikasi hasilnya belum dijelaskan.

Sementara itu, Pike tetap menjadi fokus perhatian karena ia selamat dari upaya yang semestinya bersifat final. Karena kondisi medisnya masih belum terungkap secara rinci, langkah selanjutnya kemungkinan terkait evaluasi medis dan proses hukum yang menyertai peninjauan prosedur eksekusi.