jurnalistik.co.id – Romelu Lukaku membuka cerita soal fase terberatnya saat berseragam Napoli. Penyerang Belgia itu menyebut periode terakhirnya di Italia sebagai masa yang paling sulit baginya sebelum resmi melanjutkan karier ke Fenerbahce.
Lukaku meninggalkan Napoli pada musim panas 2026. Setelah itu, ia bergabung dengan Fenerbahce, dan kini menjadi bagian dari klub asal Turkiye tersebut pada musim berikutnya.
Pada tahap awal kiprahnya bersama Fenerbahce, Lukaku juga sudah menjalani pertandingan pertamanya. Pengalaman baru itu menjadi konteks ketika ia kembali menilai apa yang terjadi selama waktunya di Napoli.
Musim pertama yang produktif
Menurut catatan performa Lukaku bersama Napoli, musim pertamanya berjalan jauh lebih baik. Di Serie A musim 2024-2025, ia mampu mencetak 14 gol dan menorehkan 10 assist dari 36 pertandingan.
Angka tersebut menunjukkan peran Lukaku yang cukup menonjol untuk klubnya pada kompetisi domestik. Kontribusinya tidak hanya datang lewat gol, tetapi juga lewat assist yang ikut menghidupkan peluang-peluang tim.
Perubahan besar di musim berikutnya
Namun, musim selanjutnya justru menjadi titik balik yang membuat kondisinya jauh lebih berat. Lukaku merasakan kesulitan pada musim 2025-2026, ketika tampil sebagai penyerang yang tidak lagi menjadi mesin utama seperti sebelumnya.
Pada Serie A 2025-2026, ia hanya bermain dalam lima pertandingan. Dalam rentang tersebut, Lukaku mencetak satu gol, sebuah torehan yang jauh berbeda dibanding musim pertamanya.
Faktor kebugaran turut menjadi pembatas utama penampilannya. Di saat yang seharusnya ia bisa konsisten membangun ritme permainan, masalah kebugaran membuatnya tidak dapat tampil dalam skala yang lebih panjang seperti musim sebelumnya.
Dari keseluruhan masa bersama Napoli, Lukaku mencatatkan 15 gol dan 10 assist dalam 41 penampilan Serie A. Rangkuman itu memperlihatkan perbedaan mencolok antara dua musim yang ia lalui: ketika produktivitasnya tinggi di awal, lalu menurun tajam pada periode berikutnya.
Berita Terkait
Tekanan dari komentar di Italia
Selain kendala yang terjadi di lapangan, Lukaku juga menyebut ada tekanan yang ia rasakan dari lingkungan sekitarnya. Ia menyinggung respons dan komentar yang muncul selama ia menjalani masa di Italia.
Dalam pengakuannya, Lukaku menuturkan bahwa periode itu terasa sangat menyakitkan. Ia mengatakan, “Itu adalah tahun terburuk dalam hidup saya. Mereka mengatakan itu di Italia untuk menyakiti saya,” sebagaimana dikutip dari Mundo Deportivo.
Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana dampak psikologis bisa ikut memperberat beban saat seorang pemain sedang kesulitan. Bagi Lukaku, bukan hanya persoalan performa yang menurun, tetapi juga narasi negatif yang terus menempel pada dirinya selama berada di Italia.
Dengan adanya tekanan semacam itu, ia tampak memosisikan masa terakhirnya sebagai fase yang menuntut mental ekstra. Ia kemudian memandang pengalaman tersebut sebagai bagian dari perjalanan kariernya yang paling buruk.
Bab baru bersama Fenerbahce
Setelah melewati periode yang ia nilai berat di Napoli, Lukaku memilih melangkah ke klub berikutnya, Fenerbahce. Keputusan itu datang setelah ia menyelesaikan masa dengan Napoli pada musim panas 2026.
Di Fenerbahce, Lukaku berusaha memulai kembali dengan harapan bisa menemukan ritme dan lingkungan yang lebih mendukung. Ia menyatakan adanya keinginan agar kepindahan ini menjadi titik awal baru.
Usia Lukaku saat ini adalah 33 tahun, dan pengalaman panjang di level tertinggi membuatnya mengetahui pentingnya transisi yang tepat. Karena itu, pertandingan pertamanya bersama Fenerbahce menjadi langkah awal yang ia jalani untuk membangun fase baru setelah merampungkan tantangan di Italia.
Dengan latar belakang performa yang sempat tinggi di musim pertamanya bersama Napoli, lalu menurun karena kebugaran dan tekanan, perjalanan Lukaku kini beralih arah. Ia membawa bekal dari dua musim yang sangat kontras, sembari berharap fase berikutnya bisa lebih stabil.
Pengakuan Lukaku tentang “tahun terburuk” itu menegaskan bahwa sepak bola tidak hanya soal angka di papan statistik. Ada dimensi psikologis dan situasional yang bisa memengaruhi cara pemain bertahan, beradaptasi, dan akhirnya memilih jalan karier yang baru.
Kini, setelah bersiap meninggalkan Napoli dan memulai petualangan bersama Fenerbahce, Lukaku akan diuji bagaimana ia merespons babak baru itu. Baginya, setelah musim yang sulit dan tekanan yang dirasakan selama di Italia, langkah ke Turkiye diharapkan bisa membawa perubahan nyata.












