Internasional

WSJ: Serangan Rudal & Drone Iran ke Pangkalan AS Picu Kerugian Rp271 Triliun, AS Pertimbangkan Cabut dari Kuwait dan Arab Saudi

×

WSJ: Serangan Rudal & Drone Iran ke Pangkalan AS Picu Kerugian Rp271 Triliun, AS Pertimbangkan Cabut dari Kuwait dan Arab Saudi

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Serangan rudal dan drone Iran terhadap beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah selama berbulan-bulan terakhir berdampak pada kerusakan infrastruktur yang nilainya mencapai belasan miliar dolar. Perhitungan tersebut, menurut The Wall Street Journal, menggunakan sejumlah sumber serta analisis citra satelit.

Dalam salah satu dampak yang disebut paling nyata, Pangkalan Udara Udaylah di Kuwait—yang juga dikenal sebagai Camp Buehring—dilaporkan hancur akibat serangan-serangan tersebut. Pangkalan itu dioperasikan oleh pasukan Amerika Serikat.

Data kerugian terbaru yang dirilis WSJ menyebut total kerusakan sebesar USD15 miliar atau lebih, yang setara dengan sekitar Rp271 triliun dengan kurs Rp18.127/USD. Angka ini kembali menambah tekanan pada anggaran yang harus ditanggung Pentagon sepanjang konflik berlangsung.

Selain menghitung kerusakan, WSJ juga menyoroti bahwa biaya perang AS sejauh ini telah mencapai hampir USD50 miliar, atau lebih dari Rp906 triliun. Dengan demikian, setiap gelombang serangan yang menimbulkan kerusakan baru cenderung ikut memperlebar beban biaya operasional dan pemulihan.

Rincian kerusakan di instalasi militer

Menurut analisis surat kabar tersebut, serangan Iran mengakibatkan kerusakan pada 274 bangunan di 24 instalasi militer yang menjadi tempat kehadiran pasukan AS. Identifikasi itu menyasar fasilitas-fasilitas di mana Washington dan mitra-mitranya memiliki keterlibatan operasional.

WSJ juga menyebutkan bahwa dalam dua pekan pertama perang, sedikitnya 119 bangunan di 13 instalasi dilaporkan mengalami kerusakan. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa dampak serangan tidak hanya terkonsentrasi pada satu titik, melainkan menyebar pada berbagai lokasi yang digunakan untuk kepentingan militer.

Di antara fasilitas yang paling parah terkena, Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain disebut menjadi salah satu yang mengalami kerusakan paling serius. Penetapan ini memperlihatkan bahwa jaringan komando dan kendali juga termasuk dalam sasaran yang terimbas.

Estimasi awal Pentagon dan potensi perubahan kebijakan

Dalam laporan yang mengutip keterangan pejabat AS tanpa menyebut namanya, Pentagon memperkirakan kerusakan akibat serangan Iran pada pangkalan militer minimal mencapai USD5 miliar atau lebih, setara dengan sekitar Rp90,6 triliun. Namun, WSJ menyampaikan penilaian lain yang lebih tinggi, yaitu potensi kerusakan bisa mencapai USD15 miliar atau lebih.

WSJ menambahkan bahwa banyak instalasi yang terdampak merupakan lokasi yang digunakan bersama oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutu regionalnya. Kondisi tersebut membuat kemungkinan biaya pemulihan turut dibagi, karena keterlibatan sekutu dalam penggunaan fasilitas dapat memengaruhi siapa yang menanggung bagian kerusakan.

Laporan itu juga menyebutkan kemungkinan keputusan dari Pentagon untuk tidak memulihkan sejumlah infrastruktur yang rusak. Artinya, meskipun ada kerusakan yang terdokumentasi, tidak semua fasilitas otomatis akan dipulihkan sepenuhnya jika pertimbangan biaya dan kebutuhan operasional tidak mendukung.

Konflik yang kemudian memicu rangkaian serangan tersebut bermula dari eskalasi pada 28 Februari. Dalam konteks itu, Teheran melancarkan gelombang serangan balasan setelah serangan AS–Israel yang dinilai tidak diprovokasi dan memicu konflik.

Keberlanjutan biaya yang membengkak turut memunculkan sorotan di tingkat politik domestik AS. Senator Chris Murphy menuding pemerintahan Trump menutup biaya perang, sekaligus mempertanyakan bagaimana pengeluaran dan dampak eskalasi tersebut dikelola dalam kebijakan.

Dengan rentetan serangan rudal dan drone yang terus berlangsung, kerusakan di berbagai instalasi militer yang menjadi tempat operasi pasukan AS tidak hanya berdampak pada aset fisik, tetapi juga pada perencanaan pemulihan dan kelangsungan aktivitas. Pada akhirnya, kisaran nilai kerusakan yang disebut WSJ berpotensi memengaruhi arah kebijakan, baik dari sisi prioritas perbaikan maupun dari sisi pembebanan biaya kepada pihak-pihak yang terlibat.

Jika Pentagon memutuskan untuk menahan pemulihan pada sebagian fasilitas, maka konsekuensinya dapat meluas pada kesiapan operasional di wilayah yang sama. Sementara itu, estimasi kerusakan yang mencapai USD15 miliar atau lebih menjadi penanda bahwa dampak perang tidak berhenti pada fase serangan, melainkan berlanjut melalui biaya pemeliharaan, perbaikan, dan penyesuaian strategi berikutnya.