Internasional

Empat Langkah Houthi Memicu Perang Melawan Saudi dan Membentuk Negara Syiah

×

Empat Langkah Houthi Memicu Perang Melawan Saudi dan Membentuk Negara Syiah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 4 Tujuan Houthi Mengobarkan Perang Melawan Saudi, Mendirikan Negara Syiah

jurnalistik.co.id – Serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu menjadi insiden paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade. Peristiwa itu menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya.

Pada Minggu, serangan susulan terhadap bandara yang sama kembali terjadi dan menambah jumlah korban jiwa menjadi satu orang lagi. Dengan demikian, dampak serangan beruntun tersebut terus meningkat dalam hitungan hari.

Koalisi pimpinan Arab Saudi menyalahkan kelompok Houthi dari Yaman atas serangan tersebut. Mereka juga menyebut aksi itu sebagai kejahatan perang.

Di sisi lain, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyampaikan bahwa kelompoknya telah menargetkan bandara King Khalid “dalam tiga tahap”. Pernyataan itu merujuk pada rangkaian tindakan sejak Jumat malam hingga bandara “ditutup sepenuhnya”.

Yahya Saree juga memperingatkan bahwa bandara-bandara Arab Saudi “tidak aman”. Peringatan tersebut disertai pengecualian bagi bandara yang melayani Mekkah dan Madinah.

Serangan terhadap Riyadh tersebut diposisikan sebagai puncak dari eskalasi ketegangan yang berlangsung selama musim panas. Dalam narasi yang sama, konflik tidak berhenti meski sempat ada jeda.

Gencatan senjata yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya dinilai telah membekukan perang Yaman sejak 2022. Namun, kesepakatan itu runtuh pada bulan Juli setelah Arab Saudi membom bandara di Sanaa.

Setelah pemboman itu, pihak Houthi kemudian menyatakan blokade maritim terhadap kerajaan Arab Saudi. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari eskalasi yang menyusul ambruknya gencatan senjata.

Memasuki awal Oktober, pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan balik. Utusan khusus PBB juga telah memperingatkan bahwa Yaman kembali bergerak menuju perang berskala penuh.

Dalam periode berikutnya, bentrokan sengit terus berlangsung, termasuk di sekitar kota Taiz. Wilayah itu disebut memiliki posisi strategis karena terletak di dataran tinggi di atas pesisir Laut Merah.

Di tengah rangkaian pertempuran yang masih berkecamuk, dampak kemanusiaan juga terus muncul. Disebutkan, pertempuran tersebut telah menyebabkan 130.000 orang mengungsi.

Langkah yang disebut: menguasai sebagian wilayah Yaman

Dalam ulasan yang sama, salah satu tujuan yang disebut adalah upaya untuk menguasai 30% wilayah Yaman. Gerakan tersebut secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, atau “penolong Tuhan”.

Ansar Allah muncul di wilayah paling utara Yaman pada tahun 1990-an. Keberadaannya disebut bermula di seputar sosok ulama Hussein al-Houthi.

Dengan demikian, rangkaian serangan dan eskalasi konflik yang sedang berlangsung diaitkan dengan upaya memperluas kendali. Pada saat yang sama, peringatan terkait keamanan bandara-bandar Arab Saudi menjadi salah satu pesan yang disampaikan melalui juru bicara militer Houthi.

Rentang peristiwa dari runtuhnya gencatan senjata pada Juli hingga serangan beruntun di Riyadh pada Sabtu dan Minggu menunjukkan bagaimana ketegangan berubah menjadi konflik berskala penuh. Sementara itu, pertempuran di sekitar Taiz dan meningkatnya jumlah pengungsi memperlihatkan konsekuensi yang terus berlanjut bagi warga sipil.

Rangkaian kejadian itu memperlihatkan pola eskalasi yang saling menguatkan: dari pecahnya kesepakatan sebelumnya, lalu berujung pada serangan terhadap infrastruktur udara dan meningkatnya ketegangan di berbagai wilayah.

Dalam narasi yang beredar, klaim saling tarik-menarik antara pihak yang menyebut tanggung jawab kelompok Houthi dan pernyataan Houthi yang menggambarkan aksinya sebagai bagian dari rencana bertahap ikut membentuk cara publik memahami insiden tersebut.

Konflik yang tidak berhenti setelah jeda juga disandingkan dengan peringatan soal keamanan bandara Arab Saudi. Pihak Houthi menegaskan bahwa ada pengecualian untuk bandara yang melayani Mekkah dan Madinah.

Di sisi lain, dampak di lapangan tetap menjadi sorotan, termasuk besarnya perpindahan warga. Jumlah pengungsi yang disebut mencapai 130.000 orang menambah gambaran bahwa konsekuensi kemanusiaan terus berjalan bersamaan dengan pertempuran yang memanas.