jurnalistik.co.id – Ketegangan Timur Tengah kembali mengarah pada kekhawatiran perang lanjutan setelah Iran menyampaikan ancaman penyerangan terhadap sejumlah fasilitas penting di kawasan Teluk. Teheran menyebut serangan balasan dapat dilakukan bila Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan ke wilayahnya.
Ancaman tersebut tidak dibatasi pada sektor minyak dan energi. Iran juga menyebut target mencakup pusat data, jaringan kabel bawah laut, hingga fasilitas yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).
Menurut pemberitaan yang mengutip The Guardian, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa respons Iran dapat menjangkau hingga tujuh negara di kawasan Teluk bila konflik kembali meletus. Peringatan serupa juga disampaikan Mehdi Mohammadi, penasihat Mohammad Ghalibaf, yang disebut pernah terlibat dalam perundingan Iran dengan AS.
Mehdi Mohammadi menekankan bahwa perang berikutnya akan menjadi ancaman besar bagi keberadaan Iran. Dalam kutipan yang sama, ia menyatakan, “Strategi kami adalah tidak ada batasan.”
Di tengah situasi yang memanas antara Iran, AS, dan Israel, kekhawatiran pun mengarah pada potensi konflik yang meluas. Kawasan Teluk juga dikenal sebagai salah satu pusat produksi minyak dan gas terbesar di dunia, sehingga gangguan terhadap infrastruktur dapat berdampak lebih luas daripada negara yang terlibat langsung.
Adu kekuatan militer: Iran vs negara-negara Teluk
Untuk melihat gambaran kekuatan militer, artikel ini merujuk pada Global Firepower Military Strength Ranking 2026. Dalam perhitungan tersebut, Iran masih ditempatkan sebagai salah satu negara dengan kekuatan militer terbesar di Timur Tengah.
Global Firepower menempatkan Iran pada peringkat ke-16 dunia dari total 145 negara yang dinilai pada 2026. Posisi itu bahkan lebih tinggi dibanding seluruh negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Arab Saudi berada di peringkat ke-25 dunia. Irak menempati posisi ke-44, sementara UEA berada di peringkat ke-54. Adapun Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman berada di luar kelompok 70 besar negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia.
Laporan itu menjelaskan penilaian Global Firepower menggunakan lebih dari 60 indikator. Indikator tersebut mencakup jumlah tentara, pesawat militer, tank, kapal perang, anggaran pertahanan, hingga kemampuan logistik untuk memenuhi kebutuhan militer.
Seluruh indikator kemudian dihitung menjadi satu skor yang disebut Power Index (PwrIndx). Dalam sistem ini, semakin kecil skornya, semakin tinggi peringkat kekuatan militer.
Iran memiliki skor PwrIndx 0,3199. Nilai tersebut lebih baik dibanding Arab Saudi yang sebesar 0,4473 dan Irak sebesar 0,8115. Namun, artikel itu juga mengingatkan bahwa peringkat yang lebih tinggi tidak otomatis berarti suatu negara pasti memenangkan perang.
Hasil pertempuran, menurut penilaian semacam ini, dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari strategi dan teknologi persenjataan, kesiapan pasukan, hingga kemungkinan adanya bantuan militer dari negara lain.
Jumlah tentara, pesawat tempur, dan tank
Dari sisi jumlah personel dan persenjataan darat, Iran disebut memiliki keunggulan yang cukup menonjol dibanding beberapa negara Teluk. Global Firepower 2026 memperkirakan Iran memiliki sekitar 610.000 tentara aktif.
Angka tersebut lebih besar dibanding Arab Saudi yang memiliki 247.000 tentara. Irak tercatat memiliki 193.000 tentara aktif, sementara Oman berada pada kisaran 100.000.
Tetapi, perbandingan berubah ketika fokus bergeser ke kekuatan udara. Arab Saudi justru disebut memiliki lebih banyak pesawat militer dibanding Iran. Jumlah pesawat militer Arab Saudi mencapai 917 unit, sedangkan Iran memiliki 551 unit.
Begitu pula pada kategori pesawat tempur. Arab Saudi memiliki 283 pesawat tempur, lebih banyak daripada Iran yang memiliki 188 unit. Dari perbandingan ini, artikel menilai Iran unggul pada jumlah tentara aktif, sedangkan Arab Saudi unggul pada aspek kekuatan udara.
Berita Terkait
Untuk persenjataan tank, Iran kembali menunjukkan keunggulan. Global Firepower mencatat Iran memiliki 2.675 tank, jauh di atas Arab Saudi yang memiliki 1.085 tank dan Irak dengan 1.188 tank.
Namun, ketika mempertimbangkan seluruh negara Teluk, posisi juga tidak seragam di setiap kategori. UEA yang berada di peringkat ke-54 dunia tercatat memiliki 581 pesawat militer, sedikit di atas angka Iran. Qatar memiliki 115 pesawat tempur, meski jumlah tentara aktifnya jauh lebih kecil dibanding Iran.
