jurnalistik.co.id – Turunnya angka kelahiran di sejumlah negara menimbulkan kekhawatiran besar: populasi yang tidak stabil akan makin sulit dipertahankan tanpa mengandalkan migrasi. Dalam skenario seperti ini, beban demografis cenderung menumpuk perlahan, lalu efeknya terasa dalam banyak sektor.
Menurut acuan yang banyak digunakan dalam studi kependudukan, sebuah negara membutuhkan angka kesuburan total sekitar 2,1 kelahiran per wanita agar jumlah penduduk tetap stabil. Namun, negara-negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia saat ini jauh dari angka tersebut.
Melansir Quartz, sebagian di antaranya bahkan berada di bawah setengah dari kebutuhan untuk mempertahankan populasi. Penurunan yang terjadi juga bukan fenomena singkat yang hanya terkait resesi atau satu-dua tahun masa pandemi.
Di banyak tempat, penurunan berlangsung selama beberapa dekade dan terus berlanjut melewati fase pertumbuhan ekonomi, masa kemerosotan, hingga beragam program insentif pemerintah yang dilakukan berulang kali. Pola yang muncul menunjukkan bahwa faktor penyebabnya saling tumpang tindih, tetapi tidak sama beratnya di setiap negara.
Urbanisasi menjadi salah satu pendorong yang kuat. Kaum dewasa muda terkonsentrasi di kota-kota, sementara biaya perumahan di banyak wilayah beranjak lebih tinggi, sehingga keputusan keluarga makin terikat pada kemampuan finansial.
Di sisi lain, meningkatnya pendidikan serta partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sering kali membuat waktu kelahiran anak pertama tertunda. Jam kerja yang panjang, biaya penitipan anak yang mahal, hingga sistem sekolah yang sangat kompetitif turut menaikkan biaya riil untuk setiap tambahan anak.
Situasi tersebut juga berhubungan dengan pola pernikahan. Di sejumlah negara, pernikahan terjadi pada usia yang lebih tua atau bahkan tidak terjadi sama sekali, yang berpengaruh langsung pada jumlah kelahiran karena kelahiran di luar nikah masih jarang di beberapa konteks budaya.
Di Eropa selatan dan timur, emigrasi penduduk usia kerja turut menekan jumlah orang yang secara demografis paling mungkin memiliki anak. Dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi muncul perlahan, lalu terakumulasi hingga efeknya membesar.
Perubahan demografis kemudian merambat ke ranah sosial dan institusional. Sekolah dasar bisa digabung, jurusan universitas disatukan atau ditutup, sementara sistem pensiun yang sebelumnya ditopang basis pekerja yang luas mulai mengalami pembalikan struktur.
Struktur tenaga kerja masa depan turut bergeser. Angkatan bersenjata yang bertumpu pada wajib militer juga menghadapi persoalan karena jumlah pemuda berusia 18 tahun makin sedikit, sehingga pemerintah merespons dengan kebijakan tambahan.
Upaya yang disebut dalam laporan mencakup bantuan tunai untuk bayi baru lahir, perpanjangan cuti orang tua, subsidi perawatan kesuburan, dan prioritas perumahan bagi keluarga. Dalam beberapa kasus, aturan imigrasi juga dilonggarkan untuk membantu menutup kekurangan demografi.
1. Korea Selatan
Korea Selatan digambarkan sebagai salah satu contoh paling ekstrem karena tingkat kesuburannya menjadi yang terendah di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kelahiran per wanita bahkan turun di bawah 0,8, hanya sekitar sepertiga dari kisaran 2,1 kelahiran yang dibutuhkan agar populasi stabil.
Penurunan di bawah ambang pergantian populasi ini mulai terlihat sejak awal 1980-an, lalu semakin cepat pada satu dekade terakhir. Dalam penjelasan yang dihimpun, faktor biaya menempati posisi inti dalam persoalan tersebut.
Berita Terkait
Keluarga mengeluarkan dana besar untuk bimbingan belajar swasta yang dikenal sebagai hagwon. Lembaga ini beroperasi hingga larut malam dan berfungsi seperti sistem pendidikan paralel.
Karena penerimaan di universitas elite menjadi penentu prospek karier jangka panjang, biaya bimbingan belajar dipandang rumah tangga bukan sekadar kemewahan. Beban ini pun bertambah seiring jumlah anak yang dimiliki.
Tekanan lain datang dari masalah perumahan. Sekitar separuh populasi tinggal di Seoul dan sekitarnya, wilayah yang harga apartemennya telah melampaui kenaikan pendapatan pekerja muda.
Pada kondisi seperti itu, pasangan cenderung menunda pernikahan demi mengumpulkan uang muka rumah. Penundaan tersebut berdampak langsung pada penundaan kelahiran, apalagi kelahiran di luar nikah masih jarang dibanding standar di Eropa Barat.
Tren penurunan angka pernikahan bergerak seirama dengan turunnya angka kelahiran. Budaya kerja menjadi faktor ketiga yang memperumit keadaan, ditandai jam kerja panjang dan persaingan kerja yang ketat.
Jam kerja yang menyisakan sedikit waktu untuk pengasuhan membuat biaya dan kebutuhan perawatan anak terasa makin berat. Pada saat yang sama, beban pekerjaan rumah dan pengasuhan anak masih lebih banyak dipikul oleh perempuan.
Risiko terhambatnya karier setelah melahirkan disebut sebagai alasan yang kerap dikemukakan perempuan saat menunda atau memutuskan tidak memiliki anak. Pemerintah pun berupaya mengatasi isu ini melalui uang tunai saat kelahiran, perpanjangan cuti orang tua, serta prioritas perumahan bagi keluarga muda.
Meski langkah-langkah tersebut sudah dijalankan, penurunan angka kelahiran belum berhenti. Saat ini, sebuah komite kepresidenan yang menangani rendahnya tingkat kesuburan dan penuaan populasi bertugas mengoordinasikan langkah lintas kementerian.
Dampaknya sudah mulai tampak di layanan publik. Ruang kelas sekolah dasar mulai kosong, sejumlah sekolah terpaksa ditutup karena kekurangan murid, dan universitas di luar ibu kota kesulitan memenuhi kuota penerimaan mahasiswa.
Di sektor lain, pihak perencana militer menyoroti kekhawatiran terkait jumlah wajib militer di masa depan. Korea Selatan mempertahankan kewajiban wajib militer bagi pria, sementara jumlah pemuda berusia 18 tahun terus menyusut setiap tahunnya, yang membuat perubahan demografis menjadi persoalan keamanan.
2. Hong Kong
Hong Kong juga mencatat tingkat kesuburan yang sangat rendah. Pada tahun-tahun tertentu, angkanya bahkan berada di bawah Korea Selatan, dengan rata-rata jumlah anak per perempuan jauh di bawah satu orang.
Kondisi ini hampir tidak ditemukan di tempat lain, dan perumahan disebut sebagai faktor utama penjelasannya. Apartemen di Hong Kong digambarkan memiliki ukuran yang sangat kecil dibandingkan kota-kota besar lainnya.
Selain ukuran yang terbatas, harga hunian—jika dibandingkan dengan pendapatan lokal—tergolong yang tertinggi di dunia. Bagi pasangan, mempertimbangkan biaya untuk kamar tidur kedua sering berarti harus menabung ekstra selama bertahun-tahun.
Akibatnya, banyak penduduk tetap tinggal bersama orang tua hingga usia dewasa, sehingga menunda waktu yang tepat untuk mulai berkeluarga. Pola penundaan ini kemudian ikut menekan jumlah kelahiran.












