Teknologi

Biaya Produksi Film AI Bisa Lebih Mahal dari Era Kamera Seluloid 35mm, Token Jadi Pemicunya hingga Rp66,4 miliar

×

Biaya Produksi Film AI Bisa Lebih Mahal dari Era Kamera Seluloid 35mm, Token Jadi Pemicunya hingga Rp66,4 miliar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Produksi Film AI Bisa Lebih Mahal dari Era Seluloid, Ini Sebabnya - Market

jurnalistik.co.id – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di industri perfilman yang selama ini dipandang bisa menekan biaya, kini mendapat peringatan dari pelaku industri. Di Taiwan Creative Content Fest (TCCF) yang berlangsung di Taipei, pendiri sekaligus CEO studio produksi konten AI Studio Meta-K, Kim Kwang-jib, menyebut ada risiko biaya produksi film justru melonjak saat durasi bertambah.

Peringatan itu disampaikan dalam rangkaian pembahasan yang dikutip Variety, pada Minggu (8/11/2026). Menurut Kim, kekhawatannya terutama berangkat dari kebutuhan perangkat AI komersial untuk menghasilkan produksi berdurasi panjang.

Kim menjelaskan bahwa untuk memproduksi film berdurasi 100 menit, biaya penggunaan perangkat AI komersial dapat mencapai lebih dari KRW500 juta. Dengan asumsi kurs KRW1 setara Rp13,27, angka tersebut setara sekitar Rp6,64 miliar.

Menurutnya, komponen biaya yang paling dominan berasal dari penggunaan token—yakni komponen yang diperlukan agar model AI dapat dijalankan. Karena token inilah, struktur biaya produksi AI tidak selalu linear dan bisa berubah cepat mengikuti kebijakan harga penyedia layanan.

Kim memperkirakan biaya produksi bisa meningkat tajam apabila perusahaan penyedia layanan AI menaikkan tarif token hingga 10 kali lipat. Dalam skenario tersebut, biaya produksi dapat menembus KRW5 miliar, atau sekitar Rp66,4 miliar dengan perhitungan KRW1 = Rp13,27.

Dampak ke pasar film Asia

Potensi kenaikan biaya tersebut, menurut Kim, dapat menjadi tantangan bagi industri film di Asia. Ia menyebut produksi film Korea Selatan, Taiwan, dan sejumlah negara Asia lainnya umumnya membutuhkan anggaran sekitar KRW3 miliar hingga KRW5 miliar untuk produksi live action serta visual effects (VFX).

Dengan rentang itu, estimasi yang disebut Kim setara dengan Rp39 miliar sampai Rp65 miliar. Artinya, jika biaya berbasis token bergeser ke angka yang lebih tinggi, beban tambahan yang muncul berpotensi mengubah perhitungan anggaran yang selama ini dipakai oleh rumah produksi.

Kim juga menyoroti adanya perbedaan kapasitas serap biaya antar industri. Ia menyebut produksi film Hollywood dengan anggaran sekitar KRW200 miliar (sekitar Rp2,66 triliun) dinilai masih memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya yang mungkin terjadi akibat tarif token.

Dengan perbandingan itu, pesan Kim mengarah pada satu gagasan utama: AI tidak otomatis berarti produksi lebih murah, terutama ketika biaya token menjadi faktor penentu. Dalam kondisi tarif token naik, strategi efisiensi biaya yang semula diharapkan dari AI bisa bergeser menjadi tantangan baru untuk produksi film berdurasi panjang.

Melalui paparan di TCCF Taipei, Kim menempatkan faktor token sebagai titik risiko yang menentukan. Dari sana, ia menggambarkan bagaimana perubahan harga token pada skala besar—hingga 10 kali lipat—dapat mendorong biaya produksi dari level KRW500 juta untuk 100 menit menjadi sampai KRW5 miliar.

Pada akhirnya, peringatan ini tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga matematika anggaran industri. Bagi rumah produksi yang berada pada rentang kebutuhan KRW3–KRW5 miliar untuk live action dan VFX, kenaikan biaya berbasis token berpotensi terasa lebih langsung, sementara industri dengan anggaran besar seperti Hollywood memiliki ruang lebih lebar untuk menanggung pergeseran biaya tersebut.

Lebih jauh, Kim menggambarkan bahwa biaya berbasis token tidak hanya soal besaran awal, tetapi juga soal volatilitas harga dari waktu ke waktu. Saat kebijakan penyedia layanan berubah, rumah produksi dapat menghadapi pergeseran biaya yang datang lebih cepat dari siklus perencanaan anggaran mereka.

Dalam konteks itu, perhitungan untuk durasi 100 menit yang semula mengacu pada kisaran KRW500 juta menjadi contoh konkret bagaimana skenario tarif bisa mengubah proyeksi sampai berkali lipat. Jika biaya token menjadi pengungkit utama, maka dampaknya akan terasa langsung pada batas anggaran live action maupun kebutuhan VFX yang umumnya berada di rentang KRW3–KRW5 miliar.