jurnalistik.co.id – Arab Saudi sedang menghadapi eskalasi baru di kawasan setelah perang saudara di Yaman kembali bergolak sejak musim panas, lalu meningkat tajam pada bulan lalu. Dalam situasi itu, proyek transformasi dan agenda besar kerajaan justru terseret oleh gelombang serangan lintas wilayah yang berasal dari Yaman.
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, sebelumnya mendorong agar kerajaannya menjadi magnet investasi, pariwisata, serta menjadi tuan rumah acara olahraga dunia. Namun, drone dan rudal yang diluncurkan dari Yaman kini menghantam kota-kota Saudi, membuat Riyadh makin sulit menjaga jarak dari konflik regional yang semula diharapkan bisa ditinggalkan.
Selama lebih dari satu dekade, Arab Saudi berupaya menahan perluasan konflik di sekitar perbatasan selatannya melalui kombinasi kekuatan militer dan jalur diplomasi. Langkah itu mencakup perang melawan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran, lalu upaya mengejar pembicaraan damai dengan kelompok tersebut, sekaligus upaya memulihkan kembali komunikasi diplomatik dengan para pendukungnya, Iran.
Meski demikian, rangkaian kesalahan perhitungan membuat Riyadh dinilai semakin rentan terhadap kemungkinan konflik lanjutan di Yaman. Pada akhirnya, sejumlah faktor strategis—mulai dari keputusan-keputusan yang dianggap terburu-buru hingga putusnya kerja sama dengan mitra kunci—membentuk kondisi yang memperlebar ruang gerak ketegangan.
Saudi tergesa-gesa menggelar operasi “Fajar Yaman”
Di tengah dorongan untuk mendapatkan kembali pijakan, Riyadh kemudian memilih mendukung mitra-mitranya di Yaman dalam kampanye lanjutan melawan Houthi. Kampanye ini dinamai “Fajar Yaman”.
Tekanan terhadap ambisi Mohammed bin Salman mulai terasa sejak ia berkuasa lebih dari satu dekade lalu. Pada periode terakhir, tekanan itu makin diperberat oleh serangan multi-front terhadap infrastruktur minyak yang menekan ekspor, membatalkan berbagai proyek besar, dan membuat kerajaan terus terseret ke dalam perang tanpa jalan keluar yang dianggap jelas.
Pada pekan ini, setidaknya tiga orang—termasuk seorang pilot Saudi—dilaporkan tewas setelah pasukan Houthi menyerang beberapa bandara di kerajaan tersebut. Data korban ini menegaskan bahwa gelombang serangan tidak hanya menyasar sasaran militer, melainkan juga menyentuh titik penting mobilitas dan operasional.
Kekacauan regional turut memukul agenda budaya dan bisnis. Arab Saudi menunda festival film yang direncanakan diisi bintang-bintang, acara penghargaan, dan konser musik tahun ini. Selain itu, konferensi keuangan unggulan kerajaan yang diperkirakan akan menarik para pemimpin bisnis terkemuka pada akhir Oktober juga berada di bawah tekanan di tengah serangan yang berulang.
Berita Terkait
Michael Ratney, mantan duta besar AS untuk Arab Saudi, menggambarkan situasinya dengan kalimat, “Mereka hanya membutuhkan konflik untuk tetap sejauh mungkin dari mereka tanpa Houthi mengganggu rencana transformasi mereka,” lalu menambahkan, “Sekarang mereka mendapati diri mereka berada di tengah-tengahnya.” Pernyataan itu memperlihatkan inti kekhawatiran: Riyadh yang berusaha melindungi agenda transformasi justru menjadi bagian langsung dari pusaran konflik.
Saudi ditinggal Uni Emirat Arab dalam konflik Yaman
Faktor lain yang turut disebut memperlemah posisi Saudi adalah pergeseran hubungan dengan Uni Emirat Arab (UEA). Ketika pesawat tempur Saudi menyerang pengiriman kendaraan militer yang dikirim UEA ke Yaman tahun lalu, aliansi yang telah berlangsung selama satu dekade di antara dua negara yang sama-sama berupaya menekan pengaruh Iran di Yaman dinilai retak dan akhirnya runtuh.
Penarikan pasukan oleh Abu Dhabi membuat Arab Saudi menghadapi krisis sendirian. Perpecahan ini juga mengejutkan kawasan karena setelahnya Riyadh melancarkan kampanye media yang jarang terjadi terhadap tetangganya. Dalam kampanye tersebut, Arab Saudi menuduh UEA memicu ketidakstabilan di Sudan dan Yaman.
Di ruang publik, beberapa komentator Saudi secara terbuka menggambarkan UEA sebagai adik yang memberontak terhadap kakak yang lebih bijak. Pada bulan Januari, jurnalis Saudi terkemuka Dawood Al-Shirian menulis bahwa Arab Saudi adalah “kepala dan tubuh” yang menopang stabilitas regional, dan menyatakan, “Jika (Arab Saudi) tersandung, seluruh sistem akan terganggu dan negara-negara Teluk akan terpecah.” Kalimat tersebut menempatkan hubungan kedua negara Teluk sebagai pengikat stabilitas, bukan sekadar kerja sama biasa.
Ketika Riyadh berupaya mendominasi kawasan Teluk, dinamika di Yaman justru berubah. Gencatan senjata empat tahun dengan Houthi digambarkan sudah rapuh. Di sisi lain, penarikan cepat UEA—yang diminta Riyadh—membuat ribuan pejuang yang selama satu dekade berada di bawah komando Abu Dhabi menjadi bingung oleh strategi Riyadh.
Kelompok pejuang yang disebut bersekutu dengan UEA menyatakan bahwa kepergian Abu Dhabi meninggalkan kekosongan kekuasaan yang tidak diisi oleh Saudi. Dengan kata lain, pembagian peran yang sebelumnya menopang operasi di medan konflik tidak otomatis tergantikan, sehingga ruang yang terbentuk oleh penarikan mitra justru berpotensi memperbesar ketidakpastian.
Di balik rangkaian keputusan tersebut, Arab Saudi juga disebut mengalami kesulitan lain: memutus kemitraan jangka panjang dengan UEA pada akhir tahun lalu karena dukungan Abu Dhabi terhadap kekuatan saingan di Yaman, salah menilai kesediaan Presiden Donald Trump untuk mendukungnya jika membutuhkan dukungan, serta kesulitan untuk mengorganisir faksi-faksi bersenjata yang terpecah-pecah yang melawan Houthi di Yaman.
Gabungan faktor itu menjelaskan mengapa sejumlah ahli memandang Riyadh berakhir pada posisi yang makin rentan. Upaya mengendalikan konflik melalui strategi militer dan diplomasi selama bertahun-tahun tidak langsung membendung perubahan cepat di lapangan, sementara keputusan yang memperbesar ketegangan justru memunculkan dampak langsung pada stabilitas internal dan rencana transformasi kerajaan.