Artikel juga menyebut jika jumlah pesawat tempur enam negara anggota GCC digabungkan, totalnya mencapai 601 unit. Angka tersebut disebut lebih dari tiga kali lipat dibanding jumlah pesawat tempur Iran.
Meski begitu, penjumlahan persenjataan antarnegara tidak serta-merta berarti seluruh pesawat tempur dapat digunakan secara bersama bila konflik benar-benar terjadi. Logika operasi, koordinasi, dan kesiapan teknis tetap menjadi faktor penentu di medan perang.
Kekuatan laut dan perbedaan anggaran pertahanan
Selain kekuatan darat dan udara, Iran juga disebut memiliki perangkat tempur yang signifikan di laut. Global Firepower mencatat Iran memiliki 109 aset armada laut, termasuk 25 kapal selam.
Selain kapal selam, angka tersebut juga mencakup tujuh kapal fregat dan tiga kapal korvet. Sementara itu, tujuh negara pembanding dalam daftar tersebut tidak memiliki kapal selam yang tercatat pada data Global Firepower 2026.
Kehadiran kapal selam disebut menjadi salah satu keunggulan Iran. Alasannya berkaitan dengan posisi geografis Iran yang berada di tepi Selat Hormuz, wilayah yang dinilai penting untuk pengiriman minyak dan gas dunia.
Namun, kekuatan angkatan laut tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal perang. Artikel menekankan bahwa jenis persenjataan, kemampuan teknologi, serta kesiapan armada juga memegang peran penting.
Di sisi lain, Arab Saudi memiliki keunggulan yang sangat besar dari aspek anggaran militer. Global Firepower memperkirakan anggaran pertahanan Arab Saudi mencapai US$63,99 miliar, hampir tujuh kali lipat dibanding Iran yang sebesar US$9,23 miliar.
UEA juga tercatat memiliki anggaran pertahanan lebih tinggi dari Iran, yaitu US$23,48 miliar. Qatar disebut memiliki anggaran sebesar US$11,95 miliar.
Jika anggaran militer enam negara anggota GCC digabungkan, totalnya mencapai sekitar US$116,77 miliar. Angka itu disebut lebih dari 12 kali lipat dibanding anggaran pertahanan Iran. Perbandingan ini mengindikasikan kemampuan finansial Teluk untuk membeli persenjataan, mengembangkan teknologi militer, serta membiayai kebutuhan pertahanan.
Jika perang benar-benar pecah, apa artinya?
Dengan melihat seluruh perbandingan, Iran disebut memiliki beberapa keunggulan pada aspek tertentu, terutama jumlah tentara aktif, tank, dan kapal selam. Sebaliknya, Arab Saudi dan beberapa negara Teluk lain menunjukkan keunggulan pada anggaran pertahanan serta jumlah pesawat militer.
Artikel juga menyebut jika kekuatan tujuh negara pembanding digabungkan, total tentara aktif mereka mencapai sekitar 728.000 orang. Pada saat yang sama, mereka memiliki 2.519 pesawat militer dan 3.470 tank. Dalam beberapa kategori, jumlah gabungan itu disebut lebih besar dibanding persenjataan Iran.
Meski demikian, artikel menegaskan bahwa angka-angka tersebut tidak otomatis menggambarkan kekuatan militer gabungan yang siap digunakan untuk menghadapi Iran. Setiap negara memiliki kepentingan, strategi, dan kebijakan pertahanan yang berbeda.
Ancaman perang yang dibawa Iran dalam konteks ini juga tidak hanya berbentuk pertempuran antara pasukan di darat atau penggunaan pesawat dan kapal perang. Iran menyebut akan menargetkan fasilitas minyak, pusat data, jaringan kabel bawah laut, dan infrastruktur penting lain di kawasan Teluk.
Jika ancaman itu benar-benar dilakukan, dampaknya berpotensi merambat pada aktivitas ekonomi, pasokan energi, dan kehidupan masyarakat di negara-negara yang terkena serangan. Gangguan pada fasilitas energi maupun jalur pengiriman minyak dari kawasan tersebut juga dapat mendorong kenaikan harga energi serta menambah tekanan terhadap perekonomian global.
Dengan demikian, meskipun Global Firepower menempatkan Iran lebih tinggi dibanding masing-masing negara Teluk dalam peringkat kekuatan militer dunia, kesimpulan tentang siapa yang akan unggul bila perang pecah tidak bisa dibuat secara sederhana hanya dari perbandingan ranking. Apalagi, bila Amerika Serikat dan Israel terlibat langsung, dinamika kekuatan dan strategi di kawasan akan menjadi lebih kompleks.











